Ketik disini

Perspektif

Job, Non Job and Jobs

Bagikan

a�?KABARNYA si A minggu ini non job?a�?

a�?Ah..tidak juga..beliau masih nampak bahagia, berseragam dan masih rajin ngantor seperti biasa.a�?

a�?Oya..? Itu bagus. Sebab jarang kita temui seseorang yang pernah menduduki jabatan, ketika di-nonjob-kan mereka nampak biasa saja. Itu luar biasa!a�?

Penggalan percakapan itu saya dengar pekan lalu, dari dua orang berseragam Aparatur Sipil Negara (ASN) di salah satu tempat fotokopian.

Apa yang dapat kita tangkap dan pahami? Tentu saya membayangkan ada objek (orang, jabatan) yang tengah mereka perbincangkan. Selebihnya saya tertarik dengan istilah yang disebutkan a�?non job !a�?.

Istilah-istilah ini terasa cukup akrab, sering terdengar, terbaca di beberapa status teman di media sosial. Tiga kataA� a�?job, non job dan jobsa�? yang belakangan menjadi istilah yang di banyak tempat atau daerah kerap dipakai. Padahal di Barat, pemilik tiga kata itu, belum tentu gandrung menggunakannya.

Kadang di sanalah terasa hebatnya kita. Latah menggunakan istilah. Entah siapa yang memproklamirkan untuk pertama kalinya. Namun penyebutan pemaknaan disertai seperangkat ciri penanda di masing-masing daerah khususnya di NTB (setidaknya yang pernah saya temui) penggunaan dan sematan istilah tersebut sedemikianlah adanya.

Di Kabupaten Lombok Timur misalnya, sebagaimana penuturan seorang narasumber, kata “job” menjadi semacam istilah untuk menyebut tenaga honorer atau pegawai tidak tetap (non PTT). Jika kita pernah mendatangi beberapa kantor pemerintahan di sana, kita akan dengan mudah mengidentifikasi mereka sebab salah satu ciri menonjol dari a�?tenaga Job” tersebut. Salah satunya dari kelengkapan aksesoris seragam yang mereka pakai. Jika seragam ASN yang digunakan hijau hansip atau cokelat belum menggunakan bet, maka status mereka disebut sebagai a�?Joba�? atau pegawai non PTT.

Hal ini pun terkonfirmasi. Di jam makan siang di beberapa warung makan di sekitar Selong dan Pancor misalnya, beberapa kali saya menjumpai pegawai kantor berseragam tanpa bet lengkap. Iseng saya bertanya, dan rata-rata rata memang mereka masih berstatus tenaga honorer, tersebar dan bekerja pada kantor-kantor pemerintah.

Di kabupaten Lombok Tengah bebeda lagi kondisinya. Pernah suatu ketika pada acara Musrenbang Kabupaten yang mempertemukan banyak pihak mulai kepala dinas kepala bidang, serta organisasi masyarakat sipil dan peserta utusan dari desa sampai kecamatan. Sempat saya mendengar perbincangan tentang agenda mutasi dan reposisi jabatan. Salah seorang di antara mereka berujar. a�?Ya.. di manapun posisi saat ini yang penting tidak non job.”

Istilah a�?non joba�? di lingkup Pemkab Loteng belakangan baru saya pahami yang dimaknai dengan kata “non job” ternyata tidak bermakna a�?tidak ada pekerjaana�? atau untuk menyebut istilah seseorang yang digaji akan tetapi tidak diberi pekerjaan atau ditempatkan pada tempat yang hampir tidak ada pekerjaan.

Namun, lebih terasa untuk menyebut istilah a�?tidak ada jabatan (lagi)a�? atau dipindah pada posisi yang dianggap kurang strategis (soal pengambilan keputusan). Karenanya telah terjadi kerancuan makna kata a�?non joba�? tersebut.

Kerancuan makna ini terasa fatal menurut saya. Mengingat istilah ini terasa rancu jika dilekatkan dengan fungsi pelayanan. Dan beberpa ternyata tidak sedikit berpengaruh pada motivasi bekerja sebagai aparatur sipil negara.

Pertanyaan menjebak lainnya, bagaimana bisa dikatakan seorang yang masih bertatus Pegawai Negeri Sipil/ASN, dikatakan di-non-job-kan hanya karena tidak lagi memiliki jabatan? Atau, bagaimana mungkin hanya karena soal bet yang menempel di baju seragam menjadi salah satu “penanda” seseorang dikatakan a�?job” dan tidak a�?nge-joba�?.

Apakah hal ini tidak menimbulkan pertanyaan, ketika menyebut seseorang a�?non joba�? apakah mereka lantas tidak lagi berkewajiban untuk bekerja melayani? Atau dengan sebanyaknya bet yang menempel pada seragam lantas mereka juga tidak berkewajiban untuk menjalankan kerja? Tentu saja hal ini menjadi situasi yang sulit dipahami.

Sepertinya terlalu banyak penyalahgunaan kata, kalimat, dan penyalahkaprahan istilah. Tanpa kita sadari ini membentuk cara pandang kita yang menggunakan istilah tersebut. Syukur jika kondisi tersebut justru dapat memengaruhi motivasi, inovasi terhadap kultur dan kualitas kerja sehingga sejalan dengan agenda reformasi birokrasi. Juga berdampak pada semakin baik dan meningkatkan kualitas layanan publik.

Saya teringat untuk menulis paragraf penutup dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh seseorang bernama Jobs tepatnya Steve Jobs. a�?Satu-satunya cara melakukan sebuah pekerjaan yang luar biasa adalah dengan mencintai apa yang saat ini anda tengah kerjakan.a�?

Apakah saya menyukai kalimat tersebut karena ia adalah seorang pendiri sekaligus mantan CEO Apple Inc.? Bukan, saya mengutip kalimatnya karena menyukai huruf a�?sa�? di akhir namanya. a�?Mr. Jobs, we have too much Job.a�? (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka