Ketik disini

Metropolis

Harga Gabah a�?Terjun Bebasa�?

Bagikan

MATARAMA�– nMemasuki musim panen, harga gabah petani kembali anjlok, jauh di bawah harga pokok penjualan (HPP).

Dari laporan yang diterima Dinas Pertanian NTB, para tengkulak membeli hasil panen dengan harga Rp 2.200 sampai Rp 2.500 per kilogram (kg).

Mestinya mereka membeli sesuai HPP yakni Rp 3.700 per kg. a�?Kan kasihan petani kalau begini,a�? kata Kepala Dinas Pertanian NTB Husnul Fauzi, kemarin (7/3).

Untuk itu, Husnul meminta kepada Bulog NTB untuk segera menyerap gabah petani yang sudah mulai panen. Di manaA� produksi saat ini sudah mencapai 40 persen atau sekitar 1.500 ton gabah kering giling (GKG).

Menurutnya, penyerapan gabah petani harus maksimal dilakukan agar harga gabah petani tidak terjun terlalu jauh. a�?Saya bilang kepada kepala Bulog, tolong potensi ini dimanfaatkan untuk mengisi gudang, mengisi target tahun ini,a�? katanya.

Ia menyebutkan, target produksi GKG tahun ini sekitar 2,5 juta ton atau 1,35 juta ton beras, dengan area tanam 475 ribu hektare. Target ini meningkat dibanding tahun lalu sebesar 2,4 juta ton GKG, dengan 1,3 juta ton beras.

Menurutnya, jika tidak melakukan penyerapan sekarang, lalu kapan Bulog akan membeli gabah petani. Sebab memasuki April mereka sudah pasti kalah dengan tengkulak, sebab harganya pasti sudah naik.

Terkait penyerapan yang tidak memenuhi target, ia sudah berkoordinasi dengan pihak Bulog.

Sementara Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi mengatakan, penyerapan gabah petani harus dilakukan. Sebab Bulog bukan perusahaan yang hanya berorientasi pada bisnis dan mengejar keuntungan semata.

Bulog itu alat negara yang dibentuk untuk membantu petani, agar ketika musim panen petani mendapat jaminan penyerapan hasil pertanian.

Sebab negara tidak bisa membantu pentani dengan mencangkul setiap hari, menteri maupun gubernur tidak bisa. Maka cara negara menolong petani adalah melalui Bulog.

Ketika petani sudah lelah menanam, maka saat panen harus diserap dengan harga yang wajar. a�?Kalau dia tidak lakukan itu, dia (Bulog) khianat terhadap keberadaanya,a�? ujar TGB.

Jika memang sudah melenceng dari tujuan awal, ia mengusulkan negara perlu memikirkan alternatif untuk menyerap hasil pertanian. Jangan sampai masalah yang sama terulang terus setiap tahun. a�?Kayak anak kecil saja,a�? katanya.

Terkait kemungkinan membentuk BUMD sendiri, menurutnya TGB hal itu bisa terjadi bila ada dukungan yang kuat.

Sebab tidak mungkin antar alat negara akan berebutA� pasar. Bila BUMD dibentuk, kedua pihak ini akan berebutan menyerap hasil penen petani di bawah.

Kesannya akan sangat buruk bagi pemerintah. a�?Kalau memang ada mekanisme yang lebih baik dengan melibatkan daerah, kalau mekanisme Bulog tidak efektif sampai sekarang, maka perlu dicoba,a�? katanya. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka