Ketik disini

Kriminal

Tersangka Kasus Alat Peraga KLU Ditahan

Bagikan

MATARAM – Penyidik Tipikor Polda NTB menahan AT (inisial, Red), 37 tahun. Mantan Kasi Sarpras Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara (KLU) ini ditahan usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka, pada kasus dugaan korupsi alat peraga berbasis IT, kemarin (22/3).

Kabidhumas Polda NTB AKPB Tri Budi Pangastuti mengatakan, setelah penetapan tersangka terhadap yang bersangkutan, penyidik memutuskan untuk melakukan penahanan. Karena itu, AT akan menghuni sel tahanan di Mapolda NTB selama 20 hari kedepan.

a�?Iya sudah ditahan mulai hari ini (kemarin, Red),a�? kata Tri Budi, kemarin.

Kata Tri Budi, tersangka disangkakan dengan Pasal 2 Ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

a�?Ada perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian negara sebesar sekitar Rp 750 juta,a�? jelasnya.

Sementara itu, saat dimintai tanggapan terkait penahanannya, AT hanya berkomentar singkat.

a�?Saya jalani saja, ini namanya risiko pekerjaan,a�? kata dia sebelum memasuki sel tahanan Mapolda NTB, kemarin.

Sebelumnya, penetapan AT sebagai tersangka dikarenakan perannya ketika menjadi PPK saat proyek bergulir di 2014 silam. Dia terindikasi melakukan pengaturan saat pelelangan proyek. Dimana dia dituduh penyidik mengadakan kesepakatan untuk menaikan harga barang untuk proyek alat peraga.

Akibat perbuatan pelaku, dinilai merugi sekitar Rp 750 juta. Ini berdasarkan perhitungan kerugian negara yang dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) NTB.

Kasus dugaan korupsi alat peraga IT berasal dari APBD Provinsi NTB sebesar Rp 5 miliar. Dana tersebut disalurkan kepada Dikbudpora KLU dan dibagikan kepada 33 sekolah berupa alat peraga. Masing-masing sekolah menerima satu paket alat peraga berbasis IT yang terdiri dari lima item alat peraga.

Selain itu, alat pembelajaran sebanyak 23 item, alat penunjang sensor sebanyak lima item diterima 33 SD. Ada pula Kit Elektro Magnet sebanyak 21 item dan alat penunjang sensor sebanyak tujuh item.

Dalam perjalanannya, polisi mendapat laporan masyarakat adanya penyimpangan. Indikasi tersebut terlibat pada proses lelang yang dilakukan. Selain itu, sejumlah alat yang didistribusikan ternyata tidak memberi manfaat. Banyak guru yang tidak mampu mengoperasikannya. (dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka