Ketik disini

Headline Metropolis

Jalan Terjal Gunung Rinjani Sebagai Geopark Dunia

Bagikan

Jalan Rinjani menuju Geopark Dunia sungguh begitu terjal. Ada 10 rekomendasi baru yang diwajibkan UNESCO untuk dipenuhi. Waktunya pun mepet. Hanya empat bulan dari sekarang. Tak ada yang menyangka. Rupanya penetapan Gunung Batur sebagai Geopark Dunia mendahului Rinjani, mendatangkan kerepotan begini.

***

A�LAMA dinanti, yang datang justru kabar tak enak. Penghujung Maret lalu, UNESCO, badan PBB untuk pendidikan dan kebudayaan memberi kabar, penetapan Rinjani sebagai Geopark Dunia harus tertunda. Alasan-alasan dikemukakan di sana. Disebutkan kalau harapan belum mati. Syaratnya ada 10 rekomendasi yang harus dilengkapi. Tanpa itu, Rinjani out!

Kabar dari UNESCO itu memantik cemas. Maklum saja. Tadinya para pemangku kepentingan baik di NTB maupun di Jakarta sudah begitu yakin, jalan Rinjani menjadi Taman Bumi ketiga di Indonesia bakal berjalan mulus. Penetapan Gunung Sewu di Pacitan, Jawa Timur dan Gunung Batur di Bali, menjadi contoh. Keduanya mulus tanpa kendala.

Belum lagi jika memperhitungkan sambutan untuk Rinjani di konferensi tahunan UNESCO bertajuk Global Geopark Network Expo and Conference 2016 (GGN 2016) di Torquey, United Kingdom, Oktober tahun lalu yang dihadiri langsung Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi. Di sanalah, rekomendasi asesor UNESCO yang telah datang menilai Rinjani pada Mei 2016 diserahkan. Rinjani begitu dinanti dalam konferensi tahunan tersebut.

Atau jika memperhitungkan bagaimana respon dua asesor yang dikirim UNESCO untuk menilai kelayakan Rinjani sebagai Geopark Dunia yakni Maurizio Burlando dari Italia dan Soo-Jae Lee dari Korea Selatan. Terlihat jelas dalam evaluation mission selama tiga hari di Pulau Lombok, dua asesor yang didampingi asesor observer yakni Prof Ibrahim Koomoo dan Dr Nurhayati dari Geopark Asia Pasifik tersebut terkagum-kagum begitu melihat dari dekat situs-situs Geopark Rinjani.

Karena itu, tak ada keraguan sedikitpun, kalau Rinjani akan terganjal. Sebab, sedari awal, NTB memang menyiapkan betul sangat matang usulan Rinjani sebagai Geopark Dunia. Publik NTB tak akan lupa, bagaimana Pemprov NTB secara khusus mendatangkan asesor UNESCO Prof Mahito Watanabe dari Jepang, untuk membimbing penyiapan dokumen dozir usulan Geopark Rinjani. Dokumen yang disusun dalam Bahasa Inggris itu kalau ditumpuk dari tanah tingginya lebih dari satu setengah meter.

Dengan bimbingan Watanabe, dozir kemudian disusun begitu detail, setelah terlebih dahulu menyusutkan situs-situs geologi yang dianggap perlu, dan membuang situs-situs yang dinilai sebagai pendukung dan diangap tidak perlu. Bolak-balik dokumen itu dinilai sampai kemudian dianggap paripurna untuk kemudian diajukan ke UNESCO.

Dukungan pemerintah pusat juga begitu besar. Ini misalnya dengan tahun 2016 lalu, Pemerintah RI hanya mengajukan Rinjani sendirian untuk menjadi Geopark Dunia. Meski, muncul usulan-usulan lainnya yang datang dari berbagai daerah, tapi pemerintah tetap pada pendirian untuk mengajukan hanya Rinjani.

Dengan konsentrasi dan fokus pada Rinjani, maka harusnya di atas kertas, mustahil ada yang kurang dalam pengusulan Rinjani. Bahkan, Ketua Task Force Geopark Dunia Indonesia Yunus Kusumasubrata kala itu memberi garansi soal jalan mulus Rinjani. Pemerintah RI kata Yunus benar-benar all out memperjuangkan Rinjani masuk dalam jaringan Geopark Dunia. Pria yang juga Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tersebut mengaku pemerintah telah belajar dari pengalaman pengajuan dua Geopark Dunia yang telah dimiliki Indonesia sebelumnya. Itu sebabnya, Yunus yakin seyakin-yakinnya, bahwa Rinjani selangkah lagi akan masuk jajaran Geopark Dunia. a�?Rinjani sudah sangat siap,a�? tegas dia kala itu.

Tapi, rupanya Tuhan berkehendak lain. Segala keyakinan itu pun akhirnya buyar, manakala pemberitahuan tertulis dari UNESCO datang Maret lalu.

Memang, mulai tahun 2016, ada yang beda dalam pola penetapan Geopark Dunia oleh UNESCO. Sertifikat Geopark Dunia tidak diberikan lansgung berbarengan dengan terbitnya rekomendasi dari UNESCO. Namun, dilakukan setahun setelahnya. Sehingga andai Tim Asesor telah memberikan rekomendasi mereka pada 2016, UNESCO baru akan menerbitkan sertifikat Geopark Dunia untuk Rinjani apda 2017.

Mulai tahun itu juga nama Geopark Dunia juga diubah oleh UNESCO. Jika sebelumnya nama Geopark Dunia tersebut adalah Global Geopark Network, maka mulai 2017, namanya diubah menjadi UNESCO Global Geopark. Toh, dengan adanya perubahan itu, tak mengikis keyakinan akan jalan mulus yang akan ditempuh Rinjani.

Sampai kemudian datanglah rekomendasi dari UNESCO itu. Bukannya menyetujui, tapi rekomendasi isinya meminta Pemerintah RI melengkapi sepuluh rekomendasi baru. a�?Semula kita diminta melengkapinya dua tahun,a�? kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan NTB H Ridwan Syah.

Belakangan, datang lagi pemberitahuan lain. Batas waktu melengkapi 10 rekomendasi itu kata Ridwan dimajukan jadi Agustus 2017. Artinya, pemerintah hanya memiliki waktu empat bulan untuk melengkapinya.

Apa isi rekomendasi itu? Ridwan yang diwawancarai Lombok Post tak merinci detail seluruhnya. Namun, yang penting di antaranya UNESCO meminta ada nota kesepahaman antara pemerintah dengan perguruan tinggi yakni memasukkan Geopark Rinjani dalam kurikulum di sekolah-sekolah. a�?Untuk yang ini beres,a�? kata Ridwan memberi garansi.

Dia mengatakan, untuk hal ini, pemerintah memang tinggal membuat kesepahaman dengan perguruan tinggi saja. Bahkan kata Ridwan, dalam Musrembang 2017 dua pekan lalu, MoU dengan Universitas Mataram dan Universitas Muhammadiyah Mataram sudah diteken Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi bersama pimpinan dua perguruan tinggi tersebut.

Apakah urusan lalu selesai? Rupanya tidak. Ada pula rekomendasi yang memang sungguh berat. Ini menyangkut penyiapan kajian perbedaan Gunung Rinjani dengan Geopark Dunia Gunung Batur di Bali yang telah lebih dulu ditetapkan sebagai Geopark Dunia. Tepatnya pada 22 September 2012.

Rupanya UNESCO memandang sangat penting hal ini. Sebab, Bali dan Lombok adalah pulau bertetangga. Jaraknya sangat dekat. Sehingga, UNESCO ingin tahu apakah Geopark Batur berbeda dengan Geopark Rinjani dan apa saj apembedanya.

Memang, Gunung Batur dan Gunung Rinjani sama-sama merupakan gunung api yang sama-sama merupakan bagian dari cincin api atau ring of fire yang melintasi Indonesia. Tapi, tentu saja, dua gunung api ini sangat berbeda.

Inilah modal Rinjani. Para ahli meyakini, Rinjani dinilai punya kekayaan geologi yang jauh lebih lengkap. Rinjani dinilai memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang jauh lebih mumpuni. Demikian juga dengan warisan budaya dan pemanfaatan Rinjani untuk kepentingan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Keunggulan-keunggulan itu pula yang menjadikan Rinjani sebetulnya jauh-jauh hari sudah lebih dahulu diajukan sebagai Geopark Dunia yakni semenjak 2008. Jauh sebelum rencana pengajuan Gunung Batur. Namun, entah karena disinyalir keberpihakan kebijakan pemerintah pada masa itu, menjadikan usulan Gunung Rinjani tidak begitu diseriusi. Malah, Rinjani bahkan tertinggal dari Gunung Sewu di Pacitan, yang merupakan kampung halaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ditetapkan sebagai Geopark Dunia pada 2015.

Perekayasa Utama Museum Geologi milik Kementerian ESDM di Bandung, H Heryadi Rachmat merinci keunggulan-keunggulan Rinjani dibanding Gunung Batur. Dia mengatakan, jika Gunung Batur memiliki danau kaldera terluas di dunia, maka Rinjani memiliki danau kaldera gunung api aktif tertinggi di dunia. Tak ada danau kaldera yang lebih tinggi dari yang dimiliki Rinjani yakni Danau Segara Anak. a�?Yang ini tidak ada duanya di dunia,a�? kata Heryadi.

Bahkan kata Heryadi, peneliti asal Jepang, Perancis dan Indonesia telah memastikan usia kaldera Rinjani tersebut terjadi akibat letusan Samalas Rinjani, yang merupakan Gunung Rinjani purna yang terjadi pada tahun 1257. Letusan itu telah memorakporandakan Eropa, dan menebar maut di sana. a�?Jauh lebih besar dari letusan Tambora,a�? katanya.

Rinjani juga kata dia, memiliki keunikan dari segi geologis dan pemandangan alam yang menakjubkan terutama dengan adanya kaldera Danau Segara Anak dan air terjun. Tinggi Gunung Rinjani juga jauh di atas Gunung Batur yang ketinggiannya 1.717 meter di atas permukaan laut. Sementara Rinjani tingginya 3.726 meter di atas permukaan laut.

Karena itu, jenis flora dan fauna Rinjani menjadi lebih kaya dibanding Batur. Di sebelah selatan dan barat pada ketinggian 1.000-2.000 meter banyak ditumbuhi Dysoxylum sp, pterospermum, dan Ficus superba.

Pada ketinggian 2.000-3.000 meter banyak tumbuh cemara gunung (Casuarina junghuhniana). Sementara pada ketinggian di atas 3.000 meter memang miskin tumbuhan. Namun, Rinjani banyak ditumbuhi rumput dan bunga edelweiss (Anaphalis javanica ). Sementara di sebelah timur gunung banyak ditumbuhi pohon acasia.

Selain itu tercatat 109 jenis burung hidup di Gunung Rinjani,A�beberapa di antaranya adalah jenis burung yang ada di Australia, monyet perak yang berasal dari Bali, rusa dan landak. Sementara di Pelawangan Sembalun, LombokA� Timur terdapat monyet ekor panjang. Ini tergolong sebagai monyet cerdas. Sebab, monyet ini mampu membuka kemah para pendaki yang memakai ritsleting, lalu kemudian mengambil makanan di dalam tenda. a�?Monyet-monyet ini juga sangat garang dan berani,a�? kata Heryadi yang pernah menjabat Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB.

Rinjani juga meraih penghargaan kelas dunia yang sangat bergengsi. Di antaranya Word Legacy Award tahun 2004 dan Finalis Tourism For Tomorrow Award (2005-2008). Jangan hitung penghargaan nasional.

Sementara itu, kalau di Gunung Batur, ada Anjing Kintamani yang endemik karena bentuk mulutnya yang mendekati serigala, maka Rinjani juga punya hewan endemik yakni Musang Rinjani atau Paradoxurus Hermaphroditus Rindjanicus. Hewan ini hanya ada di Rinjani, tak ada di tempat lain di belahan dunia manapun.

Pun jika Danau Batur merupakan sumber air bagi sistem pengairan Subak di Bali, maka Danau Segara Anak di Rinjani juga merupakan sumber air di Pulau Lombok. Rinjani bahkan adalah penyangga kehidupan. Sebab, seluruh sumber air di Lombok dipastikan bersumber dari Rinjani. Termasuk air untuk kepentingan irigasi.

Cuma memang, dari sisi kemanfaatan jika dibanding dengan keberadaan Gunung Ratur dari sisi ekonomi, secara kasat mata, kemanfaatan Gunung Rinjani boleh dibilang belum segemerlap Batur. Lebih majunya pariwisata di Bali memang menjadikan perputaran uang untuk masyarakat di Gunung Batur dari sisi pariwisata memang lebih besar. Namun, Rinjani pun sedang mengarah ke sana. Seiring dengan meningkatnya arus kunjungan untuk mendaki Rinjani. Dalam setahun, Rinjani kini didaki lebih dari 80 ribu orang. Di sisi lain, ada perputaran uang dari pemanfaatan potensi perkebunan, hortikultura yang ada di kaki-kaki Rinjani. Nilainya milairan sepekan.

Hal lain yang menjadikan Batur lebih unggul, adalah kondisi dimana wisatawan ke Gunung Batur bisa dari segala usia. Sebab, kawah Gunung Batur memang bisa dinikmati siapa saja karena orang bisa berkendara hingga ke sana. Bahkan, di bibir kawah, telah ada restoran-restoran ternama dimana di sana orang bisa menikmati keindahan kawah Gunung Batur sambil bersantap.

Sementara kawah Rinjani hanya bisa dinikmati oleh para pendaki. Itu sebabnya, Ahli Geologi dan Pakar Kegunungapian dari Institut Teknologi Bandung Dr Budi Brahmantyo pernah menyebut hal tersebut sebagai satu-satunya kekurangan Rinjani dalam pengajuannya ke UNESCO.

Karena itu, kata dia, di masa mendatang harus dipertimbangkan bagaimana agar semua orang dapat menikmati pamandangan luar biasa dari Danau Segara Anak.

Dosen senior Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ini bahkan mengatakan perlu mempertimbangkan pembuatan cableway atau kereta gantung untuk memudahkan wisatawan berkunjung ke Gunung Rinjani.

Memang ada problem. Misalnya, Gunung Rinjani merupakan gunung api aktif yang menyebab bahan kereta gantung cepat berkarat, sehingga membahayakan. Belum lagi juga perlunya mempertimbangkan dengan sangat cermat biaya yang cukup mahal untuk infrastruktur ini.

Salah satu alternatif yang layak dikaji kata dia, adalah membangun jalan darat yang bisa dilalui dengan kendaraan roda empat hingga bibir kaldera Danau Segara Anak. a�?Salah satu jalur yang memungkinkan untuk jalan darat ini di Sembalun, Lombok Timur,a�? tandas dia. Apakah bisa? Hal ini tampaknya masih jauh.

Berproses

Yang pasti, kata Ridwan Syah, saat ini, pemenuhan rekomendasi yang diminta UNESCO sedang dalam tahap persiapan. Beberapa pakar saat ini sedang menyusun hasil kajian yang diminta UNESCO. Juga seluruh SKPD terkait bersama pengelola Rinjani sedang menginventarisir apa yang harus dikerjakan masing-masing pihak. Sebab, setiap SKPD memiliki tugas berbeda-beda. “Itulah langkah kita untuk menindaklanjuti rekomendasi,” katanya.

Ia optimis seluruh rekomendasi UNESCO dapat diselesaikan sebelum Agustus, sehingga tahun ini Rinjani diumumkan menjadi Geopark Dunia oleh UNESCO.

Hal yang menggembirakan, kata Ridwan, UNESCO rupanya sangat ingin Rinjani bisa masuk jajaran Geopark Dunia. Itu sebabnya, UNESCO menutup usulan Geopark Dunia baru dari Indonesia, sebelum persoalan Rinjani ini beres.

Rencananya, pada 17 April mendatang, Badan Geologi dan UNESCO akan ke Mataram untuk melakukan pengecekan bagaimana progres dari 10 rekomendasi itu. Ridwan juga menambahkan, intervensi pemerintah pusat sudah cukup besar untuk menjadikan Rinjani sebagai geopark dunia. Sebab, Rinjani mencakup lima kabupaten kota atau 2/3 wilayah Lombok. “Dukungan kita dan pemerintah pusat adalah dengan membangun infrastruktur,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata NTB HL Muhammad Faozal mengatakan, adanya penundaan, bukan berati Rinjani tidak lolos atau kalah dari Gunung Batur yang langsung ditetapkan. “Dari 10 rekomendasi itu sebenarnya sudah hampir rampung,” ujarnya meyakinkan.

Jika kajian perbedaan antara Gunung Rinjani dan Gunung Batur sudah selesai, maka yang lain tidak terlalu berat untuk dituntaskan. “Ini yang sedang kita lakukan finalisasi-finalisasi mudahan selesai dalam waktu dekat,” katanya.

Dia bahkan memastikan, saat inilah kesempatan terbaik Rinjani menjadi Geopark Dunia. “Makanya kita tidak ingin melewatkan hal ini,a�? tandasnya.

Setelah selesai Festival Pesona Tambora 2017, Dinas Pariwisata berama tim lain akan melakukan pembahasan khusus dan melakukan penguatan-penguatan, seperti geosite, dimana keberagaman geosite Rinjani lebih banyak dibandingkan Gunung Batur. Rinjani jugaA� lebih layak dari sisi kekuatan geologinya.A� “Yang kita dorong perbedaannya itu Segara Anak,a�? tandas Faozal.

A�Pelaku Wisata

Sementara itu meski tertunda, para pelaku pariwisata memberi dukungan penuh pada upaya pemerintah menjadikan Rinjani sebagai Geopark Dunia. a�?Kami beberapa kali dilibatkan ikut sosialisasi Rinjani menjadi geopark dunia. Kami sangat mendukung,a�? kata pemilik Rinjani Family Trekking Armasih di Sembalun pada Lombok Post.

Armasih sadar, ketika Rinjani bergabung dalam Geopark Dunia, maka Rinjani akan dipromosikan gratis secara global oleh UNESCO. Dengan begitu, nama Rinjani akan kian mendunia.

Harapan para pelaku pariwisata seperti dirinya kata Armasih, adalah jangan setelah jadi Geopark Dunia, justru mempersulit pelaku pariwisata di sana. a�?Kami tidak mau kalau begini,a�? tandasnya.

Saat ini saja kata Armasih, kala Rinjani di bawah Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) banyak sekali aturan yang dinilai menyulitkan dan membatasi ruang gerak para pengusaha. Misalnya saja dengan diberlakukannya izin bahwa pelaku usaha Trekking Organizer harus memiliki izin usaha dari TNGR. Meskipun para pelaku usaha ini sebelumnya memiliki izin travel.

a�?Ketika mengurus izin itu kan ujung-ujungnya kita harus bayar lagi. Ini yang kami khawatirkan nanti, akan ada banyak aturan dan batasan ketika Rinjani menjadi Geopark Dunia,a�? ungkapnya.

Senada dengan hal itu, Royaldi Sembahulun salah seorang pelaku usaha di Sembalun juga mengungkapkan demikian. Pria yang akrab disapa Royal ini mengaku secara konsep dan teori, rencana untuk menjadikan Rinjani sebagai geopark dunia sangat baik. Karena, selain akan lebih dikenal di seluruh dunia, pelestarian flora dan fauna serta pemberdayaan kearifan dan budaya lokal akan lebih tertata dengan baik.

Hanya saja, ia meminta jangan sampai ketika Rinjani menjadi Geopark Dunia, tidak ada perubahan yang terjadi. Pria yang juga owner Trekking Organizer Royal Rinjani ini sendiri mengaku belum melihat keseriusan pemerintah untuk menjadikan Rinjani sebagai Geopark Dunia. Baik dari sisi perencanaan, penganggaran, maupun kesiapan TNGR sendiri selaku pengelola untuk menjadikan Rinjani sebagai Geopark Dunia.

a�?Kita bisa lihat sendiri, minimnya sarana prasarana, pengelolaan kebersihan dan masalah sampah. Sekarang kuncinya, di kita sendiri, siap atau tidak?a�? tandasnya.

Meski khawatir, tetap saja, para pelaku wisata Sembalun tak bisa menyembunyikan keyakinan betapa penetapan Rinjani sebagai Geopark Dunia kelak, akan menjadi pintu masuk kesejahteraan bagi masyarakat di sana.

Tentu saja mereka tak keliru. Tengoklah di Tiongkok, negara dengan 33 Geopark Dunia. Negara ini tahun lalu meraup pendapatan dari sektor pariwisata sebesar 6 miliar dollar AS atau setara Rp 80 triliun. Dan sebanyak 62 persen di antaranya atau mencapai Rp 49 triliun disumbangkan dari pengelolaan Geopark Dunia.

Di Indonesia, lihatlah perubahan yang didapat Gunung Sewu di Pacitan. Tadinya sebelumnya Pegunungan Sewu ditetapkan sebagai Geopark Dunia, pendapatan asli daerah dari kawasan ini hanya Rp 800 juta. Namun, kini setelah menyandang status Global Dunia, pendapatan asli daerah dari kawasan ini melonjak hingga Rp 22,5 miliar. (kus/ili/ton/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys