Ketik disini

Kriminal

Jangan Lagi Ada Perang Antar Kampung di NTB

Bagikan

Tongkat komando kepolisian di Provinsi NTB, kini dipegang Brigjen Pol Firli. Sebagai Kapolda baru, pria 54 tahun ini telah menyiapkan sejumlah program untuk menjaga dan meningkatkan pelayanan kepolisian bagi warga Bumi Gora. Berikut petikan wawancara wartawan Lombok Post Wahidi Akbar Sirinawa dengan Kapolda NTB Brigjen Pol Firli beberapa waktu lalu.

***
Brigjen Pol Firli tiba di NTB pada Februari tahun ini. Dia menggantikan Brigjen Pol Umar Septono. Melihat NTB, Firli menilai provinsi di timur Bali ini menyimpan potensi yang luar biasa. Ada sedikitnya empat unggulan yang dimiliki NTB, yakni pertanian, pariwisata, maritim, dan perdagangan. Menurut Firli, untuk memaksimalkan potensi tersebut, dibutuhkan persiapan. Masyarakat perlu pengetahuan, skil, dan perilaku yang baik.A�a�?Itu yang perlu dipersiapkan dengan baik,a�? kata dia.

Dengan sejumlah persiapan itu, potensi yang ada diyakini bisa dikelola dengan baik. Terutama untuk potensi pariwisata. Namun, untuk mendukung itu semua peran kepolisian harus dioptimalkan. Sejak menjabat sebagai Kapolda NTB, Firli langsung meminta seluruh anggotanya untuk turut ambil bagian dalam setiap kegiatan pembangunan di NTB.

Peran polisi, kata Firli, tidak terlepas pada kepastian hukum dan jaminan keamanan tapi lebih dari itu polisi harus menjadi contoh baik dalam kebaikan. Termasuk bagaimana menjadi tuan rumah yang baik bagi warga dunia yang berkunjung ke NTB.

a�?Tamu (wisatawan, Red) yang datang ke NTB jangan diganggu,a�? katanya.A�Kata Firli, tindak kejahatan terhadap wisatawan harus terus diantisipasi. Sebab dampak gangguan tersebut akan sangat berpengaruh terhadap iklim pariwisata maupun investasi. Meski hanya ada satu kasus. Demikian halnya soal perkelahian antar kampung yang dulu kerap terjadi di sejumlah daerah di NTB.

a�?Itu tidak boleh terjadi. Kita tetap upayakan untuk tidak ada konflik. Hidup berdampingan dengan damai, walaupun kita berbeda,a�? ujar lulusan Akpol 1990 ini.

Targetkan 25 Kasus Korupsi Tuntas

Selain Kamtibmas, Firli menyadari atensi masyarakat NTB terhadap penanganan kasus korupsi. Karena itu, dia memberi perhatian khusus terhadap kasus ini.

Karena itulah tahun ini Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTB ditargetkan untuk menyelesaikan lima kasus korupsi. Sementara untuk setiap Polres jajaran, ada dua kasus tipikor yang harus tuntas.
a�?Total ada 25 kasus, itu harus selesai. Jadi tidak boleh ada yang tidak selesai. Syukur-syukur kalau bisa lebih dari itu,a�? tegas Firli.

Hanya saja, mantan Wakapolda Jawa Tengah ini menyadari jika penyidikan tipikor tidak semudah menangani kejahatan konvensional. Polisi tak bisa menangani kasus korupsi. Harus ada bantuan dari lembaga lain agar kasus tersebut bisa disidangkan. Misalnya auditor negara seperti BPKP dan BPK.

a�?Untuk menentukan ada peristiwa tipikor, butuh perhitungan kerugian negara,a�? ujar dia.A�Firli menjelaskan, laporan hasil kerugian negara mutlak dibutuhkan untuk memastikan ada tidaknya pidana korupsi. Namun, terkadang masyarakat kurang memiliki pemahaman mengenai alur pembuktian ini.

a�?Pokoknya kalau sudah lapor polisi, itu sudah jadi korupsi, itu yang ada dalam pandangan masyarakat,a�? jelasnya.
Terlepas dari itu, pria yang memulai karir perwiranya sebagai Danton III Sabhara Polda Metro Jaya ini mengatakatan, korupsi muncul akibat lemahnya sistem, buruknya sistem, dan gagalnya sistem. Untuk itu, pencegahannya harus dimulai dari pengawasan yang efektif.

Dia mencotohkan, di Lombok Tengah terdapat satuan kerja pelayanan masyarakat yang mengedepankan aparatur pengawasan. Karena itu, masing-masing lembaga atau instansi harus memperkuat tentang fungsi pengawasan. Dimulai dari perencanaan hingga eksekusi anggaran.

a�?Harapan kami memang seperti itu, perkuat fungsi pengawasan,a�? kata Firli yang pernah menjadi Ajudan Wapres Boediono ini.

Stop Labelling Pelaku Kejahatan

Setiap pelaku kejahatan yang telah menjalani hukuman, hampir semuanya mendapat stigma negatif ketika kembali ke masyarakat. Padahal menurut Kapolda NTB Brigjen Pol Firli, hal tersebut bisa memicu mereka kembali berbuat jahat.

a�?Kalau sudah begitu, sosialisasi di masyarakat akan terhambat,a�? kata dia.A�Karena itu, Firli berharap masyarakat menerima kehadiran mereka, yang sempat terlibat tindak pidana. Ini juga untuk memudahkan proses sosialisasi dan mencegah terjadinya kejahatan yang berulang.

a�?Jangan ada labelling, seseorang yang sebenarnya baik, tapi terus diberi label pelaku kejahatan maka tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi nakal,a�? pungkasnya.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka