Ketik disini

Selong

Ayah Bayi-bayi Terbuang Tak Tersentuh

Bagikan

SELONG – Kasus pembuangan bayi di Lombok Timur (Lotim) kian marak. Dalam tiga bulan terakhir, lima bayi malang dibuang orang tuanya. Dari lima bayi ini, hanya satu yang masih dalam kondisi hidup. Yang menjadi pertanyaan apa penyebab maraknya kasus pembuangan bayi ini. Sejauh mana penyelidikan kepada para pelaku serta hukuman yang menanti mereka untuk menekan kasus ini?

A�a�?Kebanyakan indikasi aksi pembuangan bayi ini dikarenakan bayi ini merupakan hasil hubungan gelap. Seperti yang terjadi di Jerowaru beberapa waktu lalu,a�? kata Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrism Polres Lotim Aipda Nengah Wardika.

Ironisnya, pelaku yang dijerat hanya ibu dari bayi yang dibuang tersebut. Sementara, pria atau ayah kandung bayi malang ini masih berkeliaran bebas.A� Menurut Nengah Wardika arus informasi dan globalisasi turut memicu kasus ini. Penggunaan media sosial tanpa pengawasan di kalangan remaja juga dituding berperan.

A�a�?Mereka berani berhubungan suami istri dengan orang yang baru dikenalnya baru seminggu melalui media sosial,a�? bebernya.

Hjd (inisial, red) warga Dusun Kering Desa Pandangi Jerowaru A�adalah salah satu terduga pelaku pembuangan bayi yang terungkap. Ia mengaku nekat membuang darah dagingnya tersebut lantaran bayi itu hasil dari hubungan gelapnya dengan seorang pria berinisia Mah.

a�?Saya terpaksa buang bayinya biar nggak ketahuan,a�? ucapnya kepada Lombok Post saat diperiksa di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Lotim beberapa waktu lalu.

Diceritakannya, kejadian bermula ketika dirinya berpacaran dengan Mah, tiga tahun silam. Janda ini mengaku beberapa kali diajak menikah. Namun ia belum menyanggupi keinginan Mah lantaran belum siap. a�?Makanya saya hanya pacaran saja,a�? ujarnya.

Selama tiga tahun memadu kasih dengan Mah, Hjd mengaku hampir 15 kali berhubungan layaknya suami istri. Sampai akhirnya dia hamil. Selama Sembilan bulan mengandung, Hjd berusaha menutupinya dari warga sekitar. Ia kerap menggunakan rok dan baju yang longgar sehingga tidak terlihat sedang hamil.

a�?Pas melahirkan juga nggak ada yang tahu. Makanya setelah bayinya keluar langsung saya buang dengan cara saya kubur,a�? bebernya.

Terpisah, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lotim, Judan Putra Baya menanggapi maraknya kasus pembuangan bayi. Terlepas dari hubungan gelap atau tidak ia menilai adanya tatanan sosial yang dirusak oleh era teknologi dan informasi.

a�?Ini menjadi sesuatu hal yang sangat disayangkan dan menjadi keprihatinan semua. Hidup di era kebebasan teknologi ini memang menjadi penyebabnya karena merusak norma-norma adat yang luhur. Akibat begitu mudahnya kita mengakses informasi yang terkait pornografi,a�? kata dia.

Sehingga tidak sedikit remaja hingga orang dewasa yang menyalurkan hasrat seksnya diluar norma. Terkait pelaku, khususnya laki-laki, aparat penegak hukum dinilainya memang memiliki kesulitan mengungkap identitas mereka. Karena, seringkali dijumpai ibu dari bayi tidak mengetahui identitas orang yang menghamilinya.

A�a�?Dari beberapa perempuan yang kami dampingi, mereka bahkan kesulitan menyebutkan siapa saja laki-laki yang menggauli dia. Karena pelakunya lebih dari satu orang. Pelakunya siapa dan alamatnya mereka tidak tahu,a�? bebernya

Setelah dilakukan pendampingan bersama psikiater baru kemudian ibu bayi yang tertangkap mau jujur dan terbuka.

a�?Kami mencoba untuk membangun kesepahaman bersama dengan tokoh adat, terkait dengan tingginya kasus kekerasan seksual dan pergaulan bebas. Kami mengajak masyarakat membuat peraturan berupa awiq-awiq,a�? ungkapnya.

Awiq-awiq ini mengatur pola hubungan muda-mudi. Dimana di setiap desa ia menyarankan ada aturan tentang bagaimana muda-mudi dalam menjalin hubungan seperti pacaran.

A�a�?Usia berapa yang boleh dipidangin (bertamu ke rumah pacar, red) itu harus jelas. A�Minimal berusia 17 tahun seperti yang diatur Udang-undang. Siapa yang harus ada ketika mereka midang, itu. harus didampingi oleh keluarganya,a�? ujarnya.

a�?Jam berapa dia boleh dan jam berapa tidak boleh dipidangin serta turan yag melarang mereka berduaan tanpa pengawasan juga harus dibuat. Ini menjadi salah satu upaya untuk meminimalisir aksi pergaulan dan seks bebas,a�? tambahnya.

Hal ini bisa diterapkan di setiap desa dengan kebijakan masing-masing desa. Karena, menghadapi situasi seperti ini butuh peran akstra tidak hanya dari keluarga, melainkan juga masyarakat dan pemerintah setempat. (ton/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka