Ketik disini

Metropolis

Ada Dulang Pesajiq, Pengiwe dan Penggibung

Bagikan

Di gawe, proses besatuq bagi tamu ternyata tidak sesederhana yang selama ini dipraktikan. Ada tata tertib penyajian yang sangat kompleks, tapi kini mulai ditinggalkan, apa saja itu?

***

ADA yang khas dalam setiap gawe (pesta, Red) di masyarakat Lombok. Salah satunya, Besatuq atau menjamu tamu. Biasanya, di setiap gawe yang dikemas dengan konsep tradisional, sekelompok pemuda dengan pakaian khas daerah ditunjuk bertugas mengantarkan dulang (sajian) ke para tamu.

Para a�?petugasa�� ini disebut ancangin. Mereka secara beriringan berjalan beriringan dengan posisi dulang di sebelah kanan.

a�?Satu dulang berisi sepiring nasi dengan beberapa menu khas, seperti ares, daging dan serbuk, ini yang biasanya wajib,a�? kata pemerhati budaya Lalu Muksin.

Namun sejatinya, sebelum cara lumrah ini rutin di praktikan di setiap gawe-gawe dengan konsep tradisional di Lombok, beberapa puluh tahun silam, besatuq ternyata punya tata tertib yang sangat kompleks. Pertama, tamu-tamu yang diundang harus di temin (ditemani, Red) oleh orang yang ditugaskan menyilaq (mengundang, Red).

a�?Kalau dulu, misalnya anda (wartawan, Red) diminta mengundang ke kampung A, maka anda juga yang harus bertugas temin tamu dari kampung tersebut saat datang. Tidak seperti sekarang yang ngundang malah kabur,a�? ujarnya sembari tersenyum.

Ada keharusan memang bagi penyilaq menemani tamu yang diundang. Di antaranya, hanya penyilaq yang lebih mengenal mana orang-orang yang diundang. Selain itu, epen gawe (pemilik pesta, Red) tidak mungkin bisa membagi diri dalam satu momen untuk melayani semua tamu.

a�?Kalau sekarang, sudah pemilik acara kesulitan ke sana-ke mari, penyilaq juga kerap kabur. Akhirnya apa? sekarang tamu datang tak dipedulikan, pulang juga tidak ada yang tahu,a�? cetusnya.

Tentu saja, secara etika ini kurang pantas. Walaupun pada akhirnya masyarakat modern mulai terbiasa. Tetapi tetap saja, nilai-nilai keluhuran di dalamnya berkurang. Bahkan cendrung gawe terasa hambar.

Di bagian dapur gawe, dulu disiapkan rak terbuat dari kayu kelapa. Terdiri atas tiga bagian. Di bagian atas diletakan dulang Pesajiq. Lalu di tengah dulang Pengiwe. Sementara di rak paling bawah adalah dulang Penggibung.

a�?Dulang pesajiq untuk datu atau pejabat terhormat. Dulang Pengiwe untuk tamu keluarga yang dihormati, sementara Dulang Penggibung untuk remaja, anak-anak dan mereka yang bertugas di balik suksesi acara gawe,a�? terangnya.

Muksin menerangkan, adanya tingkatan dulang, bukan seolah skat lapisan masyarakat ingin dipertajam. Menurutnya, bukan begitu. Tetapi memang, kehadiran datu atau pejabat ke acara gawe, dipandang sebagai kebanggaan luar biasa.

Ia lalu menekankan, adanya pergeseran pola pikir masyarakat dulu dan sekarang memang banyak berubah. Sekarang semua hal selalu diukur dengan kepuasan diri dan apa yang sudah diterima. Sudah sama atau ada kesenjangan dengan orang lain.

a�?Saya tidak salahkan pola pikir seperti ini saat ini, karena mungkin ini sudah tuntutan zaman, tetapi saat itu bisa melayani pejabat dengan baik adalah prestasi membanggakan,a�? tuturnya.

Menghormati pejabat adalah kebahagiaan. Walau misalnya, porsi makanan di gawe berkurang karena kehadiran pejabat. Mereka tidak sedikitpun iri dan kesal.

a�?Justru sebaliknya, mereka bangga. Bisa melayani pejabat yang mereka hormati dan sayangi. Pelayanan diberikan dengan rasa tulus ikhlas,a�? ujarnnya.

Tapi sekarang berbeda sedikit saja sudah iri. Ada perbedaan menu saja sudah dianggap tidak menghargai kesederajatan manusia. Muksin lantas balik bertanya, substansi yang ingin dicapai dari pelayanan apa sebenarnya?

a�?Memang ada yang lebih indah selain rasa tulus dan ikhlas melayani?a�? urainya panjang lebar.

Karena itulah, lanjut dia adanya Dulang Pesajiq, Dulang Pengiwe dan Dulang Penggibung tidak dipersoalkan dulu. Tetapi pada akhirnya zaman perlahan menggeragoti nilai-nilai ini satu persatu.

a�?Sekarang tamunya bupati saja, menunya sama dengan yang lain. Tapi mungkin tuntutan zaman saat ini sudah berubah,a�? ulasnya.

Kembali ke soal tata cara besatuq, dulu para tamu tidak akan dihadirkan dulang berisi makanan utama, sebelum semua tamu hadir. Karena itu, para penyilaq akan dimintai keterangan siapa saja yang belum hadir dari tamu-tamu yang ditugaskan untuk diundang.

a�?Sementara, menunggu semua tamu hadir, para tamu akan disuguhi makanan khas tradisional, seperti opak-opak, renggi, kaliadem, nage sari, banget, poteng,a�? terangnya.

Para tamu, juga sembari menikmati makanan ringan bisa berbagi cerita dengan tamu lain. kalau dulu, biasanya soal berbagai persoalan yang dihadapi di sawah. Karena sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai petani.A� Dan banyak perbinangan dengan tema lain.

a�?Selain lanjaran (rokok, Red) sebenarnya ada satu menu khas yang unik, tapi tergolong makanan ringan yakni Komoh,a�? ujarnya.

Komoh adalah makanan sekaligus minuman ringan. Sebenarnya, komoh lebih mirip lauk. Bahan dasarnya terbuat dari limfa sapi atau kerbau. Lalu dimasak santan dengan bumbu-bumbu gulai. Terakhir, ditambah sentuhan a�?pemanisa�� dari bawang goreng dan daun kemangi.

a�?Tetapi karena penyajian menggunakan gelas dan tidak dibarengi nasi, alhasil ini pun kategori minuman ringan,a�? ujarnya lalu tertawa lebar. (bersambung/LALU MOHAMMAD ZAENUDIN r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka