Ketik disini

Pendidikan

NTB Kekurangan 3.000 Guru

Bagikan

MATARAM – Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bisnis dan Pariwisata Hj Djuariati Azhari menyebutkan terjadi krisis guru produktif.

Tercatat 91 ribu guru produktif kurang secara nasional. Sementara di NTB kekurangan guru mencapai 3 ribu lebih.

Guna menanggulangi kekurangan guru produktif di SMK maka PPPPTK yang merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) bertanggungjawab kepada Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) mengadakan pendidikan dan pelatihan program sertifikasi keahlian dan sertifikat pendidik keahlian ganda. Ini sesuai Permendikbud nomor 16 tahun 2015.

Khusus PPPPTK Bisnis dan Pariwisata akan melatih empat paket keahlian. Yakni akomodasi perhotelan, usaha perjalanan wisata, tata boga, dan kecantikan rambut.

a�?Kalau kecantikan kulit belum ada di sini,a�? ujar dia.

Djuariati mengklaim, pelatihan ini belum bisa menutupi kekurangan guru di Indonesia, terutama di NTB. Tahun 2016 saja jatah guru yang ikut pelatihan hanya 15 ribu, sementara yang mendaftar 12 ribu.

a�?Ini kan kekurangannya masih banyak untuk guru produktif,a�? ujar dia.

Guru A�dilatih instruktur nasional. Kata dia, instruktur nasional ini dari guru yang nilai UKG diatas 70. a�?Kita kan nilai standar UKG 55. Biasanya ini dinamakan guru hebat,a�? sebutnya.

Saat pelatihan kata dia, para guru SMA ini nantinya tidak hanya mendapatkan teori saja, namun juga akan melaksanakan praktik di sekolah asal tempat mengajarnya. Jika lulus, maka guru akan mendapatkan sertifikat keahlian yang nantinya akan dikeluarkan Perguruan Tinggi (PT).

a�?Nanti kita akan kerja sama dengan PT mengeluarkan sertifikat,a�? sebut dia.

Sementara Kepala Dikbud NTB H Muhammad Suruji menuturkan, NTB kekurangan guru PNS 3 ribu lebih. Ketika banyak guru SMA diberikan kesempatan mengikuti sertifikasi prosesi keahlian ganda maka akan banyak guru SMA yang kosong. Suruji menyebutkan, NTB kekuranganA� 3. 200A� guru PNS.

Jika ada program pendidikanA� dan pelatihan maka mereka hanya ditarik ke SMK. Kondisi ini akan membuat guru SMA yang kurang karena akan mengajar di SMK. Tapi pada intinya lanjut Suruji, kedepan harus ada penguatan SMK.

Karena, selama ini belum ada partisipasi untuk pendidikan tinggi secara besar-besaran.(jay)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka