Ketik disini

Headline Metropolis

Masa Jaya Arena Pacuan Kuda Selagalas (1) : Medan Pacu Kuda-kuda Tangguh

Bagikan

Seorang dukun mendekati seekor kuda. Ia membawa pelepah kelapa yang terbakar. Ketika peluit melengking, ia langsung menyulut kemaluan kuda. Apa yang terjadi?

A�***

NYARIS tanpa jejak. Kecuali, patung itu saja. Wajah lapangan sudah berubah total. Dengan fasilitas gawang dan bangunan tribun di sebelah timur. Sementara di sebelah barat, ada arena balap motor.

Jejak arena pacuan kuda tidak tersisa sedikit pun di lapangan itu. Barangkali generasi lima sampai sepuluh tahun berikutnya akan bingung. Apa sebab, lapangan itu lebih populer disebut Lapangan Pacuan Kuda? Apa pula penyebab di sana ada patung kuda?

a�?Dulu ketika lapangan itu masih digunakan sebagai tempat turnamen pacuan kuda, suasananya seperti pesta rakyat, kami selalu malas masuk sekolah,a�? tutur Ali, salah satu warga Selagalas, mengenang masa-masa emas Lapangan Pacuan Kuda itu.

Bagaimana tidak, orang-orang datang dari berbagai penjuru NTB. Jumlahnya sampai ratusan. Bahkan ketika final bisa menembus angka ribuan. Warga itu datang, menginap, berbelanja di sekitar lapangan. a�?Rumah saya dulu sering disewa orang-orang Sumbawa kalau ada lomba,a�? terangnya.

Kemeriahan suasana pacuan kuda, saat ada turnamen membuat warga sekitar sangat merindukan lapangan itu bisa dikembalikan lagi menjadi arena pacuan kuda. Sayang keinginan itu sepertinya masih jauh.

Apalagi dengan beralih fungsinya kedua lapangan itu kini menjadi tempat bermainA� bola dan balap motor. a�?Pendapatan warga meningkat, dari pedagang asongan sampai PKL dapat untung banyak saat itu masih jadi arena pacuan kuda,a�? timpal Ramli, mantan joki kuda asal Selagalas.

Olahraga pacuan kuda sangat merakyat. Penyukanya dari kalangan atas sampai masyarakat bawah. Itulah yang membuat setiap kali ada event pacuan kuda di tempat itu, masyarakat tumpah ruah di sana. a�?Saya juga sempat jadi joki, tetapi suatu ketika kaki saya sobek, terkoyak ranting pohon, sejak itu saya berhenti,a�? tuturnya.

Ramli ingat betul ia punya badong (jimat, Red) berupa kain putih yang selalu dililitkan di pinggang saat berlomba. Badong itu selalu membuat ia tampil percaya diri, bahkan cendrung nekat di atas kuda. a�?Tanpa pelana dan pengaman joki yang lengkap,a�? terangnya.

Warga Selagalas juga tidak mau hanya jadi penonton. Dari penuturan Ramli ada beberapa nama kesohor yang punya kuda tangguh di Selagalas. Kuda-kuda mereka silih-berganti jadi juara. a�?Ada abah Oni dan almarhum pak Dulahir,a�? ujarnya.

Kebanggaan punya kuda tangguh asal daerah sendiri, membuat masyarakat Selagalas semakin percaya diri. Apalagi dilengkapi dengan fasilitas lapangan pacuan kuda satu-satunya di Kota Mataram saat itu. a�?Sebenarnya ada satu lagi di Karang Jangkong, tetapi setelah itu ditutup dan dibangun Mataram Mall, semua pindah ke sini,a�? terangnya.

Pertandingan semakin menarik dengan adanya judi-judi rakyat saat itu. Walau para joki tidak menggunakan pelana dan pengaman tubuh, tetapi mereka biasanya menggunakan helm. a�?Selain sebagai pengaman, itu juga untuk menandai joki mana yang mau dipasang taruhannya, ada warna merah, kuning, biru dan lain-lain,a�? timpal Ramli.

Dampak negatifnya diakui, pacuan kuda tanpa sengaja mengajari bagaimana anak-anak kecil berjudi. Tetapi itu hanya dampak kecil saja. Jika dibanding manfaat, jauh lebih besar dirasakan masyarakat saat itu. a�?Tidak hanya pedagang, tetapi warga yang punya kursi kayu juga disewa sebagai tempat duduk penonton dan itu menambah pemasukan,a�? ujarnya.

Bisnis perdukunan juga laris manis. Kehadiran para ahli metafisika itu, selalu jadi perbincangan hangat setelah membahas tentang joki. Penampilan mereka yang nyentrik, menjadi objek kedua yang selalu jadi trend center setelah para penonton melihat aksi para joki menggeber kuda tunggangan. a�?Itu bagi kami hiburan lain, apalagi saat melihat para dukun membaca mantera untuk kuda, joki, hingga pecut (cemeti), agar punya tuah memenangkan pertarungan,a�? terangnya.

Trik atau cara agar kuda berlari kencang juga selalu jadi pembahasan yang tidak putus-putus. Masing-masing daerah punya cara sendiri untuk memacu agar kuda lari seperti dikejar setan!

Ali lalu menuturkan, suatu ketika ia menonton dari sudut tempat kuda mulai start berlomba. Seorang pria berpenampilan mistis mendekati kuda dengan membawa pelepah kelapa yang menyala-nyala. Pelan namun pasti ia siap mendekatkan pelepah itu ke selangkangan kuda.

Ketika aba-aba dibunyikan dan pintu kuda terbuka, pria itu langsung menyarangkan api ke kemaluan kuda. a�?Dulu saya selalu bingung ketika lihat orang-orang Sumbawa, menggunakan bobok (pelepah) kelapa yang menyala untuk menyulut (maaf) kemaluan kuda,a�? ujarnya.

Saat itulah kuda, melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya. Berlari kencang secepat kilat, tanpa peduli joki anak kecil yang tengah memeluk erat dengan adrenalin terpacu di punggungnya. Sorak sorai penonton pun menggema dari segala penjuru. Berharap kuda taruhannya menyentuh garis finish duluan.

a�?Kalau sudah ada pemenang, kita biasanya langsung mendekat dengan para pemenang, sebab kami tahu sebentar lagi ia akan melemparkan uang ke tengah orang yang berkerumun di dekatnya,a�? kenangnya.

Saat puluhan lembar uang kertas melayang ke udara. Anak-anak hingga orang tua akan berdesak berebut dengan suka cita. Bahagianya suasana itu, kata Ali sulit digambarkan dengan kata-kata. a�?Eh, pokoknya seru,a�? tandasnya. (Bersambung/LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys