Ketik disini

Politika

Kembangkan Pendidikan Pemilih Berbasis Komunitas

Bagikan

MATARAM – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan salah satu pilar demokrasi sebagai wahana perwujudan kedaulatan rakyat. Guna menghasilkan pemerintahan yang demokratis. Karena itu, pemerintahan yang dihasilkan dari pemilu atau pilkada diharapkan menjadi pemerintahan yang mendapat legitimasi yang kuat dan amanah.

Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB, rekapitulasi jumlah pemilih pada Pileg 2014 ada A�sebanyak 3.569.540 pemilih. Terdiri dari laki-laki sebanyak 1.727.498 orang, dan pemilih perempuan sebanyak 1.842.142 orang.

a�?Dari data jumlah pemilih tersebut dapat dilihat seberapa besar tingkat partisipasi pemilih di NTB,a�? kata Ketua KPU NTB Lalu Aksar Ansori, kemarin (10/3).

Kata dia, berdasarkan rata-rata tingkat partisipasi pemilih (TPP) pada Pileg 2014 di NTB yaitu sebesar 77,32 persen. Dengan tingkat partisipasi tertinggi adalah Kabupaten Dompu, yaitu sebesar 83,69 persen. Sedangkan tingkat partisipasi terendah adalah Kota Mataram, yaitu sebesar 72,76 persen.

Melihat hal ini, menurut Aksar, partisipasi mencerminkan kesadaran akan hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang besar. Agar proses demokrasi memiliki dampak yang besar juga yaitu perubahan yang benar-benar menjadi cita-cita rakyat.

a�?Sehingga benar juga bila ada pernyataan, tidak ada demokrasi tanpa partisipasi,a�? imbuhnya.

Berbicara partisipasi pemilih dalam pemilu, sambungnya, disadari bahwa partisipasi pemilu tertinggi dalam pemilu reformasi yaitu pada pemilu 1999 sebesar 92,6 persen. Setelah itu, angka partisipasi terus menurun dan fluktuatif.

Dijabarkan, seperti pada pemilu 2004 sebesar 84,1 persen, pemilu 2009 sebesar 70,9 persen, dan pemilu 2014 naik sedikit sebesar 73,1 persen. Angka ini masih lebih rendah dari pemilu 2004 dan pemilu awal reformasi 1999.

a�?Partisipasi pemilu di NTB juga menunjukkan hal yang sama,a�? ucap Aksar.

Dijelaskan, pada pemilu 2004 di NTB sebesar 88 persen tetapi pada pemilu 2009 menurun menjadi 75 persen. Kemudian meningkat lagi menjadi 77 persen pada pemilu 2014, namun masih dibawah pemilu 2004.

Dari banyak riset maupun presentasi yang disampaikan peneliti dan pegiat pemilu, lanjutnya, ada beberapa penyebab menurunnya angka partisipasi pemilih. Antara lain, rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap hasil pemilu dan peserta pemilu. Selain itu, munculnya calon yang dianggap bermasalah oleh masyarakat, atau kasus-kasus korupsi yang membelit pejabat publik yang dipilih melalui pemilu.

Faktor lainnya adalah akurasi daftar pemilih yang mengakibatkan hilangnya hak konstitusional pemilih dalam menggunakan hak pilih. Disamping itu, karena keengganan pemilih datang ke TPS lantaran jenuh dan apatis. Serta masih adanya pemilih terdaftar tetapi berada di luar daerah atau luar negeri.

a�?KPU sebagai penyelenggara pemilu harus benar-benar dapat mencari solusi dari permasalahan iini, salah satunya mengembangkan pendidikan pemilih berbasis komunitas,a�? tutupnya. (ewi/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka