Ketik disini

Feature

Pasien Diajak Bersenang-senang sambil Minum Wedang Uwuh

Bagikan

Pendekatan holistik di dunia kesehatan bukan barang baru lagi. Tapi, memang belum banyak yang mempraktikkan. Dari yang sedikit itu, Klinik Eny di Bantul, Jogjakarta, merupakan salah satu yang tergolong unik dan menarik. Sejumlah negara akan menirunya.

***

“JOGJA… Jogja… Tetap istimewa… Istimewa negerinya, istimewa orangnya…” Alunan lagu milik Jogja Hiphop Foundation itu langsung menggelitik telinga begitu memasuki kompleks Klinik Eny di Jalan Mojosari Raya, Baturetno, Banguntapan, Bantul, Jogjakarta. Klinik yang begitu khas dengan nuansa Jawa, mulai bangunan yang bergaya joglo hingga musik gamelan yang selalu mengalun di sudut ruangannya.

Seolah terhipnotis, rombongan Joint Learning Network (JLN) dari Malaysia, Vietnam, India, Amerika Serikat, Ghana, dan beberapa negara lain yang mengunjungi klinik itu Kamis lalu (2/3) seketika bergerak menuju sumber suara. JLN adalah global community yang terdiri atas praktisi dan pembuat kebijakan yang beranggota 27 negara. Komunitas itu dibentuk untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan guna mengembangkan sistem maupun sumber daya agar mampu menjawab tantangan praktis reformasi sistem kesehatan untuk mencapai universal health coverage (UHC). Selama beberapa hari JLN mengadakan pertemuan tahunan di Jogja. Juga, agenda kunjungan ke Klinik Eny itu merupakan rangkaian kegiatan mereka.

Senyum para delegasi langsung mengembang begitu sampai di pelataran belakang klinik pengobatan milik dr Eny Iskawati tersebut. Bukan aksi nyanyi Marzuki Mohamad alias Kill the DJ, pentolan Jogja Hiphop Foundation, di atas panggung yang membuat mata rombongan berbinar-binar. Melainkan aksi 40 orang lanjut usia (lansia) yang sedang melenggangkan gerakan senam Jogja Istimewa. Maklum, pemandangan itu hal baru bagi delegasi JLN.

Di depan tamunya, para lansia bergantian unjuk gigi. Seusai lansia perempuan tampil, langsung lansia pria tak mau kalah. Mereka memperlihatkan keluwesan melakukan gerakan lontang. Seperti orang menari, jari tangan mereka ngrayung sambil digerakkan ke depan dan belakang. Maju mundur. Aksi itu ditutup dengan gerakan pijat-pijatan. Bergantian.

Melihat itu, perwakilan dari Ghana Dr Koku Awoonor-Williams tak mau tinggal diam. Dia langsung menyelinap dalam barisan. ”Wow, this is nice,” ujarnya sambil merem melek karena mendapat pijatan dari belakang. Seolah begitu menikmati pijatan di pundaknya.

Yang menarik, para lansia itu bukan grup tari yang ditanggap dr Eny. Mereka adalah pasien Klinik Eny yang tergabung dalam Paguyuban Husada Mulia. Hampir semua pasien tersebut mengidap penyakit kronis. Antara lain kencing manis (diabetes), hipertensi, dan stroke. Secara keseluruhan, Klinik Eny memiliki pasien ”tetap” 358 orang untuk diabetes dan 58 orang untuk hipertensi.

Klinik Eny berdiri pada 18 Juli 2007. Mulai bekerja sama dengan BPJS Kesehatan pada 2011. Setiap hari sekitar 90 pasien dilayani di klinik tersebut. Jumlah itu terbilang besar. Sebab, pasien yang datang bukan hanya warga sekitar Bantul dan Jogja. Tapi juga warga Sleman dan daerah lain.

Pengobatan di Klinik Eny memang agak berbeda dengan klinik-klinik pengobatan lain. Pengobatannya tak melulu sebatas pasien datang, diperiksa, diberi obat, pulang, lalu kembali saat obat habis atau penyakit kambuh. Itu tak cukup. Dokter Eny merasa bahwa kesehatan pasiennya harus terus dikontrol. Misalnya, pasien harus menerapkan pola hidup sehat agar tidak terjadi komplikasi dari penyakit yang diderita.

”Penyakit diabetes dan hipertensi kan memang tidak bisa sembuh 100 persen. Tapi bisa dikendalikan. Ini yang kami kejar,” ungkap ibu dua anak itu.

Eny bercerita, awalnya cukup sulit untuk mengubah kebiasaan para pasiennya. Apalagi, mereka bukan anak-anak lagi yang bisa dipaksa untuk berolahraga. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu harus berjuang mendekati para pasiennya.

Mengusung konsep religi dan budaya, perempuan berkerudung itu sukses mengambil hati pasien-pasiennya. Dalam pendekatan religi, Eny merangkul seluruh agama yang ada. Mulai Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, hingga Khonghucu. Di klinik berukuran sekitar 5 x 6 meter tersebut, Eny juga menyediakan buku-buku tentang kesehatan dari sudut pandang berbagai agama.

Sementara itu, unsur budaya disisipkan, mulai gaya bangunan klinik yang berbentuk joglo hingga suara musik gamelan yang dijadikan backsound klinik. Biasanya yang diputar gending-gending Jawa populer seperti gending Kodok Ngorek yang biasa dilantunkan dalam acara perkawinan ala Jawa.

’’Ini membuat suasana jadi rileks. Banyak dari mereka (pasien) yang tiba-tiba mengaku sudah enak. Katanya habis ketiduran nunggu antrean sambil mendengarkan gending-gending. Begitu diperiksa, pasien mengaku sudah mendingan,” tutur Eny, kemudian tersenyum.

Eny juga mempelajari beberapa bahasa daerah. Salah satunya bahasa Madura. Menurut dia, menguasai bahasa daerah itu penting sebagai alat komunikasi. Apalagi, pasiennya datang dari berbagai etnis.

’’Ini agar komunikasi kami bisa berjalan baik. Paling tidak, pasien juga senang kalau kita bisa menimpali obrolan dengan bahasa ibu mereka. Meski tidak terlalu mahir,” ungkapnya.

Dibutuhkan waktu hingga setahun hingga akhirnya pada 2012 Prolanis Husada Mulia akhirnya resmi berjalan. Tapi, lagi-lagi, jadwal kunjungan untuk bisa melakukan olahraga bersama dan menjalani cek kesehatan tidak dipatuhi. Jumlah pasien prolanis yang datang bisa dihitung jari. Apalagi bila musim hujan, tidak bisa berharap banyak mereka mau datang.

Pantang menyerah, Eny kembali putar otak. Dia berusaha mencari cara agar pasiennya mau sregep (rajin). Dia lalu memutuskan melakukan home visit (kunjungan ke rumah pasien). Dengan begitu, dia bisa tahu persoalan pasien di rumah.

Setelah itu, Eny berinisiatif membuat grup WhatsApp. Cara tersebut menjadi sarana untuk mengingatkan jadwal senam setiap Sabtu sore, edukasi prolanis sebulan sekali, pemeriksaan pap smear 3 bulan sekali (bagi perempuan), dan pemeriksaan tulang 3 bulan sekali. Tak lupa, Klinik Eny juga menyiapkan minuman jamu-jamuan, mulai wedang jahe, wedang uwuh, beras kencur, kunir asam, wedang secang, yang bisa diminum pasien saat pertemuan.

Kadang, Eny yang dibantu rekannya, dr Lilis Siti A. dan dr K. Sakti, mengganti suasana dengan mementaskan pertunjukan wayang. Limbuk-Bagong jadi tokoh andalan. Dia mengubah alur cerita jadi berbau kesehatan. Memasukkan penyakit-penyakit yang diderita kebanyakan pasiennya dan cara hidup sehat agar penyakit tak mudah kambuh dalam ceritanya.

’’Caranya, biar cepat masuk, kita jangan menggurui. Itu kuncinya,” tegasnya.

Jerih payah Eny mulai membuahkan hasil. Sugeng, 65, salah seorang pasiennya, kini mengaku jauh lebih sehat. Pria yang menderita diabetes dan hipertensi itu merasa kondisi badannya semakin baik setelah aktif berkegiatan di Klinik Eny. Dahulu dia hanya sibuk mengonsumsi obat-obatan untuk meredam penyakit.

’’Baru 2008 saya tahu kena diabetes dan hipertensi. Ya, minum obat, ke dokter. Tapi, setelah ikut ini (aktivitas di Klinik Eny) jadi lebih enak. Semangat juga,” tutur bapak tiga anak itu.

Cara Eny merangkul dan melayani pasien tersebut sempat membuat rombongan JLN terkagum-kagum. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh mereka terkait terobosan itu. Salah satunya dari perwakilan Vietnam, Tham Chi Dung, yang penasaran dari mana biaya untuk bisa mengakomodasi semua itu.

Eny menuturkan, biaya seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan melalui sistem kapitasi. Dia mendapat kapitasi Rp 10 ribu dikalikan dengan jumlah pasien jaminan kesehatan nasional (JKN) yang dia tangani. Saat ini ada 5.167 pasien JKN yang ditangani kliniknya. Dana tersebut dimaksimalkan untuk pelayanan dan operasional klinik. Selain dua dokter umum dan satu dokter gigi, klinik memiliki 1 laboran, 2 apoteker, dan 3 perawat.

’’Di tempat kami belum ada kapitasi untuk swasta. Mungkin kami akan belajar dari sini,” ujar Tham Chi Dung antusias. (ZALZILATUL HIKMIA, Jogjakarta /c11/c10/ari/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka