Ketik disini

Metropolis

Lokasinya di Pusat Ekonomi, tapi Sewanya Lebih Rendah dari Kamar Kos

Bagikan

Di Cakranegara, tepat di simpang empat menuju selatan, di Jalan AA Gde Ngurah berdiri 20 ruko yang merupakan aset daerah. Sayangnya aset di pusat ekonomi itu tak memberi PAD yang signifikan.

***

PANAS begitu menyengat siang itu. Tepat di simpang empat Cakranegara yang mempertemukan empat ruas jalan utama, suasananya sangat macet. Jalan Pejanggik, Jalan Selaparang, Jalan Sultan Hasanuddin, dan Jalan AA Gde Ngurah memang pusat ekonomi Mataram.

Empat ruas jalan itu adalah titik sentral perekonomian kota ini. Bahkan untuk Lombok hingga NTB, titik itu adalah jantungnya ekonomi daerah.

Wajar macet parah kerap terjadi di jam-jam sibuk di lokasi itu. Berbagai toko-toko besar memang tumpah plek jadi satu di sana.

Tepat di tengah pusat perputaran uang itu, Pemkot Mataram memiliki aset yang sangat berharga. Ada 20 ruko berjajar di sepanjang Jalan AA Gde Ngurah mulai dari simpang empat di samping pos polisi. Semuanya bangunan tua, namun masih bisa digunakan dengan baik.

Memiliki dua lantai, aset itu sudah ada sejak dulu. Tepatnya ketika Mataram masih bergabung dengan Lombok Barat.

Saking strategisnya, aset itu disewa oleh para pengusaha yang tak bisa dikatakan kecil. Mereka bisa dikatakan para penyuplai atau pemain besar untuk pengusaha lain di berbagai penjuru NTB.

Umumnya mereka adalah penjual grosir berbagai barang. Yang terbanyak kain bakal dan pakaian jadi.

Jadi wajar kalau di sana selalu macet. Tak pernah ada kata sepi. Pembeli terus silih berganti berdatangan. Baik mereka yang hendak mencari harga miring untuk keperluannya sendiri, maupun mereka yang akan menjual kembali untuk memutar usaha.

Sayangnya aset super strategis itu tak memberi dampak banyak bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Mataram. Ada di titik paling vital Mataram, setiap ruko hanya dihargakan sewanya Rp 3.204.000,- pertahun. Sebuah harga yang sangat rendah, boleh jadi para penyewa di sana mengantongi lebih dari itu dalam satu hari saja.

Hal itu diakui langsung oleh Kadis Perdagangan Kota Mataram Lalu Alwan Basri. a�?Memang tak pantas dihargakan serendah itu,a�? katanya tak mengelak.

Sebuah harga yang sangat rendah. Bahkan jauh lebih rendah ketimbang harga sewa kos-kosan petak berukuran 3×3 di dalam gang sempit Kekalik atau Gomong yang bisa mencapai Rp 5.500.000,- .

Dengan harga yang sangat rendah itu, pertahun Pemkot Mataram hanya mengantongi Rp 64.080.000,- saja. Sejumlah nominal yang sangat kecil. Padahal boleh jadi dengan jenis usaha yang dijalankan, dengan penting dan strategisnya lokasi itu, setiap pedagang bisa meraup keuntungan puluhan bahkan ratusan juta dalam sebulan. Dan boleh jadi bermiliar rupiah dalam setahun.

“Wah murah sekali sewanya, saya saja toko kecil satu lantai di Rembiga sampai Rp 12 juta dalam setahun,a�? kata Fahmi, seorang pengusaha Gorden membandingkan biaya yang sangat murah itu.

Hal itu jelas tak bisa dibiarkan. Harus ada perbaikan kesepakatan harga dengan peningkatan potensi PAD. Kendati mendapat pemasukan, dengan nominal sekecil itu, tak salah jika dikatakan pemerintah sudah rugi begitu banyak. (WAHYU PRIHADI,/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka