Ketik disini

Metropolis

Mudaratnya Jauh Lebih Besar

Bagikan

MATARAMA�– Rencana Pemerintah Provinsi NTB melarang siswa membawa HP ke sekolah ditanggapi positif Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram.

Alibi mereka yang menentang rencana itu agar bisa berkomunikasi dengan pihak sekolah dianggap terlalu berlebihan.

“Sekarang sekolah harus bisa memfasilitasi siswa untuk berkomunikasi dengan orang tua,a�? kata Ketua LPA Mataram Nyayu Ernawati, kemarin.

Hal itu pun sebenarnya tak terlalu sukar. Tak setiap waktu siswa perlu berkomunikasi dengan orang tua di rumah.

Terlebih jam pulang sekolah sebenanrya sudah fix, sehingga seharusnya para orang tua mengetahui kapan harus menjemput anaknya.

Nah, alat komunikasi yang disiapkan sekolah baru akan difungsikan ketika dalam keadaan darurat atau tak biasa saja. Misalnya sekolah memulangkan siswa lebih awal atau lebih lambat karena satu hal tertentu.

“Tak masalah (HP dilarang, Red) asalkan sekolah bisa memfasilitasi,a�? sambungnya.

Dia juga mengingatkan bahaya perkembangan teknologi yang sangat massif belakangan ini. Anak-anak kini dengan mudah dapat mengakses berbagai hal. Tanpa kemampuan menyaring yang baik, tentu hal itu berbahaya bagi mereka.

Sehingga, ia menyarankan kalaupun orang tua memberikan alat komunikasi, haruslah dengan pengawasan ketat setiap saat.

Maksudnya adalah orang tua harus bisa mendapat akses penuh terhadap HP yang dipegang si anak.

“Kalau kasih HP, cukup yang sederhana saja, yang untuk komunikasi saja, jangan yang fiturnya lengkap dan orang tua tak bisa mengawasi,a�? katanya mengingatkan.

Ditanya apakah kini banyak indikasi penyimpangan HP oleh anak-anak Mataram, ia tak membantahnya.

Karena itu, ia mengingatkan para orang tua mengetatkan pendampingan dengan cara-cara yang elegan dan baik, agar bisa diterima si anak.

Dia juga mengingatkan kini banyak kejahatan dunia maya yang mengincar melalui medsos yang ada dalam genggaman anak-anak Mataram. a�?Kita sebagai orang tua harus peka dan waspada,a�? katanya.

Terpisah Ketua Dewan Pendidikan Kota Mataram Adnan Muhsin mengatakan, membawa HP ke sekolah memang banyak mudaratnya.

Ketimbang memberi manfaat dan dampak positif, ia meyakini lebih banyak hal negatif jika HP dibiarkan bebas dibawa siswa.

Dia pribadi mendukung rencana Pemprov NTB melakukan pelarangan tertanggal 01 April tersebut.

“Saya setuju dan mendukung,a�? ujarnya.

Yang kini perlu dilakukan sekolah menurutnya menyediakan fasilitas telepon center yang dapat digunakan siswa sewaktu-waktu.

Sehingga komunikasi dengan orang tua di saat diperlukan tetap bisa dilakukan.

“Siapa pun siswa yang butuh boleh pakai, saya kira persoalannya akan selesai,a�? tukasnya. (yuk/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka