Ketik disini

Headline Metropolis

TGB Jadi Duta ASI

Bagikan

MATARAMA�– Tingginya kasus gizi buruk di NTB menjadi salah satu persoalan yang disoroti Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita F Moeloek. Meski demikian ia melihat saat ini sudah ada perbaikan penanganan kasus gizi buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

a�?Dulu betul terkenal sekali NTB ini gizi buruk, banyak, tapi sekarang sudah jauh lebih (turun),a�? katanya saat menghadiri acara pencanangan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Provinsi NTB di Hotel Grand Legi, Rabu (29/3).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi NTB, jumlah kasus gizi buruk sepanjang tahun 2016 yakni 348 kasus. Ini tersebar di seluruh kabupaten/kota di NTB.

Angka ini tidak jauh beda dengan kasus gizi buruk tahun 2015 yang berada di angka tiga ratusan. Meski demikian, Menkes saat ditanya wartawan mengatakan NTB sudah baik, kalau dilihat tadi angka sudah menurun.

Dari sisi perhatian untuk penanganan gizi buruk, menurutnya semua pihak harus sama-sama, baik pemerintah daerah, pusat dan masyarakat dituntut bekerja sama. Sebab pemerintah pusat lebih sebagai regulator, kami membuat konsep kebijakan, setelah disetujui maka daerah bisa melaksanakannya.

Seperti gerakan masyarakat hidup sehat, penguatan Puskesmas, tidak ada lagi buang air besar (BAB) sembarangan, penanganan anak kurang gizi. a�?Itu dilaksanakan di daerah,a�? katanya.

Sementara terkait gerakan masyarakat hidup sehat, Menkes mengatakan, ia memberikan apresiasi kepada Pemprov NTB. Sebab program ini tidak akan bisa jalan tanpa didukung pemerintah daerah yang secara langsung mengajak masyarakat agar mau mengubah perilaku hidupnya.

Ia menjelaskan, Germas dicanangkan pada 15 November 2016 di Bantul. Germas lahir karena melihat pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilakukan oleh seluruh masyarakat tidak hanya dilakukan oleh pemerintah.

Menurutnya, permasalahan kesehatan yang timbul saat ini merupakan akibat dari perilaku hidup yang tidak sehat. Ditambah lagi dengan sanitasi lingkungan serta ketersediaan air bersih yang masih kurang memadai di beberapa tempat.

Indonesia tengah menghadapi tantangan serius berupa beban ganda penyakit. Perubahan gaya hidup masyarakat ditengarai menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit dari penyakit menular, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tuberkulosis (TBC), dan diare menjadi penyakit tidak menular (PTM), seperti stroke, jantung, dan kencing manis.

Dalam kegiatan itu, dilakukan penandatanganan MoU antara Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dengan Gubernur NTB, penelitian dan pengembangan kesehatan di Provinsi NTB. Selain itu, ada juga penyematan Pin Duta ASI oleh Menteri Kesehatan kepada Gubernur NTB.

Sementara itu, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi mengatakan, pihaknya sadar betul bahwa kesehatan adalah isu yang sangat penting dan strategis. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat tidak cukup dengan alokasi anggaran yang tinggi.

Di mana Provinsi NTB sendiri telah mengalokasikan anggaran yang cukup tinggi dalam bidang kesehatan yaitu sebesar 10 persen. Namun, hal itu belum cukup untuk mewujudkan masyarakat yang sehat. a�?Butuh kesungguhan dari berbagai pihak terutama keterlibatan dari masyarakat,a�? ujarnya.

Terkait terpilihnya ia menjadi Duta ASI, TGB mengatakan, meski seorang lelaki tidak memiliki ASI tetapi peran seorang bapak sangat penting dalam keluarga.

Ia harus memastikan kulitas ASI dan asupan gizi bagi keluarganya tercukupi. Menurutnya, gizi buruk bisa dihindari jika para ibu bisa memberikan asi eksklusif kepada anak mereka.

Untuk itu, ia mengajak semua pihak, lembaga adat, tokoh agama, dan pihak terkait agar sama-sama menyadarkan para ibu untuk memberikan ASI kepada anak-anaknya. a�?Hak anak yang paling penting untuk dipenuhi adalah dengan memberikan ASI yang terbaik,a�? ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr Nurhandini Eka Dewi mengatakan, angka gizi buruk 348 itu berasal dari seluruh kabupaten/kota di NTB. Bahkan dengan intensitas para kader turun ke bawah masih ada kemungkinan angka tersebut bertambah.

Sebab data tersebut baru yang tercatat di Posyandu. Sementara anak yang belum datang ke Posyandu masih ada. a�?Itu yang belum tertangkap,a�? katanya.

Untuk itu, ia meminta kepada semua Puskesmas untuk melakukan pendataan ke rumah tangga langsung. Sehingga bisa diketahui apa yang terjadi di rumah tersebut. Kemudian anak dengan gizi kurang bisa cepat ditangani.

Menurutnya, penyebab gizi buruk bermacam-macam, tidak hanya karena kemiskinan. Akan tetapi juga pola asuh yang salah. Sebab dalam beberapa kasus ditemui bahwa sang ibu memiliki perhiasan yang cukup tetapi anaknya gizi buruk.

Ia memaklumi karena tingkat pendidikan ibu di NTB rata-rata tujuh tahun. Untuk kasus ini, maka yang dilakukan adalah dengan pendekatan keluarga. Selain itu juga ada kasus gizi buruk karena penyakit bawaan, sehingga mereka tidak bisa mengkonsumsi makanan.

Meski demikian, dari sekian banyak faktor penyebab gizi buruk sebagian besar penyebabnya adalah kemiskinan. a�?Kita tidak pernah melihat perbandingan, tetapi paling besar nampanya kemiskinan,a�? ujar Dwi.

Sementara terkait Germas, Dewi menjelaskan, gerakan ini sebagai bentuk tindakan preventif atas meningkatnya penyakit tidak menular. Tindakan nyata dari Germas adalah melakukan aktivitas fisik, makan sayur dan buah-buahan, serta tidak merokok dalam kehidupan sehari-hari. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka