Ketik disini

Metropolis

Demo Cabai Ricuh

Bagikan

MATARAMA�– Aksi demo di depan kantor Wali Kota Mataram berakhir ricuh. Pendemo, masa aksi tandingan saling kejar. Beberapa diantaranya mencoba melerai dan mengingatkan agar tidak ada aksi kekerasan.

Tetapi beberapa diantaranya tidak bisa mengendalikan diri. Lalu melakukan aksi intimidasi satu sama lain. Meminta agar demo yang sudah kadung ricuh segera disudahi.

Pada awalnya aksi demo berjalan lancar. Masa aksi yang hanya terdiri dari beberapa orang dan mengatasnamakan diri dari forum transparansi anggaran NTB, terus mendesak Wali Kota Mataram mencopot Kadis Pertanian H Mutawalli.

“Program dari Kementerian yang begitu besar untuk peningkatan hasil produktivitas pertanian cabai di lahan seluas 100 hektare, tetapi kenyataanya hanya 30 are,a�? teriak Korlap aksi.

Namun suasana mulai panas ketika Mobil Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana hendak masuk ke area perkantoran. Akses yang tertutup rapat oleh pendemo dan massa aksi membuat suasana mulai tidak kondusif. Beberapa petugas protokoler yang meminta memberi jalan, kesulitan membuka akses masuk.

Dari pantauan Lombok Post, Mohan akhirnya mengambil inisiatif berjalan kaki. Ia mendekati para pendemo, lalu dengan nada santai menanyakan keinginan para peserta aksi. “Ada apa? Apa yang mau disampaikan?a�? tanya Mohan.

Tetapi belum saja pertanyaan Mohan dijawab, suasana berubah ricuh. Beberapa orang berteriak lantang dengan suara-suara provokatif. Tidak jelas datangnya dari arah mana.

Tiba-tiba saja sudah ada aksi saling dorong dan intimidiasi untuk saling memukul satu sama lain. Tim keamanan yang tergabung dari Kepolisian dan Satpol PP Kota Mataram, berupaya melerai.

Teriakan-teriakan agar petugas dan sesama rekan mengendalikan diri terdengar lantang. Tetapi suasana semakin kalut. Mohan yang terlihat kebingungan dengan situasi tidak kondusif, melakukan tindakan cepat dengan meminta semua pihak menahan diri. “Jangan ada yang memukul!a�? teriak keras Mohan berulang kali, mencegah massa.

Barulah beberapa orang yang mengerubuti korlap aksi terlihat membuka diri. Lalu memberi kesempatan aparat lebih leluasa mengamankan pelaku ke kendaraan polisi.

Suasana berangsur tenang dan massa aksi demo diminta untuk membubarkan diri. “Kami hanya melakukan tindakan-tindakan pengamanan,a�? kata Kepala Seksi Opdal Oprasional dan Pengendalian (Opdal) Kota Mataram Bambang EYD.

Pada dasarnya, Satopol PP dan aparat kepolisian sudah mengawal agar hak-hak konstitusional menyampaikan pendapat di muka umum tercapai. Namun teriakan-teriakan provokatif yang entah datang dari mana, memebuat situasi semakin runyam. Karena itulah, ia berupaya mengamankan situasi.

Sementara itu, dari sumber yang enggan disebutkan namanya, kedatangan Wakil Wali Kota hari kemarin memang agak siang. Itu karena kondisi kesehatan Mohan sedang tidak maksimal. Sejak dikabarkan sakit Minggu kemarin. “Beliau sakit, tapi dipaksakan masuk,a�? kata sumber ini.

Sumber ini sendiri menyayangkan situasi menjadi tidak kondusif. Apalagi di tengah kondisi wakil wali kota yang tidak prima sudah berupaya mendengar apa yang ingin disampaikan para peserta aksi. “Kasihan beliau (Wakil),a�? ujarnya.

Apalagi menurutnya, kasus ini sudah ditangani kejaksaan. Seharusnya, tidak perlu ada tindakan-tindakan represif dari pihak yang menginginkan kasus ini tetap diproses.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli membenarkan ada pihaknya yang sudah dipanggil kejaksaan. Guna dimintai keterangan terkait kasus program penanaman cabai dengan anggaran Rp 2,8 miliar di atas lahan 100 hektare (ha). “Iya sudah ada,a�? kata Mutawalli.

Pihaknya pun mengaku cukup kooperatif. Setiap ada pemanggilan pejabat di lingkup Dinas Pertanian untuk memberi keterangan, dirinya pun sudah mendorong agar segera dipenuhi pangggilan penyidikan tersebut.

“Saya minta agar memberikan keterangan selengkap-lengkapnya. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupi, sampaikan semua,a�? terangnya.

Tidak hanya itu, jika pun dirinya nanti harus dimintai keterangan oleh kejaksaan, ia pun mengaku siap untuk memberikan keterangan yang diperlukan. “Iya siap dong, (tapi) belum di panggil,a�? tandasnya.

Mutawalli juga menegaskan program ini sudah sesuai dengan tuntunan juklak-juknisnya. Program ini diakuinya memang untuk penanaman cabai seluas 100 ha. Namun pada praktiknya, dilakukan secara bertahap. “Tidak langsung 100 ha,a�? ujarnya. Hal ini karena pola tanam tidak dilakukan sekaligus. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka