Ketik disini

Giri Menang

90 Persen Tubuhnya Terbakar, Koma Dua Hari Dua Malam

Bagikan

Kecelakaan kerja yang dialami tahun 2014 silam, membuat hidup Sabarudin berubah. Sempat patah semangat dengan kondisinya, perlahan berkat dukungan orang terdekat, A�ia mampu bertahan.

***

GIRI MENANG -A�Permasalahan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)A�masih menjadi PR terbesar pemerintah saat ini. Para buruh migran yang mengadu nasib ke luar negeri, menyimpan setumpuk masalah.

Begitu banyak kasus-kasus kekerasan hingga kecelakaan kerja yang menimpa mereka. Sampai sekarang masih ada yang belum tuntas penanganannya.

Seperti kisah yang dialami mantan TKI asal Desa Sesaot Timur, Desa Sesaot, Kecamatan Narmada Sabarudin. Pria berusia 49 tahun ini, pernah mengalami nasib kurang baik saat bekerja di Malaysia 2014 silam.

Niat ingin mengubah ekonomi keluarga dengan menjadi buruh migran. Nasib sebaliknya malah menimpanya. Sabarudin justru kini menanggung a�?bebana�? seumur hidup.

Ia menderita luka bakar sangat serius. Dimana hampir 90 persen tubuhnya melepuh. Musibah itu dialami saat dirinya bekerja di salah satu pabrik kilang oli di Johor, Malaysia.

Awal cerita, Sabarudin berangkat menjadi TKI menggunakan paspor pelancong. Itu waktu pertamanya menjadi TKI.

Sebelumnya ia hanya mencari nafkah menjadi buruh serabutan di daerah asalnya. Saat berangkat pun, kesehatan Sabarudin sungguh baik. Bentuk fisiknya tak ada masalah.

Sekitar delapan bulan setelah menjadi TKI, semua itu terenggut ketika mengalami kecelakaan kerja.

Berawal dari satu mesin pembuat oli di pabrik tempatnya bekerja rusak. Tak berselang lama, mesin yang rusak itu tiba-tiba mengeluarkan percikan api. Seketika itu terjadi ledakan hebat dan dengan cepat membakar tubuh Sabarudin. Waktu kejadian Sabarudin tengah bersama salah seorang rekan kerjanya di pabrik tersebut.

“Saat kejadian, saya tidak terlalu ingat. Saya langsung pingsan tak sadarkan diri,a�? kenangnya, Sabtu (4/3) lalu.

Atas kejadian itu, Sabarudin mengaku sempat mengalami koma selama dua hari dua malam. Namun karena masih diberikan umur oleh tuhan yang maha kuasa, ia akhirnya sadarkan diri.

Kondisinya berangsur-angsur pulih. Namun tetap dengan kondisi kulit yang melepuh. Bahkan ia tidak dikenali orang.

Atas kejadian itu, mandornya memang tak lepas tangan. Semua biaya perawatan rumah sakit ditanggung. Hanya saja, saat pulang ke kampung halaman di akhir tahun 2014, Sabarudin mengaku tidak diberikan uang pesangon.

Boro-boro dikasi pesangon, gaji satu bulan pun tak cair. “Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena sudah ditanggung biaya pengobatan rumah sakit,a�? katanya penuh keraguan.

Derita Sabarudin tak berhenti sampai di situ. Setibanya di tanah air, ia harus mengeluarkan uang. Untuk membayar tekong senilai Rp 4 juta. Mau tidak mau, ia terpaksa membayar. Karena kata dia, itu sudah sesuai perjanjian.

Secara kasat mata, kondisi fisik Sabarudin kini laiknya orang normal. Sekujur tubuhnya yang melepuh itu tertutupi pakaian. Terlihat seperti orang normal.

Tetapi ketahanan fisiknya mulai berkurang. Ia sudah tidak bisa lagi bekerja berat. Menjadi kuli bangunan ataupun bekerja di sawah menjadi petani, sudah tidak bisa ia jalani.

Sebab jika terlalu lelah, bekas luka bakar di kulitnya terasa panas. Apalagi keringat yang keluar, sangat panas. Serasa api membakar kulit.

“Susahnya pas tidur mas, itu kan panas, setiap malam saya tidak bisa tidur nyenyak,a�? keluhnya.

Sabarudin bukan pasrah dengan keadaan. Ia sempat melakukan terapi selama beberapa bulan di salah satu dokter spesialis kulit di Mataram. Namun karena sudah tidak memiliki biaya, ia memilih berhenti.

Padahal dengan terapi itu, perlahan kondisinya mulai membaik. Bayangkan, wajah yang dulu tak berbentuk, dengan terapi yang dijalani perlahan, kini sudah seperti wajah aslinya. Kendati masih ada sedikit bekas-bekas luka bakar.

Sabarudin sangat berharap adanya uluran tangan dari dermawan. Untuk melanjutkan terapi. Walaupun sulit menjadi normal lagi, dengan terapi sedikit membantunya melakukan proses pemulihan. “Mau berobat uang sudah tidak ada sekarang. Tanah sudah habis dijual,a�? katanya.

Satu-satunya rasa syukur paling besar saat ini adalah kelurga yang begitu setia mendampingi. Istri dan ketiga anaknya menerima apa adanya. Walauapun bentuk fisiknya kini tak lagi seperti dulu, keluarga memberikan support yang luar biasa.

Hingga saat ini Sabarudin mengaku hanya mendapat obat-obatan sederhana. Bantuan dari pemerintah yang sangat didambakan tak kunjung menghampirinya. Bayangkan, sekali berobat Sabarudin mengelurkan sekitar Rp 500 ribu lebih.

Dalam sebulan ia melakukan lima kali kontrol. Sungguh berat bagi dirinya dan keluarga yang kini hanya mengandalkan pemasukan dari A�menjadi tukang parkir di objek wisata pemandian Sesaot. (M ZAINUDDIN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka