Ketik disini

Politika

Komisi V DPRD NTB Geram

Bagikan

MATARAM – Komisi V DPRD NTB mengaku geram setelah mendengar masih adanya eksploitasi tenaga kerja di daerah. Sebelas outlet pembuatan jus buah di Kota Mataram dan Praya dengan pemilik yang sama disinyalir mempekerjakan karyawan mereka di bawah umur.

Tak hanya itu, berdasarkan perjanjian kerja yang harus disepakati adalah jam kerja yang dilakoni karyawan. Yakni, kontrak kerja selama 33 hari dengan lama jam kerja 17 jam (07.30-22.30) per hari tanpa hari libur bagi karyawan.

Selain itu, outlet yang mempekerjakan karyawan juga melakukan penahanan ijazah bagi dengan alasan tidak jelas. Termasuk, hak karyawan berupa gaji belum dibayarkan hingga kini. a�?Mendengar hal ini tentu kami geram dan prihatin atas masalah tersebut,a�? tegas Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB H MNS Kasdiono bersama anggotanya saat menerima hearing perwakilan karyawan toko, kemarin (20/3).

Dikatakan, pihaknya akan menyelesaikan persoalan tersebut sesua prosedur yang ada. Menurutnya apa yang sudah dilakukan perwakilan karyawan sudah benar. Yaitu, dengan melaporkan kepada polisi sektor setempat (Polres Mataram, Red) dan ditindaklanjuti kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB. a�?Kita juga masih memerlukan informasi apa saja yang sudah dilakukan untuk menentukan langkah,a�? katanya.

a�?Dari jam kerja hingga umur yang berkisar 17-23 tahun sudah salah,a�? tambah politisi Demokrat tersebut.

Diakui, dalam proses rekrutmen pegawai yang berkaitan dengan karyawan mengajukan libur juga membuat Kasdiono murka. Di mana dalam poin sembilan perjanjian kerja menyebutkan pihak kedua (karyawan, Red) bisa berhenti kerja atau pulang apabila susah ada penggantinya. Bahkan, pihak kedua baru bisa menerima gaji saat waktu pulang atau libur. a�?Ini saja sudah salah,a�? jelasnya.

Sementara itu, Syawaluddin selaku perwakilan karyawan membenarkan hal tersebut. Ia menilai perjanjian kerja tersebut sudah lebih dari eksploitasi tenaga kerja melainkan perbudakan. a�?Gaji Rp 30 ribu per hari tapi tidak dibayarkan, kalau diminta oleh karyawan ada saja alasan yang dibuat-buat pemiliki tempat kerja,a�? katanya dengan nada kesal.

Yang disesalkan adalah, ketika karyawan mengajukan cuti atau libur karena salah satu keluarga sedang sakit keras, pihak pertama (tempat kerja, Red) tidak memperbolehkan. Bahkan, memberikan syarat bisa libur jika sudah ada pengganti karyawan. a�?Itu berlaku di sebelas outlet pembuatan jus dengan nama-nama berbeda, empat di Kota Mataram sisanya Praya, Loteng,a�? bebernya.

Diakui, mulanya permasalahan tersebut hanya empat karyawan yang dilaporkan pihak pertama kepada kepolisian setempat. Dengan tuduhan melakukan pencurian berupa alat blender buah. Setelah berdamai dan ditanyakan alasan mengambil alat tersebut diketahui karyawan tidak memiliki uang untuk pulang. Serta dijadikan barang jaminan agar ijazah yang disita dapat dikembalikan. a�?Tapi ternyata ada banyak, lebih dari sepuluh orang,a�? tambah Syawaluddin.

Kepada wakil rakyat ia berharap, permasalahan tersebut segera dituntaskan. Serta mendorong adanya pengungkapan kasus yang mempekerjakan karyawan di bawah umur dan dieksplotasi selayaknya budak. a�?Mereka ini bekerja ke Mataram untuk mencari uang buat makan, bukan diperbudak,a�? tutupnya. (ewi/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka