Ketik disini

Metropolis

Didirikan Pendatang Banjar 101 Tahun Silam

Bagikan

Masjid Nurul Qomar Shirothol Mustaqim di Kelurahan Banjar adalah salah satu masjid tertua di Mataram. Masjid itu sudah berdiri sejak 1916 silam. Bangunan inilah salah satu saksi bisu perkembangan Ampenan tempo dulu.

***

TAK ada yang sepesial dari sebuah bangunan masjid di Kelurahan Banjar. Terletak di Jalan Energi nomerA� 03, masjid tersebut tampak biasa-biasa saja. Menggunakan atap seng, seluruh bagiannya nyaris tertutupi karat. Itu menjadi penanda kalau bangunan tersebut memang bukanlah bangunan baru.

Melihat bentuknya yang sangat sederhana, nyaris persegi sempurna juga menandakan bangunan ini memang bukanlah bangunan baru. 1981 merupakan tahun terakhir pemugaran besar masjid tersebut. Selebihnya hingga 2017 hanya perbaikan kecil saja semisal pengecatan ulang.

Dipugar 36 tahun silam, artinya masjid itu berdiri jauh sebelum tahun tersebut. “Pendiriannya 1916,a�? kata Ketua Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) NTB Nanang Edward.

101 tahun, itulah usia masjid yang seolah luput dari sejarah itu. Dengan umur sepanjang itu, jelas Majid Nurul Qomar sudah melalui begitu banyak masa. Masjid itu merupakan satu-satunya peninggalan benda tersisa dari masyarat Banjar pada periode awal.

Diperkirakan datang pada era akhir 1800an, orang-orang banjar yang kini menjadi Provinsi Kalimantan Selatan kala itu datang ke Lombok via Pelabuhan Ampenan.

Dakwah adalah salah satu tujuan kedatangan nenek moyang mereka. Selain syiar agama, sejumlah reverensi juga menyebutkan kedatangan Orang Banjar erat kaitannya dengan pertempuran di Lombok.

Kutipan dari Babad Lombok; Puh Pangkur, nomor 982 menyatakan hal itu. a�?Desa punika rinujak pirang, tahun prandane nora sirik, Sang Prabu Lombok hangutus, ngundang prajurit Banjar, sampun kondang roro prajurit kang kasub, haran Pelo Sutrabaya, saren lan wong Selakawis.a�?

Berkecamuknya peperangan antara kerajaan orang Bali yang ada di Lombok dengan penduduk asli Lombok mengharuskan orang Banjar ikut berperang. Mereka berpihak pada kerajaan setempat milik orang Lombok.

Bukti lain adalah keterangan dari beberapa naskah lama, termasukyang ada di Kalimantan, khususnya Banjarmasin. Hasil gubahan para pujangga lama semisal Tutur Candi atau Hikayat Lambung Mangkurat memuat keterkaitan riwayat tentang sejarah raja-raja Banjar dan Kotawaringin dengan Lombok. a�?Sebaliknya Babad Selaparang dan Babad Lombok juga demikian,a�? ujarnya.

Masjid yang kini tampak usang itulah salah satu saksi bisu perkembangan masyarakat Banjar di Lombok. Di sana pusat kegiatan warga Banjar. Di seputaran masjid itulah kali pertama warga Banjar berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Selain menyebar agama, membantu peperangan, perniagaan juga menjadi hal lain yang dilakukan masyarakat Banjar yang kini jumlahnya mencapai 700 KK di seluruh NTB. Selain karena dekat dengan Pelabuhan Ampenan, warga Banjar kala itu memilih lokasi tersebut tak lain karena lokasinya yang dekat dengan Sungai Jangkuk.

“Di Banjar sana, kami juga terbiasa hidup berdekatan dengan sungai,a�? ujar Nanang. (WAHYU PRIHADI/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka