Ketik disini

Metropolis

Pemimpin dan Rakyat Ibarat Singa dan Hutan

Bagikan

MATARAM – Pemimpin ibarat singa dan hutan atau lingkungan ibarat rakyat. Itu dikutip dari salah satu sastra ajaran agama Hindu yaitu a�?Niti Sastra Bab 1 Sloka 10a�? terdapat dalam kitab suci Weda.

Hal itu menjadi topik dalam seminar agama Hindu yang digelar Ikatan Keluarga Besar Hindu (IKBH) Polda NTB di gedung Sasana Darma Polda NTB, Minggu (19/3) lalu. Dalam syair Sloka tersebut dijelaskan, singa adalah penjaga hutan. Hutan pun selalu melindungi singa. Singa dan hutan harus selalu saling melindungi dan bekerja sama.

Bila tidak atau berselisih, hutan akan hancur dirusak manusia. Pohon-pohonnya akan habis dan gundul ditebang. Hal ini membuat singa kehilangan tempat bersembunyi, sehingga ia bermukim di jurang atau lapangan yang akhirnya musnah diburu dan diserang manusia.

Seminar yang mengusung tema a�?Sinergitas Konsep Luhur Kepemimpinan Hindu dan Polri Guna Mewujudkan Swadarma Hidup dalam Keseimbangan Ajaran Tri Hita Karanaa�? ini untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 yang jatuh Selasa (28/3). Untuk menjabarkan tema tersebut dihadirkan dua narasumber, yaitu Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda (dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar) dan Kombes Pol Drs I Dewa Putu Maningkajaya (Karo Ops Polda NTB).

Pandita Mpu menjabarkan, pola kepemimpinan Hindu tidak lepas dari ajaran teologi Hindu/Teoleadership. Secara spirit mengalir dari sradha Brhaman Atman Aikyam serta filsafat Tatwam Asi dan Teologi Imanensi. Normatifnya dari Smerti Manawa Dharmasastra kemudian tertuang di Kekawin Ramayana kemudian dikenal dengan Asta Brata.

a�?Aplikasinya disesuaikan dengan pola keberagaman mulai dari primitive religion, arkais, story, industry dan post modern. Setiap polaA� memiliki penekanan yang berbeda sesuai dengan karakter dari pola tersebut,a�? terang Pandita Mpu.

a�?Primitive menekankan sifat magis, arkais, struktural, ritual, story pada fakta. Industri pada rasional dan post modern bersifat spiritual,a�? imbuhnya.

Penjelasannya tentang ajaran agama Hindu sangat dalam dan disampaikan dengan cara yang sangat menarik. Terutama ketika membahas dari segi tiga kerangka ajaran Hindu, yaitu filsafat, etika, dan ritualnya. Penekanannya tentang tatwa atau filsafatnya.

Sedangkan Kombes Pol I Dewa Putu Maningkajaya menekankan pada kepemimpinan menurut Kitab Ramayana, yaitu Asta Brata (delapan tipe kepemimpinan yang meniru sifat-sifat dari para dewa). Seperti Indra Brata yaitu pemimpin hendaknya memberi kesejahtraan kepada rakyat. Yama Brata yaitu pemimpin hendaknya menciptakan hukum, gakkum, dan memberikan hukuman secara adil.

Surya Brata yaitu memberikan penerangan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat. Candra Brata yaitu selalu memperlihatkan wajah yang tenang dan berseri-seri serta memberikan hiburan kepada yang dipimpinnya. Bayu Brata yaitu pemimpin hendaknya dapat mengetahui dan menyelidiki keadaan yangA� sebenarnya dari masyarakat/rakyat yang dipimpin. Kuwera Brata yaitu pemimpin harus bijaksana menggunakan dana/uang serta selalu berhasrat untuk mensejahtrakan rakyat.

Baruna Brata yaitu pemimpin dapat memberantas segala bentuk penyakit yang ada di masyarakat, seperti kenakalan remaja, pencurian dan pengacau keamanan dan lainnya. Agni Brata yaitu pemimpin harus memotivasi menumbuhkan sifat-sifat ksatria dan semangat yang berkobar dalam memupuk patriotisme dalam menegakkan pertahanan, keamanan negara.

Hadir pada seminar ini para prajurit dari TNI maupun Polri baik bintara maupun perwira, mahasiswa Unram, STAHN dan perguruan tinggi lainnya. Hadir juga Ketua Yayasan Krama Pura NTB Drs I Ketut Lestra, para ketua Krama Pura, Kabid Bimas Hindu A�I Wayan Widra, S.Ag, MPdH, Ketua Krama Pura RSUD Provinsi NTB dr I Gede Ariana, tokoh wanita, pemuda, serta para pemangku/pinandita, para tokoh agama, serta masyarakat Hindu seperti Drs Made Metu Dahana, SH.MH.

Ketua PHDI NTB Drs I Gede Mandra, Msi mengapresiasi IKBH Polda NTB dapat menyelenggarakan seminar dengan mendatangkan narasumber sekaliber Ida Pandita Mpu Acharya Nanda yang nama Welakanya adalah Dr Drs Wayan Miartha, MAg. a�?Umat Hindu haruslah mampu menjadi pemimpin, paling tidakA� memimpin diri sendiri sebagai contoh teladan bagi keluarga, masyarakat, umat di dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian,a�? katanya.

Sementara, ketua panitia AKBP dr I Komang Tresna, Sp.OG, Mars yang juga ketua IKBH Polda NTB dalam laporannya menyampaikan, kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu Tirta Yatra, Pakemitan di Pura Penataran Agung Rinjani ke Baluan Lombok Utara, 4-5 Maret, A�kerja bakti,A� dan persembahyangan di Pura Segara Ampenan, 10 Maret , seminar agama.

Sementara bakti sosial kesehatan di kampung Taliwang Monjok hari ini (21/3) A�akan dibuka Kapolda NTB Brigjen Pol Firli. Kegiatan selanjutnya mengunjungi panti asuhan di lingkungan muslim maupun Hindu dan mengunjungi para pini sepuh. Menjenguk anggota yang sakit berat akan dilaksanakan Jumat (24/3). Dilanjutkan dengan melis, pengerupukan, dan Catur Brata Penyepian tanggal 25, 27, dan 28 Maret bergabung dengan umat Hindu se-Kota Mataram dan sekitarnya.

Kegiatan akan ditutup dengan Dharmasanti tanggal 20 April yang akan dihadiri Kapolda NTB. Kegiatan ini akan disemarakkan grup lawak dan artis lagu-lagu kerohanian Hindu yaitu Dadong Rerod dan kawan-kawan. (arl/r1)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka