Ketik disini

Metropolis

Pulang Cacat, Hidup Sekarat

Bagikan

Bekerja menjadi buruh migran di luar negeri ternyata tak melulu soal cerita manis. Berjubel pula cerita pahit yang mendera para TKI asal NTB. Nestapa menimpa mereka yang pulang dengan cacat permanen dan kini tak bisa bekerja lagi sekadar untuk menyambung hidup. Inilah sekelumit cerita mereka yang membuka mata, betapa sentuhan pemerintah jauh sekali dari hidup mereka.

***

DI selembar kasur busa tipis, Masiah tergolek. Beralas tikar plastik, perempuan 42 tahun itu tidur menyamping menghadap kiri. Kepalanya yang menjauh dari bantal sedikit mendongak, mengarah ke sumber cahaya dari jendela kamar rumah sederhana tempatnya dirawat. Lama dia tak bergerak. Tatapan warga Dusun Nyiur Lembang, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar itu juga kosong.

Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Masiah tak berbicara. Tidak pada kami yang menjenguknya, tidak pula pada keluarga yang tengah merawatnya.

Dipulangkan dari Singapura pada 3 Maret 2017, belum ada satu kata yang terlontar dari bibirnya. Masiah sakit. Bukan sakit biasa, tapi sakit berat. Kepergiannya yang terakhir untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Singapura bukannya berbuah bahagia, tapi malah berujung petaka.

Saat Lombok Post menyambanginya, kondisinya sudah lebih baik. Tiga pekan lalu, saat baru tiba dari Singapura, sulit menemukan kata-kata untuk menggambarkan kondisinya. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Bicara apalagi. Lalu sekujur tubuhnya juga lebam-lebam.

Masiah dijemput keluarga dengan tangis di Lombok International Airport. Air mata tiada bisa ditahan manakala keluarga menemukan sosok lemahnya. Di bandara, dia hanya ditemani seorang staf PT Angkasa Pura yang menyerahkannya ke keluarga.

Masiah bukan TKW ilegal. Dia berangkat dengan dokumen yang lengkap. Kepergiannya ke Singapura, adalah untuk kali kedua. Kepergian sebelumnya, dia begitu bahagia. Bekerja dengan semangat. Lalu pulang ke tanah air setelah habis kontrak.

Masiah juga bukan TKW baru. Dia berpengalaman. Sebab, sudah merantau di negeri orang selama sembilan tahun. Memang dia tidak bekerja mentereng. Dia adalah pranata rumah tangga.

Tapi, meski menjadi TKW yang resmi, tak ada petugas dari PJTKI yang menjemput Masiah di bandara. Seseorang dari perusahaan tersebut memang menghubungi keluarga, memberitahukan Masiah dipulangkan. Tapi, orang itu tak nongol-nongol.

a�?Orang dari PJTKI sudah pulang duluan dari bandara,a�? tutur Murahim, paman Masiah pada Lombok Post awal pekan ini.

Saat dijemput di bandara itulah, keluarga mengetahui kalau Masiah selain stroke juga mengalami depresi. Tubuhnya banyak luka lebam. Luka itu ada di punggung, kaki, dan tangan.

Maka dari bandara, Masiah tidak pulang ke rumah. Dia pulang ke RSUD Tripat di Gerung untuk menjalani pemeriksaan. Keluarga membawanya ke sana. Tentulah dengan merogoh kocek sendiri.

Dokter lalu menangani Masiah. Hasil pemeriksaan, Masiah mengalami dehidrasi tinggi. Diagnosa dokter, telah dua pekan, air tidak masuk dalam tubuhnya. Masya Allah. Beruntunglah, nyawanya masih tertolong.

Di Singapura, Masiah bekerja pada majikan bernama Tuan Faisal. Cuma itu. Selebihnya tak ada informasi lebih yang diketahui keluarga. Saat pulang, Masiah hanya membawa uang Rp 1,8 juta ditambah dengan 100 dolar Singapura. Uang itu tersimpan rapi di dalam dompetnya.

Dari Singapura, Masiah tidak membawa koper dalam penerbangan. Dia hanya membawa kardus. Keluarga kata Murahim membuka kardus itu. Namun, isinya bikin terkejut. Sebab, di dalamnya hanya ada peralatan dapur. Plus bumbu-bumbu masak.

Tentu saja keluarga tidak berharap Masiah membawa oleh-oleh. Tidak. Namun, tak lazim kalau Masiah pulang membawa peralatan dapur. Apalagi bumbu-bumbu masak segala macam.

Setelah menjalani perawatan, kondisi Masiah kini sudah mulai membaik. Dia pun sudah mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Cuma berbicara dia belum bisa.

Tidurnya pun jarang nyenyak. Kadang dalam tidur dia meracau. Masiah mengigau. Kata-kata tak jelas terlontar. Kalau sudah begitu, Masiah biasanya tidak bisa terlelap hingga pagi.

Haeriah, bibi Masiah menuturkan, sebelum merantau ke Singapura, Masiah pernah dua tahun bekerja di Malaysia. Kemudian pernah enam tahun menjadi TKW ke Singapura. Sebelum akhirnya berangkat kembali untuk kali kedua tahun 2015. Cuma memang tidak dari daerah asalnya. Melainkan dari Batam. a�?Semua dokumennya juga diurus di sana (Batam),a�? ujar Haeriah.

Kini tiada lain yang diharap keluarga. Masiah bisa sembuh. Ceria seperti sebelumnya. Segala upaya sudah dilakukan pihak keluarga untuk bisa berkomunikasi dengannya. Tapi hasilnya masih nihil.

Keluarga juga tak kuat merawat Masiah lama-lama di rumah sakit. Biaya menjadi kendala. Karena itu, keluarga memilih merawat seadanya di rumah. Belakangan, apabila ada orang sekampung yang datang menjenguk, raut wajah Masiah berubah sedih. Meski tak mengeluarkan kata-kata, tapi dia sering menitikan air mata. Kadang-kadang bahkan tanpa sebab, matanya tahu-tahu telah sembab. Tak seperti sebelumnya, Masiah kini tak lagi bisa memberi. Tak lagi bisa menafkahi keluaga. Justru hidupnya kini ditopang belas kasihan.

***

Masih di Lombok Barat, di Dusun Sesaot Timur, Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Sabarudin juga mengalami nasib yang sama dengan Masiah. Pergi dengan tubuh kekar, laki-laki 49 tahun itu pulang dengan luka bakar di sekujur tubuh. Hampir 90 persen tubuh Sabarudin melepuh.

Musibah menimpa Sabarudin saat tengah bekerja di salah satu pabrik oli di daerah Johor, Malaysia. Itu terjadi setelah delapan bulan dia bekerja di sana.

Tadinya saat masih di kampung halamannya, Sabarudin bekerja serabutan. Dia lalu memilih menjemput nasib di Malaysia, dengan berharap mendapat peruntungan lebih baik. Delapan bulan bekerja, dia begitu bahagia. Punya penghasilan, bisa menabung. Sampai akhirnya petaka itu datang. Petaka yang mengubah 180 persen jalan hidupnya.

Semua bermula kala satu mesin pembuat oli di pabrik tempatnya bekerja rusak. Lalu tak lama. Duuaarrrrrr! Mesin itu meledak. Bola api melahap apa saja yang paling dekat. Termasuk Sabarudin bersama seorang rekannya yang berdiri tak jauh dari mesin.

a�?Setelah itu saya tak tahu persis apa yang terjadi. Saya langsung pingsan,a�? kenangnya saat kepada Lombok Post, Sabtu (4/3) lalu.

Penuturan rekan kerjanya, Sabarudin sempat koma selama dua hari dua malam. Terjaga, Sabarudin mendapati dirinya telah terbaring di rumah sakit. Dia dirawat hingga memungkinkan fisiknya untuk pulang dengan biaya yang ditanggung mandor pabrik tempat dia bekerja. Namun, kondisinya tentu saja tak bisa pulih seperti sedia kala. Bahkan saat pulang, akibat bekas luka di tubuhnya, ia tidak dikenali. Termasuk oleh keluarga sendiri.

Derita Sabarudin memuncak kala dia harus pulang pada 2014. Pabrik tempat dia bekerja tak memberi uang pesangon. a�?Boro-boro pesangon, gaji satu bulan pun tak cair,a�? katanya.

Dia tak tahu kenapa. Kadang dia berpikir, mungkin karena sudah ditanggung biaya pengobatan rumah sakit, maka tak ada pesangon dan tak ada gaji yang menjadi haknya dia terima.

Saat tiba di kampung halamannya. Sabarudin pun belum tenang. Kepulangannya yang diurus tekong memang berbiaya. Nilainya Rp 4 juta. Keluarganya pun akhirnya harus membayar itu semua.

Kini, secara kasat mata kondisi fisik Sabarudin laiknya pria dewasa yang normal. Apalagi kalau luka bakar di tubuhnya telah tertutup pakaian.

Tetapi ketahanan fisiknya mulai berkurang. Dia lemah. Bahkan sudah tidak bisa lagi bekerja berat. Sekadar menjadi kuli bangunan ataupun bekerja di sawah sebagai buruh tani pun tidak lagi bisa dia jalani.

Sebab, jika terlalu lelah, bekas luka bakar di kulitnya akan mulai terasa panas. Rasa panas itu akan kian menggila kala bulir-bulir keringat mengucur. Serasa ada api lain yang membakar kulit. a�?Kalau sudah begitu, saya pun tak bisa tidur malam hari,a�? katanya.

Tentu saja, Sabarudin tak hendak pasrah dengan keadaan. Ia sempat melakukan terapi selama beberapa bulan di salah satu dokter spesialis kulit di Mataram. Namun, karena sudah tidak memiliki biaya, ia memilih berhenti.

Padahal dengan terapi itu, perlahan kondisinya mulai membaik. Bayangkan, wajah yang dulu tak berbentuk, dengan terapi yang dijalani perlahan membaik. Kendati bekas luka bakar tak hilang.

Sabarudin sangat berharap adanya uluran tangan dermawan untuk melanjutkan terapi. Walaupun sulit menjadi normal lagi, dengan terapi sedikit membantunya pemulihan. a�?Mau berobat sudah tidak ada uang. Tanah sudah habis dijual,a�? katanya.

Satu-satunya rasa syukur paling besar Sabarudin sekarang ialah kelurga yang begitu setia mendampingi. Istri dan ketiga anaknya menerima kondisinya apa adanya. Walauapun bentuk fisiknya kini tak lagi seperti dulu, keluarga memberikan dukungan luar biasa.

Hingga saat ini Sabarudin mengaku hanya mendapat obat-obatan sederhana. Bantuan dari pemerintah yang sangat didambakan tak kunjung menghampirinya. Bayangkan, sekali berobat Sabarudin mengelurkan sedikitnya Rp 500 ribu lebih.

Dalam sebulan ia melakukan lima kali kontrol. Sungguh berat bagi dirinya dan keluarga yang kini hanya mengandalkan pemasukan dengan menjadi tukang parkir di kawasan wisata Sesaot.

***

Di Lombok Utara, nasib nahas juga dialami Muhdi. Bujang berusia 33 tahun asal Dusun Karang Bedil, Desa Gondang, Kecamatan Gangga ini kini hanya bisa meratapi nasib di rumahnya.

Muhdi tak bisa lagi bekerja. Syukur saja, dia masih bisa melayani dirinya sendiri. Sebab, dia sudah tak lagi bisa berjalan. Kedua kakinya sulit digerakkan.

Dia mengalami petaka saat bekerja di perkebunan sawit di Malaysia. a�?Itu di daerah Pahang,a�? katanya kepada Lombok Post dua pekan lalu.

Sudah lama Muhdi mengais rezeki di Negeri Jiran tersebut. Dia berangkat kali pertama ke sana saat usianya baru 22 tahun. a�?Itu tahun 2005,a�? katanya mengenang.

Di sana, kala itu, jika dirupiahkan Muhdi paling banyak mendapatkan upah sekitar Rp 2,6 juta. Jumlah gaji tersebut diakuinya masih sangat minim untuk kehidupan sehari-hari di sana. a�?Kalau sudah dipotong biaya makan, ada sekitar Rp 1 juta sisanya,a�? katanya.

Almanak menunjukkan bulan November 2011, kala petaka itu datang. Saat itu, Muhdi sedang bertugas mengangkut kelapa sawit yang sudah dipanen menggunakan kendaraan mirip bajaj yang dilengkapi bak terbuka. Kendaraan sarat kelapa sawit berduri-duri itu kecelakaan. Muhdi mendapat luka di kepala, punggung, dan kedua kaki. a�?Sempat dioperasi juga di sana dan dapat 16 jahitan di punggung,a�? terangnya.

Perusahaan membantu biaya berobat. Hanya saja, perusahaan tidak mau mengeluarkan uang untuk memulangkan Muhdi ke Indonesia. Muhdi juga tidak mendapatkan asuransi karena kecelakaannya tersebut.

Beruntung rekan-rekannya yang berasal dari Indonesia membantu mencarikan ongkos bagi Muhdi pulang. a�?Temen-temen di sana urunan. Terus saya diantar sama dua orang teman saya asal Narmada dan Lombok Tengah,a�? ungkapnya.

Setelah kecelakaan yang dialaminya, Muhdi mengaku tidak bisa berjalan normal. Dirinya sempat mengandalkan kursi roda untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Baru dua tahun ini, dua kaki Muhdi bisa digerakkan. Dia pun kini bisa menopang tubuhnya kala berdiri, tapi harus dengan bantuan tongkat.

Semenjak itu pula, Muhdi tak bisa lagi membantu penghidupan keluarganya. Sehari-hari Muhdi hanya berada di rumah. Geraknya tak bisa jauh. Hidupnya pun hanya bergantung pada sang ibu, Inaq Manta yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Keduanya tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Untuk makan sehari-hari, Muhdi dan ibunya dibantu saudara-saudara Muhdi yang lain. a�?Gimana mau kerja jalan saja tidak bisa lancar,a�? katanya.

Namun, dia bertekat tak menyerah. Dia kini getol melatih kakinya agar bisa digerakkan. Dia berharap, suatu saat kedua kakinya bisa menopang gerak tubuhnya, sehingga setidaknya bisa keluar rumah mencari pekerjaan.

***

Di Lombok Timur, ada Lalu Nopi yang juga nasibnya nahas. Pria 30 tahun itu kini hanya bisa terbujur di sudut salah satu ruangan di dalam rumahnya. Dengan balutan perban di seluruh bagian kaki kirinya, ia terkulai lemas tak bisa bergerak banyak.

Nasib nahas dialami Nopi saat bekerja di Malaysia. Bersama rekannya Amaq Mahuni, dia mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan keduanya mengalai cedera parah hingga harus dipulangkan ke tanah kelahirannya Sabtu (25/2) lalu.

a�?Seingat saya, kami kecelakan ditabrak dari belakang 29 Januari lalu saat pulang kerja sekitar pukul 09.00 malam. Tapi kami nggak tahu apa yang nabrak itu apakah mobil atau apa. Saat saya sadar, saya berada di rumah sakit,a�? ujar Nopi kepada Lombok Post.

Saat terjadi kecelakaan, Nopi mengaku berada di depan menggunakan sepeda motor. Di belakang, Amaq Mahuni membonceng. Kecelakaan terjadi di wilayah Kampung Melayu di Johor.

Warga Dusun Dasan Paok Desa Jurit Baru Kecamatan Pringgasela ini merasa mengemudikan motor dengan kecepatan tidak terlalu kencang. Namun, hantaman yang cukup keras dirasakannya datang dari arah sebelah kiri. Hal itu pula yang membuat kedua warga Lotim ini mengalami cedera parah pada kaki kiri.

a�?Saya yang lebih parah daripada kawan itu. Kalau dia sudah berjalan dengan bantuan tongkat. Tapi kalau saya harus diangkat dan belum bisa jalan sama sekali,a�? ungkapnya. a�?Tiga gigi saya juga copot, dan ini masih ada yang goyang. Masih sakit belum bisa mengunyah,a�? akunya sambil membuka mulut dan menunjukkan gigi yang copot tersebut.

Nopi dan Amaq Mahuni yang merupakan warga Dusun Bagek Belang Desa Semaya Kecamatan Sikur dirawat di rumh sakit selama 15 hari. Setelah kondisi membaik, keduanya kemudian dipindahkan ke kantor Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia untuk dipulangkan melalui Tanjung Pinang.

Ketika di Malaysia, Nopi bekerja di perkebunan pisang dan pepaya. Nopi berada di Malaysia sekitar 1,5 tahun tahun. Ia berangkat menggunakan visa pelancong. a�?Asuransi tidak ada karena saya lewat jalur bukan jalur resmi. Saya hanya dibantu untuk proses pemulangan saja,a�? ucapnya.

Hingga saat ini belum diketahui pasti apa penyebab kecelakaan dan siapa yang menabrak Nopi. Kondisinya saat ini juga membuatnya hanya bisa makan bubur karena belum bisa mengunyah.A� a�?Tulang paha saya sekarang patah, Ini saya masih belum bisa bergerak semua masih sakit,a�? kata dia.

Kenapa memilih bekerja di Malaysia bahkan bukan jalur resmi? Nopi mengaku terpaksa menempuh jalur tersebut lantaran mendaftar lewat jalur resmi harus melalui proses cukup lama. a�?Kadang delapan bulan baru bisa berangkat. Itu pun masih belum pasti. Belum lagi kita harus dipermainkan calo atau PPTKIS lewat kita berangkat nanti,a�? bebernya.

Sehingga, saat jeda waktu sebelum keberangkatan, para calon TKI bingung mau berbuat apa. Inilah yang kemudian menyebabkan hutang mereka menumpuk sebelum berangkat. a�?Kalau lewat jalur ilegal kan cepat berangkatnya kalau kita ada teman di Malaysia. Itu hanya beberapa hari langsung bisa berangkat menggunakan visa pelancong. Tapi memang risikonya besar,a�? akunya. Termasuk risiko kecelakaan seperti yang dialami dirinya.

Kini dia belum tahu, apakah setelah pulih akan bisa bekerja seperti biasa lagi. a�?saya berdoa pada Allah semoga bisa pulih,a�? katanya dengan suara bergetar.

Tanggung jawabnya masih besar. Dia punya dua orang anak yang satu orang masih kelas 3 SD dan satu lagi berusia empat tahun. Saat ini, kebutuhan hidup keluarga Nopi otomatis masih bergantung pada istrinya yang bekerja sebagai buruh tani. a�?Kasihan anak-anak saya karena kondisi saya yang tak bisa berbuat apa-apa,a�? ungkapnya.

Terpisah Kepala Desa Jurit Baru Athar Yunaidi mengaku tak banyak tahu tentang keberadaan TKI ilegal yang ada di desanya. Diakuinya, memang banyak warga yang menjadi TKI, namun tak tahu kepastian bahwa mereka ilegal atau tidak. a�?Kalau tahun 2016 lalu ada 66 orang yang jadi TKI. Kalau tahun ini ada sekitar 18,a�? ungkapnya.

Dia mengaku memang mengalami kesulitan untuk mendata para TKI yang ilegalA� atau tidak. Sehingga, dikatakannya menjadi PR yang harus diselesaiakan. a�?Kalau kami hanya bisa berupaya menekan keberadaan TKI ilegal ini melalui sosialisasi,a�? tandasnya.

Kondisi para TKI yang pulang cacat dan hidupnya kini menjadi tak menentu ini, adalah alarm bagi pemerintah untuk memperketat. Adalah fakta bahwa NTB adalah gudang para TKI. Tujuan utama mereka adalah ke Malaysia.

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Mucharom Ashadi menyebutkan pada 2015 saja, TKI NTB yang berangkat ke luar negeri sebanyak 28.932 orang. Sementara pada 2016 sebanyak 22.902 orang. Sebagian besar ke Malaysia dan bekerja di berbagai sektor, seperti perkebunan dan buruh bangunan.

Terhadap mereka yang bekerja melalui jalur resmi, BP3TKI sudah memiliki sistem dalam penempatan dan perlindungan agar TKI sehingga mereka terlindungi. Bahkan sebelum berangkat mereka dibekali keterampilan melalui Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKN) yang ada di Banyumulek dan Narmada. Dalam pelatihan itu mereka diajarkan tentang keterampilan sesuai bidang pekerjaan, peralatan dan keselamatan kerja yang harus dipenuhi, termasuk memperkenalkan kondisi lingkungan kerja di negara tujuan, mulai dari bahasa dan aturan yang berlaku di negara tersebut.

Persiapan itu dilakukan untuk menghindari TKI mengalami kecelakaan kerja di luar negeri. Meski demikian, ia tidak memungkiri kecelakaan bisa dihindari. Selain itu berberapa kasus penyiksaan juga masih terjadi. Sehingga ada yang pulang dengan selamat, ada juga yang pulang dalam kondisi sakit atau cacat.

Tahun 2016, jumlah TKI bermasalah yang dipulangkan BP3TKI Mataram sebanyak 107 orang, dalam kondisi sakit 25 orang dan meninggal dunia 57 orang. Pada 2017 per Januari hingga Februari tercatat TKI bermasalah 40 orang, pulang dalam kondisi sakit 10 orang, dan meninggal dunia 6A� orang. Jika ditotal jumlah TKI yang dipulangkan sebanyak 147 orang, TKI yang sakit 35 orang, dan jumlah jenazah TKI yang dipulangkan sebanyak 63 orang. a�?Sakitnya macam-macam, ada yang kecelakaan kerja, sakit biasa dan sebagainya,a�? ujarnya.

Bagi mereka yang pulang dalam kondisi sakit atau cacat, BP3TKI melakukan rehabilitasi purna penempatan. Terutama mereka yang cacat permanen atau ganguan psikologi. Juga diberikan bantuan, baik dalam bentuk biaya perawatan berkerja sama dengan RS Bayangkara Polri. a�?Tahun ini kita akan melakukan rehabilitasi di kabupaten Lombok Timur,a�? katanya.

Dalam proses rehabilitasi ini, pihaknya juga bekerja sama dengan Dinas Sosial dan Palang Merah Indonesia (PMI), sehingga mereka benar-benar pulih dan bisa hidup normal seperti semula.

Kepala Dinas Sosial NTB H Ahsanul Khalik mengatakan, rehabilitasi yang dilakukan tidak hanya bagi mereka yang cacat karena bekerja di luar negeri, tetapi juga mereka yang cacat dan butuh bantuan agar bisa memiliki penghasilan. a�?Kalau eks TKI, cacat, korban tindak kekerasan dan perdagangan orang, sama programnya,a�? ujar Khalik.

Ia menyebutkan, tahun 2016 lalu jumlah warga yang dibantu sebanyak 130 orang, mereka diberikan pelatihan dan modal usaha sebesar Rp 3 juta per orang. Tujuannya agar bisa hidup mandiri di kampungnya. Program semacam itu menurutnya rutin dilakukan dinas sosial setiap tahun, terutama mereka yang cacat secara fisik. Khusus yang cacat, di Lombok Tengah dari tahun 2014-2016 hanya tiga orang, sementara di Lombok Timur tahun 2016 hanya satu orang. Ada yang menjalankan usahanya sendiri ada juga yang dibantu istrinya. a�?Berhasil tidaknya relatif, yang pasti usahanya masih tetap jalan,a�? katanya.

Apakah cukup itu semua? Tentu belum. a�?Kami mendorong pemerintah punya tanggung jawab yang lebih besar,a�? kata Koordinator Advokasi Kebijakan Perkumpulan Panca Karsa Baiq Halwati.

Dia memberi analisi. Menurutnya, kebanyakan para TKI NTB adalah masyarakat dengan pendidikan rendah. Sehingga ketika ada persoalan menyangkut hak-hak mereka sebagai buruh dikebiri, tidak tahu harus berbuat apa untuk melindungi diri.

Salah satu kasus yang masih diingat Halwati dan pernah ditangani yakni TKI asal Lombok Tengah. Saat itu, dari pihak keluarga melaporkan dan meminta bantuan advokasi atas dugaan bola mata seorang pekerja yang hilang dan diduga a�?diambila�� untuk perdagangan atau transplantasi organ.

Sayangnya saat itu ketika PPK hendak memberikan pendampingan advokasi, pihak keluarga ternyata tidak setuju jika dilakukan autopsi terhadap jasad TKI itu. a�?Ya kita tidak bisa jadinya memberikan pendampingan. Sebab bukti-bukti tidak ada,a�? ujarnya.

Begitu juga dengan kasus lainnya. Seperti ada korban yang dikembalikan dalam kondisi ada jahitan di bagian perut. Tetapi, ketika pihaknya siap memberikan pendampingan advokasi atas kecurigaan adanya organ yang hilang, pihak keluarga selalu menolak untuk dilakuakan autopsi.

a�?Mungkin mereka tidak tega, melihat mayat keluarganya harus dibongkar lagi. Tapi yang namanya autopsi ya begitu,a�? terangnya.

Bagi Halwati, banyak pekerjaan rumah yang memang harus diberesi oleh pemerintah dan juga masyarakat. Termasuk dari sisi pemberdayaan para TKI yang pulang dengan cacat permanen.

Sebab, kalau Masiah, Sabarudin, Muhdi dan Lalu Nopi tidak tersentuh sama sekali dengan bantuan-bantuan pemberdayaan itu, tentu harus ada yang bertanya. Ada Apa? (zen/puj/ton/ili/zad/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka