Ketik disini

Headline Metropolis

TKI Jadi Serba Salah

Bagikan

MATARAMA�– Para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) seperti serba salah, jika menggunakan jalur ilegal mereka dicap bersalah. Sementara berangkat melalui jalur resmi tidak lagi bisa menjadi jaminan.

Para buruh migran tetap saja mendapat persoalan saat bekerja di negeri orang.

Hal ini dialami empat tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Sumbawa, yakni Nora Komalasari, Lilis Sidarsih, Lia Santia dan Etmawati.

Keempatnya bekerja tidak sesuai kontrak dan negara penempatan diubah. Akibatnya, mereka bekerja tanpa perlindungan dan rawan jadi korban kekerasan.

Koordinator Badan Bantuan Hukum Buruh Migran (BBHBM) NTB M Saleh mengungkapkan, mereka berangkat melalui perusahaan pengerah yang sama dengan Sri Rabitah, TKW asal Lombok Utara yang sempat diduga kehilangan ginjal yakni PT Falah Hudaipi Bersaudara.

Setelah dicek di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), keempat TKW ini berangkat secara resmi, tapi mereka tidak bekerja sesuai penempatan.

Seperti Nora Komalasari binti Syamsuri, 25 tahun dari Dusun Santong, Desa Dalam, Kecamatan Alas.

Ia mestinya diberangkatkan ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab sebagai cleaning service. Tapi kenyataanya ia dijadikan sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi.

Lilis Sidarsih binti Abdurrahman, 37 tahun asal Kemang Kuning, Desa Lopok, Kecamatan Lopok. Di dalam kontrak ia ditulis bekerja sebagai driver atau sopir. Tapi kenyataanya bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi.

Kemudian Lia Santia binti Ahmad, 25 tahun asal Desa Baru, Kecamatan Alas Sumbawa. Ia dituliskan bekerja sebagai elektria di Abu Dhabi tetapi dijadikan pembantu rumah tangga di Arab Saudi.

Terakhir Etmawati binti M Ali Syam asal Desa Orong Bawah, Kecamatan Utan Sumbawa.

Sama seperti tiga lainnya di dalam kontrak tertulis bekerja sebagai elektria di Abu Dhabi tetapi dijadikan pembantu rumah tangga di Arab Saudi.

Saleh mengatakan, kondisi terakhir empat korban, tiga masih di Arab Saudi dan satu orang yakni Nora Komalasari sedang dalam perjalanan dipulangkan.

Keempatnya sama-sama mengalami penyiksaan, pemotongan gaji, dan pindah-pindah majikan. Sehingga pihak keluarga meminta mereka pulang. Bahkan Lilis, diduga mendapat pelecehan seksual dari majikan di sana.

Lia Santia sekarang ada di penampungan di Arab Saudi, sementara Etmawati dalam kondisi sakit, ia berharap kondisi Etmawati bisa membaik dan tidak mengalami nasib seperti Sri Rabitah.

Menurut Saleh, pemerintah harus melek dengan kasus ini. Sebab mereka bekerja ke luar negeri secara resmi. Tapi sampai di luar negeri mereka bekerja tidak sesuai kontrak dan penempatan kerja diubah seketika.

Mestinya hal ini bisa dicegah, karena yang terlibat dalam hal ini banyak instansi, mulai dari proses rekrutmen di pemda kabupaten, provinsi, BP3TKI, BNP2TKI dan seterusnya. a�?Tapi begitu di luar negeri semuanya diubah,a�? kata Saleh.

Perubahan data tersebut berdampak sangat fatal bagi TKI, mereka dibuat menjadi ilegal dan sangat berpotensi menjadi korban kekerasan, rawan penyiksaan, tidak diberikan gaji, hingga potensi pelecehan seksual. a�?Mana orang tahu dia di luar negeri,a�? katanya.

Aktivis Serikat Perempuan Sumbawa Ardani Hatta mengatakan, kasus empat TKW itu sudah dilaporkan ke Polres Sumbawa.

Langkah hukum ditempuh agar pihak perusahaan mau bertanggungjawab atas nasib para buruh migran perempuan tersebut. Ia berharap aparat penegak hukum bisa mengusut sampai tuntas kasus tersebut.

Ardani menjelaskan, kasus itu ditangani SP Sumbawa karena pihak keluarga baik suami, nenek dan orang tua datang melaporkan kondisi anggota keluarganya di luar negeri.

Para TKI memberitahu kondisinya yang bekerja tidak sesuai kontrak, dipotong gaji dan mendapat tindak kekerasan.

Awalnya, keluarga dan pendamping mencoba pendekatan persuasif, mencoba menghubungi pihak perusahaan, tapi tidak pernah bisa bertemu.

Bahkan tiga kali upaya mediasi oleh Disnakertrans Sumbawa PT Falah Hudaipi tidak pernah datang.

Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) pun menyerah untuk mendatangkan perusahaan.

Jalan terakhir adalah melaporkan perusahaan ke kepolisian, dengan harapan perusahaan tersebut bisa diadili.

Pihak keluarga saat ini meminta agar keempat TKW tersebut dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

Selain itu, SP Sumbawa juga meminta agar pemerintah mengaudit mekanisme rekrutmen TKI, karena ia melihat banyak ketidak beresan. (ili/r7)A�

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka