Ketik disini

Metropolis

Bhuugh…! Rahang Dihantam Kaki Kuda

Bagikan

Pendapatan? Lumayan. Tetapi pekerjaan ini tak banyak yang meminati. Sebab risiko keselamatan jadi taruhannya. Kok Bisa? Berikut laporannya.

***

SIANG yang sangat terik. Punggung jalan raya melepuh, dihiasi bayang-bayang fatamorgana. Beberapa tukang ojek memilih menepi. Menarik nafas dalam-dalam, sembari menghirup kopi hitam yang masih tinggal setengah.

Asap mengepul nikmat di antara suara berantakan, sayup-sayup pengunjung pasar Kebon Roeq, Ampenan Utara.

Pria berbadan tanggung, berjalan mendekati. Jepretan kamera, sempat membuat alisnya mengkerut naik. Nama pria itu, Muhammad Sohri. Pemilik kotak ladam atau tapal kuda. Ada pula yang menyebut sepatu kuda.

“Gimana pak?” tanya Sohri penasaran.

Wajah pria itu masih terlihat segar. Ia baru saja usai makan siang dan salat dzuhur. Sementara kotak ladam ia tinggalkan begitu saja didekat motornya yang terparkir.

Memang, siapa sih yang tertarik mencuri barang seperti itu. Beda kalau dengan sengaja, meninggalkan segepok uang. Bisa-bisa, raib seketika!

Tapi tahukah, deretan ladam yang terbuat dari besi dan ban mobil itu, hasilnya cukup menjanjikan. Empat ladam untuk empat kaki kuda, dihargai Rp 20 ribu. Sementara ladam dari ban Rp 15 ribu.

Bisa dihitung keuntungan yang didapat Sohri, jika untuk 40 ladam saja, ia bisa membeli dengan harga Rp 80 ribu di jasa jasa pengolahan besi, kawasan Getap. “Lebih untung lagi, kalau pakai ladam ban. Bahannya gratis, cuma dari ban luar saja,” ujarnya.

Keuntungan yang bisa didapat dengan modal Rp 80 ribu, yakni Rp 120 ribu. Belum lagi, kalau pemilik cidomo, minta kudanya hanya dipasangkan ladam ban. Tentu, semua keuntungan bersih, masuk ke kantongnya. “Ya, kalau lagi sepi, antara 50-60 ribu,” tuturnya.

Tetapi itu saat sepi. Saat ramai, Sohri bisa mengantongi Rp 100-120 ribu bahkan lebih. Ia juga diuntungkan situasi. Hanya dirinya yang bekerja sebagai pemasang ladam di pasar Kebon Roek. Praktis para pemilik cidomo yang parkir di sana, meminta jasanya untuk memasang ladam.

“Makanya saya lebih suka kerja ini, dari pada nambang (narik penumpang, Red),” jawab ayah dua anak ini.

Hasil yang lebih baik, membuatnya cukup senang menggeluti pekerjaan ini. Dibanding narik cidomo. Pendapatan ini memang tidak seberapa. Sohri sendiri mengaku punya dua ekor kuda dan satu gerobak. Tapi ia tidak pernah menggunakan untuk mencari nafkah.

Sohri mengaku mulai menggeluti pekerjaan pasang ladam sejak lulus SD. Dari penghasilan pekerjaan ini, Sohri bisa menikah dua kali. “Soalnya (istri) yang pertama, kabur,” cetusnya.

Tapi jangan dikira, pekerjaan memasang ladam gampang. Pria asal Guntur Macan, Lombok Barat ini lalu menunjukan, lengannya yang codet sana-sini, akibat sabetan ladam dan paku di kaki kuda. Dari ujung jari sampai siku penuh dengan luka.

“Ini bahkan baru kemarin sembuh. Sebelumnya, bengkak dan bernanah,” tuturnya, menunjuk jari kanannya yang sudah mulai mengering lukanya.

Tidak hanya di tangan, bahkan di dada, sampai rahangnya pernah di hantam kaki kuda dengan telak. Syukurnya, ia tidak pernah sampai pingsan. Tetapi, beberapa kali hentakan kaki kuda yang tiba-tiba menyambar rahangnya membuat pandangannya berkunang-kunang dan pusing.

“Bhuugh…! Rahang saya dihantam kaki kuda,” tuturnya, sembari mencontohkan dengan tangan kanannya yang membentuk bogem ke arah pipinya.

Tapi karena itu pekerjaan yang paling menjanjikan dan satu-satunya yang bisa digeluti selain tarik cidomo, Sohri mengaku tetap betah.

Selain itu, ia mengaku mengerjakan pekerjaan ini dari hati. Karena, sejak kecil sering bermain dengan kuda milik ayahnya, Sohri mengaku sangat bisa memahami derita yang dialami kuda jika tidak pakai sepatu.

“Kalau tidak pakai sepatu, di kupak (kaki, Red) kuda itu nanti menggumpal darah dan nanah, kasihan dia bisa kesakitan,” terangnya.

Efeknya, kuda bisa jadi enggan makan. Tetapi sering buang kotoran. Kuda juga cendrung memilih berbaring. Jika dipaksakan untuk bangun, ia akan meringkik kesakitan.

Menurutnya, aspal memiliki kontur yang tajam. Itulah mengapa, jika kuda tidak pakai ladam, bagian kakinya yang keras akan cepat aus.

“Sebenarnya ladam yang bagus digunakan kuda adalah ladam karet (dari ban). Selain, memudahkannya untuk cepat berhenti, kuda juga lebih enak saat menapak,” terangnya.

Tapi persoalannya, ladam karet cepat rusak. Selain itu, jika turun hujan, air di karet mengendap di sela-sela kaki dan tapal. Itu lambat laun akan membuat kaki kuda lebih lunak dan cepat berjamur.

“Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tapal besi juga kalau pemasangannya tidak benar, sekali jalan, besinya bisa patah,” tandasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka