Ketik disini

Metropolis

TGB: Anggota PMI Tidak Boleh Gaptek

Bagikan

MATARAMA�– Di era keterbukaan informasi saat ini, Palang Merah Indonesia (PMI) dituntut berbenah. Tidak boleh gagap teknologi (gaptek), atau terpaku pada pola konvensional untuk mencari pendonor. Kamajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat sebagai relawan. Hal itu terungkap dalam pertemuan, pengurus PMI NTB dengan Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi di ruang kerja Gubernur NTB, kemarin (6/3).

Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi berharap, PMI dapat terus berkembang. Titik ukur perkembangan ini tentu tidak semata dilihat dari ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana kantor. Tapi beragamnya program aksi yang bermanfaat dan dirasakan oleh masyarakat.

Apalagi di era media dan keterbukaan informasi, menuntut lembaga harus terus berkomunikasi dengan masyarakat untuk meningkatkan pengabdian. a�?Ini bisa jadi peluang PMI untuk memberi pelayanan yang berbasis pada e-komunikasi,a�? sarannya.

PMI bisa memanfaatkan media komunikasi untuk menjaring pendonor baru. PMI bisa bekerja sama dengan salah satu provider misalnya.

Karena mereka memegang otoritas untuk bisa memberikan layanan ke masyarakat. Menurut TGB cara itu dapat membuat PMI semakin terasa kehadirannya. a�?Saya berharap berikutnya PMI perlu menciptakan kader-kader yang seterusnya dapat menjadi kader PMI,a�? katanya.

Jadi, ada keberlanjutan dari SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi, sehingga generasi mudah punya keterikatan ikut dalam PMI. Untuk itu, PMI harus mengoptimalkan upaya sosialisasi diantaranya dengan berkunjung ke sekolah-sekolah, agar PMI semakin dekat dengan masyarakat.

Sementara itu, Ketua PMI NTB H. Hidwan Hidayat dalam pertemuan mengatakan, PMI sudah mulai beraktivitas mengerahkan relawannya se-NTB. Sekitar 175 orang untuk membantu musibah di Bima, Sembalun dan Sumbawa Barat.

PMI juga memberi bantuan pelayanan kesehatan termasuk alat dapur, family kit, baby kit dan tangki air bersih. PMI Juga rutin memberi pembinaan kepada korps sukarela di universitas, tenaga sukarela, termasuk kepada anggota Palang Merah Remaja.

Sesuai data PMI NTB, setidaknya ada 35 ribu orang yang telah diberi pelatihan.

Untuk donor darah, unit transfusi darah (UTD) NTB menyediakan 3.500 kantong. Demi menggalakkan desa siaga, masyarakat di tingkat desa didorong membentuk kelompok pendonor yang nantinya diarahkan untuk rutin mendonorkan darahnya. Contohnya, Desa Bajur yang sudah punya MoU dengan UTD.

Sehingga setiap ada yang ingin mendonor atau butuh darah dapat langsung memperoleh pelayanan UTD. Sementara untuk mengatasi kekurangan pendonor, PMI terus aktif melakukan upaya sosialisasi di berbagai lini. (ili/r7)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka