Ketik disini

Headline Metropolis

Jejak Saleh Sungkar (1) : Gigih Melawan Sistem Kolonial dan Feodalisme

Bagikan

Tidak banyak catatan mengungkap sejarah, siapa Saleh Sungkar. Sosok pemilik nama yang terpatri menjadi nama jalan di kota Tua Ampenan. Siapa dia? Berikut laporannya.

***

JIKA pernah berkunjung ke Ampenan, pasti tahu dimana jalan Saleh Sungkar. Membentang sepanjang kawasan Bintaro Mataram, menyambung jalan meninting raya, Lombok Barat sampai persimpangan jalan energi, Yos Sudarso, Koperasi dan Pabean.

Usut-punya usut, ternyata jalan itu awalnya nama seorang tokoh nasionalis muda asal Ampenan. Dialah Saleh Sungkar.

Sempat mengunjungi tempat usaha cucunya di jalan Panca Usaha, persis depan hotel Aston yakni Mohammad Sungkar, koran ini malah dimintai menemui seseorang yang disebut lebih paham cerita. “Nama kakak saya itu pak Sahlan,a�? kata orang yang karib dipanggil Moh itu.

Tapi di kediaman Sahlan, ia pun mengaku segan bercerita. Alasannya, ini cerita keluarga besar, jadi takut salah. Ia lantas meminta menemui Alex Sungkar. Seorang lawyers sekaligus pelatih sepak bola di Ampenan.

Alex adalah keponakan dari almarhum Saleh Sungkar. a�?Jadi, Saleh Sungkar itu ada tiga bersaudara,a�? terangnya.

Ketiganya yakni, Saleh Sungkar, Muhammad Sungkar dan Umar Sungkar. Alex mengaku sebagai putra dari Umar Sungkar. Saudara paling bungsu Saleh Sungkar. Tiga bersaudara itu, putra dari Syeikh Ahmad bin Abdullah Sungkar.

Konon Ahmad adalah seorang kapten arab dari negeri Yaman. Dalam perjalan sucinya menyebarkan agama Islam sembari berdagang, Ahmad lalu menikah dengan seorang gadis Tionghua di Bojonegoro, Jawa Timur. “Jadi ibu dari ayah saya dan ami (pak de, Red) adalah seorang chinese,a�? tuturnya.

Saleh lahir pada tahun 1920 di Ampenan. Menyelesaikan sekolah HIS Mataram. Lalu melanjutkan Sekolah MULO Solo dan juga Taman Madya Yogyakarta.

a�?Semasa muda beliau memang dikenal sangat aktif dalam kegiatan pergerakan kemerdekaan nasional, terutama masa pendudukan Jepang,a�? imbuhnya.

Dari catatan sejarah, setelah Indonesia menyatakan kemerdekaanya pada tahun 1945, Saleh semasa hidupnya banyak bertukar pikiran. Selain itu melakukan gerakan perlawanan dengan tokoh nasional. Diantaranya Soekarno dan Mohammad Hatta.

“Beliau akhirnya memutuskan pulang ke daerah asalnya, karena dia lahir disini. Di Lombok,a�? sambungnya.

Sebuah semangat mulia, dibawa Saleh pulang kampung. Membangun daerah pasca puing-puing reruntuhan perjuangan kemerdekaan. Dengan semangat pro-republik, ia membangun gerakan menyapu bersih sisa-sisa kolonialisme.

“Beliau sempat ditangkap waktu itu bersama abah saya, karena menggalang upaya sapu bersih sisa-sisa pemerintah kolonial. Abi selalu ada bekas lebam kalau keluar dari penjara. Mungkin dipukul di dalam penjara,a�? kenangnya.

Cerita ini sebenarnya tidak disaksikan langsung Alex. Ia dapat cerita dari sahabat karib seperjuangan abinya yakni, Saleh Basaleman. Dialah yang banyak bersaksi, bagaimana heroik perjuangan Saleh Sungkar, melawan primordialisme dan sistem pembodohan di NTB.

a�?Dia itu (Saleh Sungkar) orang yang sangat kuat, kata Saleh Basaleman pada saya,a�? kutipnya, mengenang perkataan sahabat dekat abinya.

Tapi penahanan itu tidak menciutkan nyali seorang Saleh. Waktu itu konon ada pergerakan elit bangsawan Sasak di tanah Lombok. Mereka ingin lepas dari Republik Indonesia. Lalu berupaya mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT).

a�?Saya sebenarnya tidak tahu persis ceritanya seperti apa. Tetapi dari cerita Saleh Basaleman, Abi berposisi menentang keinginan itu,a�? ujarnya.

Tentu ini perjuangan yang membutuhkan semangat heroik luar biasa. Serta keyakinan diri yang besar melawan semua itu. a�?Abi sempat tidak kuat melawan gerakan itu,a�? ujarnya.

Lalu ia bersama sahabatnya saleh Basaleman, bergerak menyatukan diri dengan perjuangan tokoh nasional di Jawa. Tapi saat itu oleh Bung Hatta, Saleh diminta balik ke Lombok.

“(Bung Hatta berkata) Leh (Saleh) jangan Leh, You punya pekerjaan banyak di Lombok,a�? tirunya.

Karena permintaan itulah, Saleh dan Basaleman memutuskan diri kembali ke Lombok. Konon dengan Tokoh Ulama Islam Lombok yakni Tuan Guru Haji Zainuddin Abdul Majid dari Pancor, Lombok Timur, mendirikan organisasi Persatuan Ulama Islam Lombok (PUIL).

a�?Dari situ beliau juga sempat terpilih menjadi Ketua DPRD Lombok dengan suara mayoritas, dari partai Masyumi,a�? terangnya.

Nama Saleh, semakin populer. Di sudut lain banyak lawan politik yang akhirnya kian tak suka. Apalagi dukungan dari rakyat untuk Saleh mengalir deras. Perlawanan tidak hanya diberikan pada kelompok politik elit bangsawan saat itu yang membangun sistem pemerintahan monarki. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka