Ketik disini

NASIONAL

Masih Dieksploitasi, Masih Didiskriminasi

Bagikan

JAKARTAA�– Hari Perempuan sedunia diperingati kemarin. Indonesia masih berkutat pada permasalahan yang sama. Perempuan masih dieksploitasi dan masih pula menerima diskriminasi. Tapi, ini bukan cuma masalah Indonesia. Hal ini juga menjadi masalah didunia.

Duta besar Italia untuk Republik Indonesia Vittorio Sandalli saat berbicara pada peringatan Hari Wanita Sedunia bertemakan Be Blunt To Change, di Pusat Kebudayaan Italia, Jakarta, Rabu (8/3) menegaskan, masalah pemberian hak pada perempuan di berbagai aspek kehidupan tak hanya di Indonesia saja.

Semua negara kata dia, juga mengalami hal yang sama. Tak terkecuali Italia. Vittorio sendiri menyatakan dukungan bagi perempuan dalam pengembangan kapasitas diri mereka.

Inilah yang menurutnya menjadi dasar perayaan Hari Perempuan Sedunia. “Woman’s Day ini digelar sebagai konfirmasi atas komitmen terhadap isu gender. Mengeliminasi segala bentuk eksploitasi dan diskriminasi, serta memerangi segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di dunia internasional,” paparnya.

Kurangnya perhatian terhadap perempuan juga diakui Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. Di tempat yang sama, Menteri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini memberi contoh di Lembaga Pemasyarakatan.

Dia mengakui bahwa perhatian terhadap perempuan di Lapas belum berjalan optimal. Selama menjabat sebagai Pembantu Presiden, ia melihat keterbatasan fasilitas bagi narapidana perempuan.

a�?Seperti Lapas Paledang, Bogor. Laki-laki dan perempuan dicampur, mereka dipisah dengan blok. Saya pernah lihat sendiri. Saking padatnya mereka tidur saja susah,a�? ungkapnya di acara Perayaan Hari Wanita Sedunia bertemakan Be Blunt To Change, di Pusat Kebudayaan Italia, Jakarta, Rabu (8/3).

Untuk itu Yasonna menyatakan bahwa perbaikan untuk menyediakan lapas yang layak menjadi salah satu prioritas. Sebab, idealnya kelompok-kelompok seperti tahanan perempuan dan anak sebaiknya dipisah dari tahanan laki-laki. Namun, fasilitas masih kurang, karena lapas khusus hanya ada di kota besar, seperti Jakarta, Bandung dan Tangerang.

Menurut data dari Kemenkumham, pada Februari 2017, ada 209.981 narapidana di seluruh penjara di Indonesia. Mereka ditempatkan di 548 lokasi di Indonesia. Dari jumlah itu, 11.615 adalah narapidana perempuan dan 150 dari mereka di bawah umur, antara umur 12 hingga 18 tahun. a�?Kalau ada anggaran cukup kita bangun. Idealnya mereka dipisah,a�? kata Yasonna.

Di kesempatan yang sama,A� Presiden Second Chance Foundation, Evy Harjono Amir Syamsudin sepakat dengan niatan pemerintah mengoptimalisasi lapas bagi perempuan. Tapi ada yang harus ditambahkan, yakni soal pembekalan terhadap narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan. Bagaimana fungai penjara kembali menjadi pusat pembenahan bagi penghuninya.

Pasalnya, musuh utama dari perempuan yang keluar dari penjara yakni stigma masyarakat. Sekali perempuan masuk lapas, maka akan dianggap sebagai mantan narapidana selamanya. Hal inilah yang harus dihapus dan menjadi tugas penting bagi pemerintah dan pihaknya, untuk memastikan masa depan mantan narapidana perempuan.

Evy mengaku, yayasan non profit yang dipimpinnya ini telah memberi pelatihan dan pemberdayaan perempuan di lapas-lapas khusus perempuan. Ia ingin agar nantinya stigma masyarakat terhadap perempuan-perempuan ini berubah, karena mereka telah dibekali keahlian di dalam lapas. a�?Kita mengadakan pelatihan dan pemberdayaan di lapas, supaya mereka setelah habis masa hukuman bisa jadi orang yang berguna bagi Indonesia,a�? kata Evy. (and/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka