Ketik disini

Headline Metropolis

Gelar Geopark Dunia, Rinjani Kalah oleh Gunung Batur, Bali

Bagikan

MATARAMa��Persiapan pengusulan Gunung Rinjani sebagai Geopark Dunia memang lebih dulu. Namun nyatanya usulan Gunung Batur di Bali yang datang belakangan justruh lebih dulu ditetapkan oleh UNESCO sebagai Geopark Dunia. Tepatnya pada 22 September 2012.

Lalu kenapa kini langkah Rinjani kembali terjegal? Rupanya UNESCO memandang sangat penting hal ini. Sebab, Bali dan Lombok adalah pulau bertetangga. Jaraknya sangat dekat. Sehingga, UNESCO ingin tahu apakah Geopark Batur berbeda dengan Geopark Rinjani dan apa saja pembedanya.

Memang, Gunung Batur dan Gunung Rinjani sama-sama merupakan gunung api yang sama-sama merupakan bagian dari cincin api atauA�ring of fireA�yang melintasi Indonesia. Tapi, tentu saja, dua gunung api ini sangat berbeda.

Inilah modal Rinjani. Para ahli meyakini, Rinjani dinilai punya kekayaan geologi yang jauh lebih lengkap. Rinjani dinilai memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang jauh lebih mumpuni. Demikian juga dengan warisan budaya dan pemanfaatan Rinjani untuk kepentingan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Keunggulan-keunggulan itu pula yang menjadikan Rinjani sebetulnya jauh-jauh hari sudah lebih dahulu diajukan sebagai Geopark Dunia yakni semenjak 2008. Jauh sebelum rencana pengajuan Gunung Batur. Namun, entah karena disinyalir keberpihakan kebijakan pemerintah pada masa itu, menjadikan usulan Gunung Rinjani tidak begitu diseriusi. Malah, Rinjani bahkan tertinggal dari Gunung Sewu di Pacitan, yang merupakan kampung halaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ditetapkan sebagai Geopark Dunia pada 2015.

Perekayasa Utama Museum Geologi milik Kementerian ESDM di Bandung, H Heryadi Rachmat merinci keunggulan-keunggulan Rinjani dibanding Gunung Batur. Dia mengatakan, jika Gunung Batur memiliki danau kaldera terluas di dunia, maka Rinjani memiliki danau kaldera gunung api aktif tertinggi di dunia. Tak ada danau kaldera yang lebih tinggi dari yang dimiliki Rinjani yakni Danau Segara Anak. a�?Yang ini tidak ada duanya di dunia,a�? kata Heryadi.

Bahkan kata Heryadi, peneliti asal Jepang, Perancis dan Indonesia telah memastikan usia kaldera Rinjani tersebut terjadi akibat letusan Samalas Rinjani, yang merupakan Gunung Rinjani purna yang terjadi pada tahun 1257. Letusan itu telah memorakporandakan Eropa, dan menebar maut di sana. a�?Jauh lebih besar dari letusan Tambora,a�? katanya.

Rinjani juga kata dia, memiliki keunikan dari segi geologis dan pemandangan alam yang menakjubkan terutama dengan adanya kaldera Danau Segara Anak dan air terjun. Tinggi Gunung Rinjani juga jauh di atas Gunung Batur yang ketinggiannya 1.717 meter di atas permukaan laut. Sementara Rinjani tingginya 3.726 meter di atas permukaan laut.

Karena itu, jenis flora dan fauna Rinjani menjadi lebih kaya dibanding Batur. Di sebelah selatan dan barat pada ketinggian 1.000-2.000 meter banyak ditumbuhi Dysoxylum sp, pterospermum, dan Ficus superba.

Pada ketinggian 2.000-3.000 meter banyak tumbuh cemara gunung (Casuarina junghuhniana). Sementara pada ketinggian di atas 3.000 meter memang miskin tumbuhan. Namun, Rinjani banyak ditumbuhi rumput dan bunga edelweiss (Anaphalis javanica ). Sementara di sebelah timur gunung banyak ditumbuhi pohon acasia.

Selain itu tercatat 109 jenis burung hidup di Gunung Rinjani,A�beberapa di antaranya adalah jenis burung yang ada di Australia, monyet perak yang berasal dari Bali, rusa dan landak. Sementara di Pelawangan Sembalun, LombokA� Timur terdapat monyet ekor panjang. Ini tergolong sebagai monyet cerdas. Sebab, monyet ini mampu membuka kemah para pendaki yang memakai ritsleting, lalu kemudian mengambil makanan di dalam tenda. a�?Monyet-monyet ini juga sangat garang dan berani,a�? kata Heryadi yang pernah menjabat Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB.

Rinjani juga meraih penghargaan kelas dunia yang sangat bergengsi. Di antaranya Word Legacy Award tahun 2004 dan finalis Tourism For Tomorrow Award (2005-2008). Jangan hitung penghargaan nasional.

Sementara itu, kalau di Gunung Batur, ada Anjing Kintamani yang endemik karena bentuk mulutnya yang mendekati serigala, maka Rinjani juga punya hewan endemik yakni Musang Rinjani atau Paradoxurus Hermaphroditus Rindjanicus. Hewan ini hanya ada di Rinjani, tak ada di tempat lain di belahan dunia manapun.

Pun jika Danau Batur merupakan sumber air bagi sistem pengairan Subak di Bali, maka Danau Segara Anak di Rinjani juga merupakan sumber air di Pulau Lombok. Rinjani bahkan adalah penyangga kehidupan. Sebab, seluruh sumber air di Lombok dipastikan bersumber dari Rinjani. Termasuk air untuk kepentingan irigasi.

Cuma memang, dari sisi kemanfaatan jika dibanding dengan keberadaan Gunung Ratur dari sisi ekonomi, secara kasat mata, kemanfaatan Gunung Rinjani boleh dibilang belum segemerlap Batur. Lebih majunya pariwisata di Bali memang menjadikan perputaran uang untuk masyarakat di Gunung Batur dari sisi pariwisata memang lebih besar.

Namun, Rinjani pun sedang mengarah ke sana. Seiring dengan meningkatnya arus kunjungan untuk mendaki Rinjani. Dalam setahun, Rinjani kini didaki lebih dari 80 ribu orang. Di sisi lain, ada perputaran uang dari pemanfaatan potensi perkebunan, hortikultura yang ada di kaki-kaki Rinjani. Nilainya milairan sepekan.

Hal lain yang menjadikan Batur lebih unggul, adalah kondisi dimana wisatawan ke Gunung Batur bisa dari segala usia. Sebab, kawah Gunung Batur memang bisa dinikmati siapa saja karena orang bisa berkendara hingga ke sana. Bahkan, di bibir kawah, telah ada restoran-restoran ternama dimana di sana orang bisa menikmati keindahan kawah Gunung Batur sambil bersantap.

Sementara kawah Rinjani hanya bisa dinikmati oleh para pendaki. Itu sebabnya, Ahli Geologi dan Pakar Kegunungapian dari Institut Teknologi Bandung Dr Budi Brahmantyo pernah menyebut hal tersebut sebagai satu-satunya kekurangan Rinjani dalam pengajuannya ke UNESCO.

Karena itu, kata dia, di masa mendatang harus dipertimbangkan bagaimana agar semua orang dapat menikmati pamandangan luar biasa dari Danau Segara Anak.

Dosen senior Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ini bahkan mengatakan perlu mempertimbangkan pembuatan cableway atau kereta gantung untuk memudahkan wisatawan berkunjung ke Gunung Rinjani.

Memang ada problem. Misalnya, Gunung Rinjani merupakan gunung api aktif yang menyebab bahan kereta gantung cepat berkarat, sehingga membahayakan. Belum lagi juga perlunya mempertimbangkan dengan sangat cermat biaya yang cukup mahal untuk infrastruktur ini.

Salah satu alternatif yang layak dikaji kata dia, adalah membangun jalan darat yang bisa dilalui dengan kendaraan roda empat hingga bibir kaldera Danau Segara Anak. a�?Salah satu jalur yang memungkinkan untuk jalan darat ini di Sembalun, Lombok Timur,a�? tandas dia. Apakah bisa? Hal ini tampaknya masih jauh. (ili/ton/kus/r8/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka