Ketik disini

Metropolis

Dari Uang sampai Rumah Dibakar untuk Bekal Roh

Bagikan

Keluarga besar Yo Siu Kim berdatangan memberi penghormatan dan doa terakhir. Wanita keturunan Tionghoa itu, meninggal dalam usia 83 tahun. Seperti apa suasana berkabung di sana? Berikut laporannya.

***

HARI itu, kami kurang beruntung. Atok, pria yang kerap ditunjuk sebagai pengurus mayat masyarakat etnis Tionghoa, sedang tidak di tempat. Praktis, cerita tradisi pemakaman Tionghoa hanya kulit-kulitnya saja bisa dinarasikan. Sementara, filosofi kematian itu sendiri, tidak bisa digambarkan di sini.

Untungnya, ada Pak Frendy Suminto. Pria yang akrab dipanggil pak Min ini mau berbagi cerita. Walau cuma sedikit dan sekilas. Alasannya, ia takut salah bercerita. Yang dibagi pun apa yang benar-benar dia tahu saja.

Tapi syukurlah, setidaknya ceritanya akan membuat tulisan ini tidak kering akan fakta dan informasi. “Sebenarnya ibu tua itu (menunjuk wanita lansia), paham filosofi tentang kematian. Tetapi sayang pendengaran beliau sudah berkurang. Anda bisa kesulitan berbincang dengan dia,a�? kata Min.

Yah, dari pada kosong sama sekali. Min dan penjaga rumah duka yakni Muhammad Yunus yang seorang muslim, berkenan mengajak Koran ini melihat-lihat lebih dekat dan dalam.

a�?Tidak apa-apa. Kalau mau ambil foto juga silakan,a�? kata Yunus menimpali.

Sempat ragu. Tetapi, akhirnya memberanikan diri juga. Sengaja berjalan berputar, biar biasa mendapat angle foto yang lebih bagus.

Tapi baru saja melangkah beberapa pijak, seseorang mengucap salam pada wanita yang tengah menyiapkan makanan. a�?Assalamualaikum,a�? ujarnya.

Serrr! Rasa heran, menggelayuti hati dan fikiran. Mereka paham dan bisa membedakan dengan baik. Mana urusan agama dan mana tradisi.

Salam ala muslim itu, tidak membuat seisi ruangan ketar-ketir atau berubah hiruk-pikuk. Mereka tetap santai. Beberapa anggota keluarga Tionghoa tetap khusyuk memanjatkan doa pada jenazah.

Sementara, beberapa pelayat lain tetap asyik ngobrol dengan rekan duduknya. Di meja duka yang telah disiapkan.

Beberapa wanita muslim tampak ikut hadir dalam acara itu. Mereka adalah sahabat almarhum Yo Siu Kim yang memiliki nama Indonesia : Yulianti. Kedatangan mereka, untuk memberi penghormatan terakhir pada wanita yang dikenal sangat baik itu.

“Jadi tidak hanya keluarga Tionghoa. Tetapi ada keluarga di luar bahkan beragama Islam juga datang ke sini,a�? ujar Min, seperti menjawab rasa penasaran di hati.

Hanya saja, memang mereka tidak melakukan upacara penghormatan seperti tradisi Tionghoa lainnya. Para muslimah itu hanya a�?menjenguka�� sebentar. Melihat wajah Yulianti untuk terakhir kalinya. Lalu memberi ruang bagi pengunjung lain, melakukan hal yang sama.

“Pemakaman akan dilakukan pada hari ganjil (setelah dia meninggal),a�? ujar Yunus.

Peti mayat, tidak akan ditutup. Sampai semua keluarga yang ingin melihat jasad Yulianti tuntas datang. Sebab, kata Min jika peti sudah ditutup, maka tidak ada alasan apapun, membuka kembali. Mau siapapun yang datang. Termasuk dari pejabat teras sekalipun.

Sekali peti mati di tutup, maka tidak boleh di buka lagi. “Makanya, sebelum di makamkan para keluarga ditanya bisa datang atau tidak. Peti tidak akan ditutup sampai semua datang, Mau tiga atau lima hari lagi tidak masalah,a�? terangnya.

Penguburan di dalam tradisi masyarakat Tionghoa memang masalah yang sangat serius. Konon, pemakaman yang tidak benar diyakini dapat menyebabkan nasib buruk bagi keluarga yang meninggal. Karena itulah, jelang pemakanam Yulianti misalnya, semua hal terbaik akan diupayakan keluarga.

Pada dasarnya, masyarakat Tionghoa mempecayai perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan. Begitu juga sebaliknya, perbuatan buruk akan mendatangkan petaka.

Karena itu, apa yang dilakukan selama hidup, akan dialami juga di alam akhirat. Mereka pun pecaya, kehidupan akhirat jauh lebih berkualitas. “Di sini juga nanti ada bakar uang kertas perak (sebagai uang akhirat) dan rumah-rumahan,a�? tuturnya.

Pembakaran uang kertas ini, sebagai perlambangan untuk biaya perjalanan roh ke akhirat. Pembakaran uang kertas juga tetap didampingi dengan doa-doa yang baik.

Di beberapa literatur tentang pemakaman mayat tradisi Tionghoa dijelaskan, jasad mayat akan dimandikan dan dibersihkan terlebih dahulu. Lalu nantinya diberi tujuh lapisan kain.

Lapisan pertama adalah pakaian putih sewaktu ia menjalani pernikahan. Selanjutnya pakaian yang lain sebanyak enam lapis. Setelah itu, kedua mata, lubang hidung, mulut, telinga, diberi mutiara. Ini diharapkan sebagai penerang untuk berjalan ke alam lain.

“Nantinya lampion itu (menunjuk lampion yang digantung) juga harus di bawa keluarga, sebagai penuntun perjalanannya,a�? sambung Min.

Min mengatakan, sebenarnya proses pengurusan jenazah di dalam tradisi Tionghoa sangat rumit. Ada orang yang memang mempelajari secara khusus, bagaimana jenazah itu harus diperlakukan.

“Begitu juga ikat kepala dan kekojong yang digunakan perempuan itu, juga punya makna sendiri,a�? ujarnya.

Seluruh keluarga harus menggunakan pakaian tertentu. Anak laki-laki harus memakai pakaian dari blacu yang dibalik dan diberi karung goni. Kepala diikat dengan sehelai kain blacu yang diberi potongan goni.

Demikian pula pakaian yang dipakai oleh anak perempuan. Namun ditambah dengan kekojong berbentuk kerucut untuk menutupi kepala.

Cucu hanya memakai blacu. Sedangkan keturunan ke empat memakai pakaian berwarna biru. Keturunan ke lima dan seterusnya memakai pakaian merah sebagai tanda sudah boleh lepas dari berkabung.

a�?Tangisan sebagai bentuk duka cita yang amat dalam dan sebagai uhaouw (tanda bakti),a�? ujarnya.

Tradisi pemakaman masyarakat Tionghoa memang sangat kompleks. Apa yang dipaparkan ini hanya sebagian kecil dari proses panjang pemakaman di dalam tradisi Tionghoa.

Filosofinya sangat mendalam dan hanya bisa dipahami di bawah penjelasan Hweeshio atau Cayma. Namun semoga tulisan ini, dapat memperkaya khazanah pemahaman budaya yang ada di Indonesia.

a�?Juga membangun semangat toleransi kita pada kepercayaan dan tradisi lain,a�? tutup Min. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka