Ketik disini

Metropolis

Nyepi yang Damai

Bagikan

MATARAM – Ritual Nyepi berjalan damai. Umat Hindu Dharma di Kota Mataram bisa melaksanakan dengan khusyuk rangkaian ritual Nyepi.

Diawali upacara Melasti di Pantai Loang Baloq, disusul pawai Ogoh-ogoh dan diakhiri dengan Perang Api. Baru selanjutnya umat Hindu menggelar Catur Brata Penyepian atau lebih familiar disebut Nyepi.

Umat Hindu tidak boleh menghidupkan api atau amati geni, tidak bekerja atau amati karya, tidak berpergian atau amati lelungan dan tidak boleh mendengar hiburan atau amati lelanguan.

“Ogoh-ogoh yang diarak lebih dari 157,” kata Ketua Panitia Parade Ogoh-ogoh Mataram Anak Agung Made Jelantik.

Jumlah ini jauh meningkat di bading tahun lalu yang hanya 115 ogoh-ogoh. Jelantik mengatakan, peningkatan jumlah ini tidak lepas dari dukungan dan peran aktif banyak pihak. Terutama keterlibatan umat Hindu di luar kota, yakni dari Lombok Barat dan Lombok Tengah. “Ibarat gadis cantik yang dihiasi bunga warna-warni,” ujarnya.

Perumpamaan ini ia sampaikan menyikapi semakin banyak dan meriahnya perayaan ogoh-ogoh di Mataram. Semarak perayaan penuh kreativitas seni dan banyak pihak yang terlibat merayakan, membuat gaung acara semakin besar.

Harapannya selain mengukukuhkan kebersamaan, kerukunan, juga dapat berdampak lebih luas bagi sektor pariwisata. “Semakin semarak, tentu semakin banyak wisatawan yang datang ke daerah ini,” tandasnya.

Sementara itu, Wali Kota Mataram yang juga diberi gelar kehormatan Guru Wisesa H Ahyar Abduh, meyakini rangkaian momentum Nyepi, terutama perayaan ogoh-ogoh yang dihadiri lintas etnis, suku budaya dan agama ini, bisa semakin memperkuat momentum kebersamaan. “Ini harus terus dipelihara, ditingkatkan, dan ditularkan ke daerah lain,” kata Ahyar.

Mengingat juga, lanjutnya, Mataram punya moto kota yang sangat mengedepankan religiusitas. Secara khusus, dampak dari seluruh acara rangkaian acara Nyepi, Ahyar berharap umat Hindu di NTB, bisa memberi sumbangan besar. Menjaga keseimbangan antara Bhuana Alit atau alam manusia dengan Buana Agung atau alam semesta. “Mengingat kondisi alam yang mulai tidak ramah,” ujarnya.

Ia memastikan, pihaknya akan terlibat aktif. Menjaga kedamaian dan kenyamanan pelaksanaan puncak dari acara Nyepi. “Silakan laksanakan dengan khidmat, saya yang akan berkeliling (untuk menjaga) nanti,” tutupnya.

ADU NYALI: Sekelompok pemuda saling serang dengan daun kelapa kering yang sudah dibakar dalam acara perang api di Lingkungan Negara Sakah, Kota Mataram, Senin (27/3). Perang api merupakan salah satu rangkaian acara untuk menyambut hari raya Nyepi bagi Umat Hindu di Cakranegara. IVAN/ LOMBOK POST

Usai menggelar pawai ogoh-ogoh, masyarakat di Kecamatan Cakranegara, masih punya acara lain yaitu Perang Api. Salah satu tokoh Hindu di kawasan itu I Gusti Bagus Mayana, menyebut perang api sudah dilakukan secara turun-temurun. “Sekitar abad ke-18 silam,” ujarnya.

Secara filosofis, perang ini memiliki semangat untuk mengusir roh-roh jahat. Ia yakin kilatan dan kibasan-kibasan api dapat membuat roh jahat menjauh. Tidak menganggu umat Hindu yang akan menggelar ritual suci Nyepi.

“Pakai daun kelapa kering yang sudah diikat,” terangnya.

Setelah itu dibakar, lalu digunakan untuk ‘menyerang’ kelompok lain. Perang Api ditandai dengan membunyikan sejenis kentongan. Ini dilakukan oleh warga Sweta dan Negara Sakah.

“Tidak ada dendam, kita berperang dengan suka cita, mungkin hanya ini perang yang menyenangkan,” ujar Putu Mayana, sembari tertawa lebar.

Perang api ini disebut sebagai rangkaian sekaligus penutup rangkaian acara pra malam Catur Brata Penyepian. Ini untuk memeriahkan puncak dari upacara Butha Yadnya. “Ya, sakit dan panas sih,” cetusnya, sembari tertawa saat ditanya rasanya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka