Ketik disini

Metropolis

Ayo Perang Melawan Hoax!

Bagikan

Informasi palsu atau hoax bertebaran di media sosial. Dari propaganda soal politik, agama, hingga keamanan tak luput dimasuki berita bohong. Apa yang bisa dilakukan untuk membentengi diri dan keluarga dari hoax?

***

HOAX, kata yang terdengar tidak asing akhir-akhir. Sebuah kata yang merujuk pada informasi atau berita yang isinya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Bahkan cenderung berisi berita bohong.

Entah bagaimana awalnya. Tetapi banyak yang meyakini hoax semakin merajalela, setelah smartphone begitu laris di pasaran. Ponsel pintar ini, bahkan tidak hanya bisa dimiliki kalangan borjuis. Tetapi juga menengah ke bawah.

Apalagi sejumlah provider jaringan berlomba-lomba memberikan layanan murah dan terbaik. Menghubungkan ponsel pintar dengan jaringan internet.

a�?Semua orang bisa berbagi informasi dengan mudah,a�? kata Zulfahmi, salah satu wartawan media cetak.

Kemudahan ini, tentu memberi akses yang cukup luas bagi siapa pun untuk mencari dan menemukan berbagai macam informasi. Bahkan, tidak hanya dengan mengunjungi situs-situs tertentu.

Di media sosial (medsos) semacam Facebook saja, sudah dengan sendirinya bertebaran banyak informasi yang sulit terverifikasi kebenarannya.

Baik yang disebarkan oleh akun a�?temana�� Facebook atau yang dengan sengaja beriklan pada lini medsos ini.

a�?Sudah saatnya, kita lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi,a�? tekannya.

Fami juga menyoroti mudahnya berita hoax menyerang anak muda. Tak terkecuali anak-anak sekolah.

Meski terpelajar, tetapi karena mereka tidak memahami kerja jurnalistik, maka mudah saja mereka share atau membagi informasi bohong. Hanya karena judul atau isi yang terkesan ekslusif atau sangat menarik.

Padahal bisa saja, kesan ekslusifitas dan menarik hanya sensasi belaka. Sementara isinya, kental aroma propaganda yang membahayakan persatuan dan kesatuan.

Maka dalam kondisi tertentu, Fahmi mengingatkan agar setiap orang lebih berhati-hati dalam membuat informasi atau menyebarkan berita hoax.

Jangan sampai, hanya karena tidak bisa mengendalikan a�?jari-jaria�� justru berujung jeruji.

a�?Mari belajar bijak menggunakan medsos dan teliti terhadap berbagai informasi,a�? katanya.

Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram Sirtupillaili menjelaskan, prinsip kerja jurnalistik terikat pada kode etik yang telah disepakati.

Prinsip kerja ini menjamin bahwa informasi yang disampaikan sebuah media, terferivikasi kebenarannya dan bisa dipertanggung jawabkan.

Berbeda halnya dengan informasi hoax. a�?Informasi harus cover both side,a�? kata pria yang karib disapa Sir ini.

Hal lain yang harus diperhatikan saat hendak menelurkan karya jurnalistik adalah informasi harus indepenen, akurat, berimbang dan tidak berniat buruk.

Selain itu, menempuh cara-cara profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. a�?Selain itu tidak boleh mencampurkan antara fakta dengan opini,a�? urainya.

Hal yang paling penting lainnya adalah, berita tidak boleh ditulis berdasarkan prasangka. Apalagi sampai ada aroma diskriminasi terhadap suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin.

Penting juga untuk tetap menjaga martabat orang misikin, lemah, sakit, cacat jiwa dan cacat jasmani. Disamping poin lain yang mengikat kerja jurnalis. A�Sehingga, bisa menjamin informasi yang disampaikan benar-benar kredibel dan dapat dipercaya.

Sesuai dengan apa yang disampaikan narasumber. a�?Kita terikat oleh aturan-aturan, bukan hanya asal tulis saja,a�? tegasnya.

Beberapa aturan tentang kerja jurnalisme inilah yang membuat media, kerap juga disebut media mainstream. Sebab terikat pada arus umum atau prilaku umum. Berbeda hanya dengan media anti mainstream.

Tidak ada dasar untuk mengidentifikasi produk beritanya kredibel dan dapat dipercaya. a�?Karena itu masyarkat penting melihat kredibilitas perusahaannya,a�? sambung Sir.

Media-media mainstream, menjamin keakuratan berita. Dalam hal ini, masyarakat bisa melihat mana saja berita yang bisa dipetanggung jawabkan kualitasnya.

Beberapa persusahaan ternama itu menjamin independensinya dalam membangun informasi. Berbeda halnya dengan media hoax atau abal-abal, cenderung membangun informasi yang sifatnya berpihak pada satu kelompok tertentu.

a�?Bisa dilihat kalau nasional kan ada JPNN, kompas, detik dan sejenisnya, sementara kalau lokal ada Lombok Post dan lainnya,a�? contohnya.

Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan masyarakat untuk menyaring apakah itu berita hoax atau bukan, bisa dengan mempelajari isi atau konten berita.

Jangan sampai hanya karena judul yang bombastis dan terkesan ekslusif, lalu membuat masyarakat mudah saja yakin.

a�?Sering juga beredar melalui whatsapp informasinya blaa�� blaa�� bla dengan berita yang heboh, tapi gak rasional ya jangan mudah dipercaya,a�? ujarnya.

Ia menegaskan, jika informasi datang dari media a�?antah berantaha�� tentu boleh saja di kroschek. Tetapi jangan sampai latah cepat disebarkan. Sebab bisa saja, berpotensi menimbulkan kegaduhan.

Padahal kebenaran dari berita, tidak bisa di jamin. a�?Maraknya hoax saat ini sekaligus, tamparan keras bagi media mainsteram agar bisa memberikan informasi yang lebih akurat dan bertanggung jawab,a�? ujarnya.

Di sisi lain, Sir juga melihat maraknya berita hoax sebagai bentuk ketidakpuasan masyarakat pada pemerintah dan sistem.

Sehingga informasi yang sifatnya mengkritik pemerintah cepat disambar dan disebar luaskan. Padahal belum tentu informasi itu benar dan mewakili kekeceewaanya pada pemerintah atau sistem pemerintahan yang dibangun.

a�?Biasanya ada kelompok atau golongan tertentu terutama yang punya pikiran radikal, kerap memanfaatkan ini (berita hoax),a�? tandasnya.

Praktisi Komunikasi Zulhakim, ikut menyoroti secara khusus persoalan ini. Secara spesifik ia mencontohkan jelang musim pilkada. Ada teks berita palsu, kabar-kabar kedaluwarsa yang diangkat kembali hingga video kerap meracau dan membuat masyarakat bingung.

a�?Sampah digital ini menerobos masuk ke ruang-ruang pribadi lewat smartphone yang kita bawa, laptop di ruang kerja bahkan TV, radio hingga koran,a�? ujar Zul lugas.

Saluran terbesarnya pun tak tanggung-tanggung tudingnya melalui medsos. Semacam Facebook, Twitter dan sejenisnya.

Menurutnya, medsos menjadi medan perang dalam merebut hati pemilih. Perang citra kerap melibatkanA�buzzerA�dengan pasukan akun fiktif dengan ragam berita palsu.

Ada juga berita pelintiran, polesan hingga fitnah yang disebarluaskan. a�?Caci maki, sumpah serapah, dukung mendukung membanjiri lini massa, bahkan hingga saat ini,a�? cetusnya.

Kelak lanjutnya, para pemulung setia akan kembali A�menyortir sampah-sampah informasi ini sesuai kebutuhan. Semisal buat mengkritisi pemerintahan berkuasa atau jadi tabungan a�?fitnaha�?A� buat membuli Jokowi jika kelak nyapres lagi.

Pola ini pun dirasakan Zul, saat mengamati masa pilkada DKI Jakarta yang saat ini masih berlangsung. a�?Sebenarnya pola ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi di negara lain seperti Amerika,a�? analisanya.

Ia lantas mengutip sebuah situs online Marketwatch.com yang menyebut,A� sepanjang A�Januari-Oktober 2016 lalu, sekitar 110 juta warga Amerika terlibat debat secara online terkait pilpres.

Sementara itu,A�FoxnewsA�(12/11) menyebut di hari pencoblosan terdapat sekitar 115.3 juta pengguna FacebookA�mengirim 716,3 juta posting, likes dan komentar berkaitan dengan pilpres.

a�?Hasilnya, bayak dari mereka akhirnya, mengakhiri pertemananA� dengan unfriend di media sosial. Dan di Indonesia ini sama mengkhawatirkannya,a�? ujarnya.

Zulhakim menyebut, informasi barang yang paling cepat basi. Tapi kebebasan informasi menemukan muaranya. Era media sosial telah meruntuhkan dominasi media massa konvensional dalam memonopoli arus informasi.

a�?Berita tidak lagi satu arah, tapi transaksional dan menyebar kemana-mana,a�? cetusnya.

Saat ini, orang bebas memilih informasi yang sesuai seleranya, mengutip, memelintir dan menyebarluaskan tanpa harus percaya pada TV ini dan koran itu.

Saat ini saja, kata Zul sudah ada ribuan akun palsu, website musiman hingga ragam blog abal-abal dalam berbagai isi dan tampilan. a�?Soal kebenaran materi, nomor sekian,a�? tukasnya.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana juga tidak kurang-kurangnya memberi perhatian khusus pada berita hoax.

Pada acara pelatihan jurnalistik untuk siswa SMA sederajat yang diadakan oleh Pewarta Mataram, Mohan juga mengingatkan pentingnya bagi para siswa memahami apa itu hoax.

a�?Share berita yang dapat dipertanggungjawabkan,a�? Kata Mohan pada puluhan siswa yang mengikuti pelatihan hati itu.

Mohan mengatakan, tidak semua orang bisa menulis, berita dengan benar. Tetapi semua pengguna sosial tentu bisa menyampaikan opini dan unek-uneknya melalui status.

Di sinilah pentingnya memahami bagaimana cara, menyampakan informasi atau keluhan dengan benar. Sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman bagi yang membacanya.

a�?Kalau sekadar status tentu semua bisa, tetapi bagaimana caranya agar membuat status atau informasi yang bertanggung jawab itu yang harus diperhatikan,a�? ujarnya.

Siswa juga diminta lebih slektif menyaring informasi yang masuk ke smartphonenya. Begitu mudah informasi masuk, menjadi tugas dan tanggung jawab masing-maisng untuk memfilter mana yang layak dipercaya dan hanya sekedar hoax.

Era keterbukaan informasi memang telah hadir dengan dampak positif dan negatifnya. a�?Sekarang tinggal pada kalian, bagaimana cara menyaring informasi yang benar-benar bermanfaat saja,a�? pintanya.

Hal yang sama juga disampaikan Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh. Ia berharap semakin siswa mengenal kerja jurnalistik yang tidak mudah, dalam menyampaikan informasi dapat meningkatkan daya filter siswa. Sehingga tidak mudah begitu saja percaya pada berita-berita bohong. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka