Ketik disini

Metropolis

Pudarnya Pesona Pramuka

Bagikan

Dulu pramuka berjaya. Kini, kabarnya pramuka kesulitan meregenerasi kader! Benarkah?

***

TEPUK Pramuka! adakah yang masih ingat? Cobalah bereksperimen. Pada anak-anak usia sekolah SD sampai SMA di sekitar. Berapa anak yang tahu bagaimana tepuk pramuka? Sekalipun ini, gerakan tepuk tangan kekompakan yang paling dasar dan mudah diingat ini.

Jangan tanyakan apa-apa saja lagu Pramuka. Pikiran mereka bisa berderit-derit bingung. Lantas cobalah menyimpulkan sendiri. Sampai kapan organisasi yang khas dengan tunas kelapa ini bisa bertahan?

Lombok Post lalu mencoba mengambil sampel. Dengan mendatangi salah satu SMA favorit di Kota Mataram. Sekolah yang diyakini, punya kesadaran sangat baik tentang pentingnya pelajaran di luar pelajaran sekolah. Artinya, lembaga pendidika ini dipastikan punya perhatian serius untuk mendorong siswa aktif berkegiatan luar jam sekolah.

“Pramuka di sini sempat fakum selama delapan tahun,” Kata Nabila Infas Fatini, dia menjabat sebagai Pradana Putri. Semacam ketua, tetapi untuk anggota putri.

Penyebab kefakuman, tidak lepas dari minat para siswa dan siswi mengikuti ekstrakurikuler atau lebih akrab disebut eskul ini. Sampai akhirnya lahirlah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permen Dikbud) nomor 63 tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pudarnya pesona organisasi Pramuka tidak lepas dari pesatnya teknologi saat ini. Banyak siswa yang menilai Pramuka sebagai eskul tua dan ketinggalan zaman. Siswa saat ini lebih banyak memilih eskul yang bersifat kekinian dan populer. Semisal seni musik, basket, bahkan eskul yang mengarah ke scientific. Seperti tim robotika, programmer dan sejenisnya.

“Setelah ada peraturan menteri itu, baru pramuka mulai ada anggotanya,” sambungnya.

Nabila menuturkan tidak mudah untuk menarik minat siswa lain bergabung dalam eskul Pramuka. Apalagi jika sudah berbenturan dengan kegiatan di luar sekolah seperti les, bimbingan belajar, kelas privat dan sejumlah kegiatan lain untuk peningkatan nilai akademik siswa.

Belum lagi siswa yang memang apatis pada kegiatan organisasi yang jumlahnya juga tidak sedikit. Kehidupan di kota dengan ragam aktivitas yang sangat tinggi, juga menjadi variabel lain Pramuka kian enggan dilirik.

Kaderisasi pun semakin sulit. Lahirnya Permen Dikbud juga tidak banyak menolong organisasi ini. Banyak siswa yang hanya ikut-ikutan hanya karena ingin menggugurkan kewajiban.

“Ada sistem blok namanya, selama satu minggu adik-adik kelas 10 dikenalkan, apa itu Pramuka,” ujarnya.

Setelah kegiatan yang lebih mirip seperti masa orientasi itu, memberi pilihan bebas pada siswa-siswi. Mau bergabung atau tidak. Hasilnya, ada yang hanya setor nama tanpa pernah aktif berkegiatan, ada yang kesulitan membagi waktu, di padatnya jadwal mereka, ada pula yang tergolong militan. Hanya saja, jumlah mereka sangat sedikit.

“Kalau ada kegiatan kemah atau kegiatan di luar, baru pada ramai ikut. Tapi untuk pendidikan keorganisasian dan peran serta di masyarakat, susah sekali. Ada yang les, bimbel dan lain-lain,” terangnya.

Senada dengan Nabila, Ketua Pramuka SMAN 1 Mataram Helvino Zaydar Aktarakha juga menuturkan kesulitan serupa. Siswa kelas 11 ini mengungkapkan, dari data keanggotaan, tercatat ada 50 siswa yang ikut di Pramuka. Tetapi yang aktif bisa dihitung jari.

“Kalau ada kegiatan lomba LKBB dan lain-lain baru ramai. Bisa sampai 20 yang hadir,” ungkap Vino.

Tetapi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah ini patut disyukuri. Yang perlu ditingkatkan saat ini, menurutnya terkait program kegiatan. Bagaimana agar Pramuka bisa mengakomodir kemajuan zaman saat ini. Sehingga para siswa yang bergabung tidak merasa sia-sia mengikuti kegiatan kepramukaan.

Namun, persoalannya saat ini, siswa cukup kritis dengan organisasi. Ia mencontohkan di tengah kemajuan zaman seperti saat ini, peran sandi morse mungkin tidak seluas di saat tekologi informasi belum berkembang pesat waktu itu. Jadi fungsinya masih bisa dirasakan. Tetapi saat ini di tengah alat komunikasi jarak jauh seperti handphone berkembang pesat, rasa-rasanya banyak yang enggan mempelajari ini.

“Padahal sandi ini bisa digunakan pada saat darurat, semisal di hutan dimana sinyal tidak ada,” tuturnya.

Begitu juga halnya pelajaran tali-temali, membuat tenda, cara bertahan hidup di alam bebas dan berbagai pelajaran life skill lain. Ini kerap dikritisi, karena diyakini tidak akan memiliki manfaat besar di tengah kemajuan teknologi saat ini.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Mataram Burhanuddin bercerita sebenarnya dukungan sekolah tidak kurang-kurangnya pada eskul ini. Dari 34 eskul di SMAN 1 Mataram, masing-masing di beri dana platform sekitar Rp 20 juta untuk menunjang berbagai kegiatan mereka.

“Tapi khusus untuk Pramuka, mungkin banyak yang bingung ilmu yang didapat di organisasi di kesehariannya mau digunakan untuk apa,” kata Burhan.

Karena itu, ia pun setuju jika memungkinkan materi-materi di kepramukaan disesuaikan dengan kondisi kekinian. Pelajaran-pelajaran dasar yang erat dengan gerak motorik anak, cukup di pelajari di saat mereka masih duduk di bangku SD dan SMP atau dalam istilah pramuka di kategorikan sebagai pramuka Siaga dan Penegak.

Sementara di SMA atau tingkat kecakapan Penegak, sesuai dengan fungsinya sudah pada pendalaman materi yang disukai. Di sinilah, inovasi perlu dikembangkan. Ada istilah Saka atau Satuan Karya, perlu diperkaya. Tidak hanya dengan materi yang ada saat ini, tetapi merambah ke bidang seni dan teknologi.

“Tetapi memang persoalannya, eskul seni dan teknologi sudah ada,” ujarnya.

Inilah yang perlu dirumuskan. Sehingga pramuka, juga bisa mengakomodir cakupan saka yang lebih luas. Tidak hanya mencakup yang sudah ada saat ini.

“Tapi yang paling penting adalah sosialisasi,” sambungnya.

Kenyataanya, banyak anak yang tidak paham apa itu Pramuka. Termasuk jenjang pendalaman kecakapan di dalamnya. Tidak sedikit anak didik yang menilai Pramuka hanya wadah untuk mempelajari teknik-teknik konservatif. Seperti tali-temali, buat tenda dan baris berbaris. Wajar jika akhirnya, mereka beranggapan Pramuka adalah organisasi ketinggalan zaman.

“Jika regenerasi di bina secara baik. Dari SD lalu SMP, saya yakin mereka yang sudah mengenal apa itu Pramuka, akan mencari lagi organisasi ini setelah masuk SMA,” ujarnya.

Burhan melihat ada mata rantai yang putus. Sejak anak-anak belajar Pramuka di tingkat Siaga dan Penggalang. Padahal jika anak-anak sudah dibiasakan sejak dini dan merasakan manfaat ilmu Pramuka, kencendrungan mereka ikut organisasi yang sama semakin besar. setelah mereka menempuh jenjang yang lebih tinggi. Hingga jenjang kecakapan di atas penegak yakni Pandega.

“Saya rasa ini yang membuat minat anak-anak masuk Pramuka sudah kurang,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Bumi Perkemahan Jakamandala Alfi Halibyanto tak menepis jika pesona Pramuka pernah luntur, beberapa waktu lalu. Namun, seiring dengan lahirnya berbagai kebijakan pemerintah mendorong semangat siswa ikut Pramuka, grafik kegiatan kepramukaan khususnya di bumi perkemahan Jakamandala mulai ada peningkatan.

“Setiap minggu ada saja kegiatan anak-anak di sini,” kata Alfi.

Alfi juga menaruh perhatian besar pada minat siswa mengikuti kegiatan kepramukaan. Dari 11 Saka yang ada di Kota Mataram, memang belum maksimal mengerek keaktifan anggota untuk berkegiatan. Padahal, terdata sebanyak 22.700 lebih anggota Pramuka se NTB. Namun hanya beberapa persen saja yang aktif berkegiatan.

“Makanya untuk menggairahkan minat, sebenarnya sudah dilakukan modifikasi kurikulum ke pramukaan,” terangnya.

Kegiatan-kegiatan pun lebih banyak praktik. Sementara teori-teori diberkan saat mereka di lapangan. Ia mencontohkan seperti di Saka Bahari, para anggotanya bahkan ada yang diajak keliling nusantara menggunakan kapal perang. Semata-mata untuk lebih memberikan pengalaman ke anggota.

“Selama satu bulan mereka berkeliling di perairan nusantara, ini tentu pengalaman yang sangat menyenangkan bagi siswa-siswi,” ujarnya.

Alfi yakin dengan adanya modifikasi kurikulum peminat Pramuka akan semakin banyak. Apalagi jika ada penekanan pada kegiatan-kegiatan di lapangan dari pada di meja belajar. Ia mencontohkan pada saat kegitan kemah, outbond dan sejenisnya, jumlah anggota Pramuka selalu lebih besar.

“Tapi yang lebih penting juga tentu perhatian kepala daerah sebagai Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka,” ujarnya.

Menariknya, tingkat partisipasi dan kegiatan Pramuka Kota Mataram, menurut Alfi ada pada nomor 5. Pada posisi pertama, yakni Lombok Timur. Menyusul, Lombok Barat, Sumbawa, Lombok Tengah, baru Kota Mataram.

“Di bawahnya ada Kota Bima, lalu KSB (Kabupaten Sumbawa Barat),” bebernya.

Artinya, rendahnya minat siswa di Kota Mataram pada kegiatan pramuka, tidak lepas dari kurangnya perhatian pemerintah juga pada kegiatan ini. Karena itu, keterlibatan semua elemen, tidak hanya dari pelajar tetapi juga pemerintah daerah, sangat penting untuk kembali menggairahkan anak-anak ikut organisasi ini. (zad/3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka