Ketik disini

Metropolis

Dari Kritik Sosial sampai Parade Budaya Bali-Sasak

Bagikan

Bukan hanya sekadar pameran karya seniman membuat patung raksasa. Ogoh-ogoh juga banyak menyelipkan pesan moral dan toleransi. Seperti apa keseruannya? Berikut laporannya.

***

JALAN Pejanggik, memang lengang dari hiruk pikuk kendaraan. Tetapi, puluhan ribu manusia yang lebur dalam hingar-bingar musik tradisional sampai modern, membuat kawasan itu jauh berbeda.

Partikel cahaya matahari yang menyusup ke dalam pori-pori tidak mampu menyeret tubuh-tubuh yang terpanggang kepanasan, menepi. Jalanan tetap padat. Wajah-wajah antusias, tetap mendongak memandang wajah-wajah ratusan butha kalla yang menatap angkuh nan mengerikan.

a�?Dari Suralaga (Lombok Timur) datang dengan bapak,a�? terang wanita dengan jilbab hitam longgar.

Kamera yang tergantung di lehernya, sesekali diarahkan ke wajah-wajah kaku.

Wanita yang mengaku bernama Halizah itu, terlihat biasa, lebur dalam kerumunan orang. Ia pun mengaku tidak merasa terganggu, meski memiliki keyakinan berbeda. Baginya ini hanyalah parade budaya dan karya seni.

“Saya bukan orang yang fanatik, jauh-jauh datang ke sini memang buat nonton ini (parade ogoh-ogoh), kita lihat ini sebagai karya seni,a�? ujarnya.

Lagi pula, Halizah juga menyebut agama non-muslim kerap menyaksikan parade atau pawai Islami. Mereka tidak pernah menganggu. Bahkan ikut menjaga keamanan.

Apa yang ia lakukan saat ini, diakuinya bukan toleransi a�?balas jasaa��. a�?Kita hanya ingin hidup rukun dan berdampingan,a�? tandasnya.

Ada 157 ogoh-ogoh dipamerkan sepanjang jalan Pejanggik Senin (27/3) lalu. Rata-rata desain karya seni patung raksasa itu berupa manusia setengah binatang. Ini memang, percampuran lazim kerap ditemui pada sosok Butha Kala.

Tetapi, ogoh-ogoh yang dibuat Mahasiswa dari STMIK Bumi Gora Mataram, salah satu yang anti mainstream. Mereka membut patung manusia berkepala tikus.

Mulut, leher, tangan dan kantong patung itu bukannya penuh dengan keju, makanan kesukaan tikus. Tetapi, ada uang dengan pecahan tertinggi yakni Rp 100 ribu. Jumlahnya sangat banyak.

Patung itu memegang poster kecil. Terbuat dari kardus. Di poster itu tertulis, bahasa Mahasiswa yang khas sarkasme.

“Saya Korupsi dan Saya Bangga,a�? begitu tertulis di sana.

Jelas sudah, para pembuatnnya ingin melakukan kritik sosial. Korupsi yang nyaris menjadi budaya di negeri ini, membuat anak-anak muda itu, gerah. Membuat patung ini, dikatakan memang tidak mungkin bisa memberantas korupsi.

a�?Tetapi ini setidaknya bisa jadi bentuk protes dan perlawanan kami, pada praktik korupsi,a�? kata pemilik ide karya ini I Gusti Agung Bagus Sudiapratama.

Baginya, para koruptor sudah seprti butha kala modern. Merampas harta rakyat dengan cara-cara jahat. Mereka bergentanyangan di pos-pos anggaran negara yang telah dianggarkan untuk menyejahterakan masyarakat.

a�?Karena itu, seperti ogoh-ogoh, koruptor juga pantas dibakar,a�? cetusnya.

Sebenarnya ia dan beberapa rekannya, sempat bingung mau buat patung ogoh-ogoh apa. Anggaran yang terbatas didapat dari sumbangan kampus dan urunan dari masing-masing anggota, tidak cukup membuat patung besar dan megah.

a�?Tetapi akhirnya kami bisa buat ini juga,a�? ujar rekannya yang lain, Komang Tangguh.

Mereka mengaku sudah mengerjakan patung ogoh-ogoh sejak dua bulan yang lalu. Bahan-bahan dikumpulkan dengan mengumpulkan koran, bungkus semen dan membeli bahan, seperti cat, bambu, roda dan lain sebagainya.

a�?Kami memang ingin membuat sesuatu yang berbeda, tidak membuat patung ogoh-ogoh dengan wajah menyeramkan,a�? ungkapnya.

Tetapi cukup dengan simbol-simbol yang mudah dimengerti. Seperti halnya tikus, masyarakat sudah sangat familir, binatang ini memang kerap diidentikan sebagai representasi dari sikap dan tindak-tanduk para koruptor.

a�?Masyarakat bisa langsung tahu, kami tengah mengkampanyekan anti korupsi,a�? tandasnya.

Hal menarik lainnya dari pawai ogoh-ogoh Senin (27/3) kemarin yakni, keterlibatan kesenian khas Lombok yang ikut hadir mewarnai. Sebut saja diantaranya, Joget Ale-ale dan Kecimol. Dua kesenian ini menjadi identitas masyarakat Lombok. Sementara ogoh-ogoh adalah budaya masyarakat Hindu Bali.

Maka saat ketiganya berada dalam a�?satu panggunga�� cita rasa kebersamaan, keberagaman dan toleransi sangat terasa. a�?Kami hanya ikut menyemarakkan,a�? kata Darme salah satu sekahe Ale-ale Pade Paran, Bengkaung Lauq, Lombok Barat.

Ia juga mengatakan adanya kesamaan a�?daraha�� antara budaya Bali dengan Lombok. Karena itu, momentum pawai ogoh-ogoh juga dimanfaatkan untuk menunjukkan kebersamaan dan adanya rasa persaudaraan.

“Selain itu ya, cari rezeki,a�? tutupnya sembari tertawa kecil. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys