Ketik disini

Sudut Pandang

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Bagikan

BERITA wafatnya Ibu Dr Hj Siti Maryam Binti Sultan Salahuddin (yang oleh masyarakat Bima sering disapa Ina Kaa��u Mari atau Ruma Mari) benar-benar mengagetkan saya di sore Sabtu, 18 Maret 2017. Awalnya saya belum percaya dan mengira hoax karena tidak ada publikasi sakit yang dialami almarhumah sebelumnya. Namun, saya baru sadar kalau kebenaran berita tersebut lebih a�?mutawatira�? setelah saya mengkonfirmasi beberapa teman dan diperkuat dengan semakin masifnya informasi yang sama dari semua media sosial yang saya buka.

Innalillahi wainnailaihi raajiun. Kini Ina Kaa��u Mari telah mendahului kita, tetapi semangat dan contoh tauladannya tetap a�?hidupa�? untuk diwariskan oleh setiap generasi daerah dan bangsa ini. Ina Kaa��u Mari adalah sosok inspiratif yang setiap tutur dan perilakunya adalah pelajaran. Semua karyanya merupakan warisan jariyah yang sarat manfaat, dan perempuan tangguh yang mengajarkan pentingnya pendidikan bagi suatu kemajuan. Kesederhanaan dan keramahtamahannya yang kental membuat kita tidak akan pernah melihat kesombonganya sebagai putri raja yang bergelimang harta dan penghargaan.

Rupanya Allah swt lebih mencintainya di saat banyak orang membutuhkan nasehat dan tausyiahnya. Anak daerah ini butuh contoh kelembutan dan keramahannya untuk menggeser sifat garang dan permusuhan yang biasa diperlihatkan beberapa oknum yang terlibat konflik belakangan ini. Keseriusanya di bidang pendidikan menjadi sindiran bagi setiap diri yang main-main mengurus pendidikan, termasuk pelajaran bagi siapapun yang mengabaikan anjuran menuntut ilmu sampai ke level yang lebih tinggi. Almarhumah adalah tokoh yang berada di garda terdepan dalam mengawal sejarah Bima (dana Mbojo) di saat banyak kalangan (termasuk keluarga raja yang lain) tidak peduli dengan hal ini.

Ina Kaa��u Mari selama hidupnya dikenal sebagai putri raja Bima yang mencintai ilmu. Kecintaannya pada ilmu tidak hanya ditunjukkan dengan kemauannya di usia senja melanjutkan studi sampai level Doktoral tetapi juga kesediaannya membagi ilmu kepada siapapun yang membutuhkannya.

Penulis sangat kaget dan bangga ketika ketemu beliau di Bandung tahun 2007 kala melanjutkan studi pada Program Doktor Filologi Universitas Padjadjaran (Unpad). Kaget karena tidak membayangkan dengan usianya saat itu (80 tahun) masih semangat untuk meninggalkan Bima guna menuntut ilmu di Kota Kembang. Tapi saya sangat bangga sekaligus termotivasi untuk menyelesaikan studi Doktoral saya saat itu. a�?Ruma Kaa��u Mari saja yang sudah tua masih mau kuliah, kenapa saya yang masih muda ini tidak bisa menyelesaikan studi S3a�?, begitulah kata hati saya saat itu.

Sungguh merupakan sosok yang luar biasa semangatnya menuntut ilmu, dan berhasil meraih gelar Doktor di usia 83 tahun. Prestasi fantastik ini mengantarkannya meraih rekor MURI untuk kategori peraih gelar Doktor tertua. Suntikan semangat seperti inilah yang kita harapkan dari keteladanan tokoh dan pemimpin kita dengan memperlihatkan keseriusan untuk mengikuti pendidikan yang baik. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang tokoh dan pemimpin maka semakin baik untuk memotivasi rakyatnya.

Ruma Mari yang merupakan putri dari Sultan Bima ke XXIV ini merupakan penjaga, pelopor, pewarta serta penyelamat budaya Dana Mbari Mbojo. Catatan-catatan sejarah dan benda klasik peninggalan kesultanan Bima dilestarikan pada Museum Samparaja, tempat generasi Mbojo membaca dan belajar sejarah leluhurnya. Inisiatifnya membangun rumah sejarah tersebut antara lain dapat dimaknai sebagai bentuk kritik beliau atas tidak terurusnya ASI Mbojo. Tanpa jasanya untuk menyelamatkan dan menerjemahkan naskah kuno milik kerajaan Bima, dou Mbojo akan buta sejarah tanah dan leluhurnya.

Ina Kaa��u Mari tidak hanya membagi langsung ilmu dan informasi sejarah Bima kepada dou Mbojo dan warga etnik lainnya tetapi juga menshare lewat buku dan karya ilmiah serta media publikasi lainya.

Tercatat beberapa di antaraA� karya ilmiah dalam bentuk buku yang ditulisnya seperti; a�?Naskah Hukum Adat Tanah Bima dalam PerspektifA� Hukum Islama�? dan buku a�?Aksara Bima: Peradaban Lokal yang sempat Hilanga�?, yang ditulisnya bersama Munawar Sulaiman dan Syukri Abubakar. Juga karyanya bersama Henri Chambert Loir (ilmuwan Perancis) dengan judul a�?Boa�� Sangaji Kai: Catatan Kerjaan Bimaa�?. Almarhummah juga tercatat bersama Haraldur Sigurdsson dari Amerika menemukan naskah tentang dahsatnya letusan Gunung Tambora yang telah memusnahkan kerajaan Sanggar dan Pekat.

Putri raja Bima kelahiran 13 Juni 1927 ini dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita. Beberapa referensi merilis bahwa Siti Maryam kecil telah memperlihatkan keberpihakannya pada nasib perempuan Bima dengan mendirikan organisasi Rukun Wanita Bima tahun 1948 sebagai upaya untuk mendorong wanita Mbojo agar tidak tertinggal. Organisasi ini didirikan saat terjadinya pergolakan politik sehingga sekolahnya harus tertunda. Bahkan untuk menjamin kesehatan kaum Hawa di Dana Mbojo, adik kandung Putra Kahir ini mendirikan biro konsultasi dan klinik bersalin di lingkungan istana.

Ina Kaa��u Mari telah membuktikan dirinya sebagai aset berhaga daerah Mbojo. Kehilangannya adalah pudarnya salah satu aset penting daerah ini. Tetapi seluruh kontribusinya bagi dana Mbojo khususnya dan masyarakat nusantara umumnya menjadi inspirasi berharga bagi yang memiliki komitmen untuk membangun daerah ini (terutama Dana Mbojo). Namun sangat disayangkan karena tidak banyak gadis Bima (siwe sampela Mbojo) yang mengetahui sosok sehebat Ina Kaa��u Mari. Maka jangan heran bila tidak banyak kepribadian baik, tutur kata sopan, dan perilaku terpuji darinya diikuti oleh siwe sampela Mbojo di era kekinian.

Mereka lebih senang dan mengidolakan artis dan bintang sinetron berwajah cantik tapi berakhlak jelek. Pakaian mereka pun sudah banyak melenceng dari standar kesopanan seperti yang dicontohkan Ina Kaa��u Mari. Sebagai tokoh inspirasi di bidang pendidikan dan budaya tidak salah bila nama Ina Kaa��u Mari diabadikan sebagai nama dari Museum Budaya SAMPARAJA yang didirikannya. Semogaa�� Selamat jalan pengawal budaya Bima, semoga mulia di sisiNya. Aamiina�� (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka