Ketik disini

Headline Metropolis

Inilah Alasan Kenapa Rinjani Gagal Jadi Geopark Dunia

Bagikan

MATARAM — Penghujung Maret lalu, UNESCO, badan PBB untuk pendidikan dan kebudayaan memberi kabar, penetapan Rinjani sebagai Geopark Dunia harus tertunda. Alasan-alasan dikemukakan di sana. Disebutkan kalau harapan belum mati. Syaratnya ada 10 rekomendasi yang harus dilengkapi. Tanpa itu, Rinjani out!

Kabar dari UNESCO itu memantik cemas. Maklum saja. Tadinya para pemangku kepentingan baik di NTB maupun di Jakarta sudah begitu yakin, jalan Rinjani menjadi Taman Bumi ketiga di Indonesia bakal berjalan mulus. Penetapan Gunung Sewu di Pacitan, Jawa Timur dan Gunung Batur di Bali, menjadi contoh. Keduanya mulus tanpa kendala.

Belum lagi jika memperhitungkan sambutan untuk Rinjani di konferensi tahunan UNESCO bertajuk Global Geopark Network Expo and Conference 2016 (GGN 2016) di Torquey, United Kingdom, Oktober tahun lalu yang dihadiri langsung Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi. Di sanalah, rekomendasi asesor UNESCO yang telah datang menilai Rinjani pada Mei 2016 diserahkan. Rinjani begitu dinanti dalam konferensi tahunan tersebut.

Atau jika memperhitungkan bagaimana respon dua asesor yang dikirim UNESCO untuk menilai kelayakan Rinjani sebagai Geopark Dunia yakni Maurizio Burlando dari Italia dan Soo-Jae Lee dari Korea Selatan. Terlihat jelas dalam evaluation mission selama tiga hari di Pulau Lombok, dua asesor yang didampingi asesor observer yakni Prof Ibrahim Koomoo dan Dr Nurhayati dari Geopark Asia Pasifik tersebut terkagum-kagum begitu melihat dari dekat situs-situs Geopark Rinjani.

Karena itu, tak ada keraguan sedikitpun, kalau Rinjani akan terganjal. Sebab, sedari awal, NTB memang menyiapkan betul sangat matang usulan Rinjani sebagai Geopark Dunia. Publik NTB tak akan lupa, bagaimana Pemprov NTB secara khusus mendatangkan asesor UNESCO Prof Mahito Watanabe dari Jepang, untuk membimbing penyiapan dokumen dozir usulan Geopark Rinjani. Dokumen yang disusun dalam Bahasa Inggris itu kalau ditumpuk dari tanah tingginya lebih dari satu setengah meter.

Dengan bimbingan Watanabe, dozir kemudian disusun begitu detail, setelah terlebih dahulu menyusutkan situs-situs geologi yang dianggap perlu, dan membuang situs-situs yang dinilai sebagai pendukung dan diangap tidak perlu. Bolak-balik dokumen itu dinilai sampai kemudian dianggap paripurna untuk kemudian diajukan ke UNESCO.

Dukungan pemerintah pusat juga begitu besar. Ini misalnya dengan tahun 2016 lalu, Pemerintah RI hanya mengajukan Rinjani sendirian untuk menjadi Geopark Dunia. Meski, muncul usulan-usulan lainnya yang datang dari berbagai daerah, tapi pemerintah tetap pada pendirian untuk mengajukan hanya Rinjani.

Dengan konsentrasi dan fokus pada Rinjani, maka harusnya di atas kertas, mustahil ada yang kurang dalam pengusulan Rinjani. Bahkan, Ketua Task Force Geopark Dunia Indonesia Yunus Kusumasubrata kala itu memberi garansi soal jalan mulus Rinjani. Pemerintah RI kata Yunus benar-benar all out memperjuangkan Rinjani masuk dalam jaringan Geopark Dunia.

Pria yang juga Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tersebut mengaku pemerintah telah belajar dari pengalaman pengajuan dua Geopark Dunia yang telah dimiliki Indonesia sebelumnya. Itu sebabnya, Yunus yakin seyakin-yakinnya, bahwa Rinjani selangkah lagi akan masuk jajaran Geopark Dunia. a�?Rinjani sudah sangat siap,a�? tegas dia kala itu.

Tapi, rupanya Tuhan berkehendak lain. Segala keyakinan itu pun akhirnya buyar, manakala pemberitahuan tertulis dari UNESCO datang Maret lalu.

Memang, mulai tahun 2016, ada yang beda dalam pola penetapan Geopark Dunia oleh UNESCO. Sertifikat Geopark Dunia tidak diberikan lansgung berbarengan dengan terbitnya rekomendasi dari UNESCO. Namun, dilakukan setahun setelahnya. Sehingga andai Tim Asesor telah memberikan rekomendasi mereka pada 2016, UNESCO baru akan menerbitkan sertifikat Geopark Dunia untuk Rinjani apda 2017.

Mulai tahun itu juga nama Geopark Dunia juga diubah oleh UNESCO. Jika sebelumnya nama Geopark Dunia tersebut adalah Global Geopark Network, maka mulai 2017, namanya diubah menjadi UNESCO Global Geopark. Toh, dengan adanya perubahan itu, tak mengikis keyakinan akan jalan mulus yang akan ditempuh Rinjani.

Sampai kemudian datanglah rekomendasi dari UNESCO itu. Bukannya menyetujui, tapi rekomendasi isinya meminta Pemerintah RI melengkapi sepuluh rekomendasi baru. a�?Semula kita diminta melengkapinya dua tahun,a�? kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan NTB H Ridwan Syah.

Belakangan, datang lagi pemberitahuan lain. Batas waktu melengkapi 10 rekomendasi itu kata Ridwan dimajukan jadi Agustus 2017. Artinya, pemerintah hanya memiliki waktu empat bulan untuk melengkapinya.

Apa isi rekomendasi itu? Ridwan yang diwawancarai Lombok Post tak merinci detail seluruhnya. Namun, yang penting di antaranya UNESCO meminta ada nota kesepahaman antara pemerintah dengan perguruan tinggi yakni memasukkan Geopark Rinjani dalam kurikulum di sekolah-sekolah. a�?Untuk yang ini beres,a�? kata Ridwan memberi garansi.

Dia mengatakan, untuk hal ini, pemerintah memang tinggal membuat kesepahaman dengan perguruan tinggi saja. Bahkan kata Ridwan, dalam Musrembang 2017 dua pekan lalu, MoU dengan Universitas Mataram dan Universitas Muhammadiyah Mataram sudah diteken Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi bersama pimpinan dua perguruan tinggi tersebut.

Apakah urusan lalu selesai? Rupanya tidak. Ada pula rekomendasi yang memang sungguh berat. Ini menyangkut penyiapan kajian perbedaan Gunung Rinjani dengan Geopark Dunia Gunung Batur di Bali yang telah lebih dulu ditetapkan sebagai Geopark Dunia. Tepatnya pada 22 September 2012.(ili/kus/ton/r8/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka