Ketik disini

Kriminal

Polisi Akan Libatkan PPATK

Bagikan

MATARAM – Polda NTB terus mendalami dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) hasil pembobolan rekening Bank Muamalat, Mataram. Rencananya Subdit II Cyber Crime Polda NTB akan melibatkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), untuk menelusurinya.

a�?Kita pasti akan melibatkan instansi yang punya kewenangan untuk itu, termasuk PPATK,a�? kata Kasubdit II Cyber Crime Polda NTB AKBP Darsono Setyo Adjie, kemarin (17/3).

Darsono mengatakan, pihaknya telah menyelidiki adanya dugaan TPPU sejak terbongkarnya kasus pembobolan rekening nasabah Bank Muamalat. Pembobolan diduga dilakukan Dini Yuliani yang saat itu menjabat Account Manager di Bank Muamalat Mataram.

a�?Itu telah kita selidiki sejak akhir tahun lalu,a�? ujarnya.

Dugaan tersebut semakin menguat setelah adanya sejumlah fakta terungkap di persidangan Dini. Miliaran rupiah uang nasabah yang tercatat sebagai transaksi palsu diduga tidak saja dinikmati terdakwa. Hanya saja, untuk memperkuatnya, kepolisian akan kembali memanggil sejumlah pihak yang memberikan kesaksian saat persidangan.

a�?Untuk memperharui penyelidikan saja,a�? ujar dia.

TPPU, lanjut Darsono, berawal dari tindak pidana perbankan yang dilakukan Dini. Modusnya melalui transaksi palsu. Bisa berupa penggunaan slip palsu hingga pencatatan palsu.

a�?Modusnya salah satunya melalui tindak pidana perbankan tadi, ya memalsukan transaksi,a�? kata dia.

Dugaan polisi, aliran dana hasil pembobolan Bank Muamalat, juga dinikmati sejumlah pihak. Bahkan oknum yang menerima dana transaksi siluman, mengubahnya dengan membeli sejumlah aset. Hanya saja, untuk penelusuran aset tersebut, belum dapat dilakukan kepolisian.

a�?Iya karena kita harus memperbaharui lagi fakta persidangan dengan pemeriksaan yang akan kita lakukan nanti,a�? ujarnya.

Sedikit mengulas, Dini Yuliani, terdakwa penggelapan dana nasabah Bank Muamalat mendapat vonis tujuh tahun penjara, Selasa lalu (14/3). Majelis hakim juga mengabulkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), dengan membebankan denda kepada terdakwa sebanyak Rp 10 miliar subsider empat bulan kurungan.

Terdakwa yang saat itu menjabat Account Manager Bank Muamalat Cabang Mataram, terbukti melakukan pencatatan palsu dalam pembukuan rekening di bank syariah. Perbuatan terdakwa bertentangan dengan undang-undang dan mengakibatkan kerugian bagi bank.

Pencatatan palsu dilakukan terdakwa selama lima tahun, dari 2010 hingga 2015. Modusnya, terdakwa melakukan pembukaan rekening tabungan dan deposito atas nama nasabah, yang bukan nasabah bersangkutan. Dari perbuatannya, ada lebih 21 nasabah yang menjadi korban. Nominal kerugian yang ditimbulkan dari pencatatan palsu terhadap rekening nasabah, tercatat sekitar Rp 9 miliar.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka