Ketik disini

Metropolis

Gubernur: Jaga dan Rawat Harmoni NTB

Bagikan

MATARAMA�– Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi menyerukan kepada seluruh masyarakat NTB untuk tetap menjaga dan merawat harmoni di Bumi Gora. Kerukunan dan harmoni umat beragama kata dia, menjadi modal sangat berharga membangun NTB di masa kini dan di masa mendatang.

a�?Kemajemukan itu selama ini terjalin sangat baik dan menjadi tulang punggung pembangunan di NTB,a�? tandas orang nomor satu di NTB tersebut, kemarin (14/4).

Penegasan itu disampaikan Gubernur yang juga ulama kharismatik ini, menyusul beragam pandangan di tengah masyarakat terkait penghinaan dengan kata-kata yang kasar sangat dan menyakitkan yang diterima dirinya dari seorang mahasiswa asal Jakarta di Bandara Changi, Singapura.

Gubernur menegaskan, penghinaan yang terjadi pada 9 April 2017 saat antre di counter check in Banda Changi tersebut, telah sepenuhnya dia maafkan. Terlebih lagi, yang bersangkutan juga telah meminta maaf secara terbuka melalui media massa. Memang sebelumnya ada proses hukum, lantaran mahasiswa tersebut masih melontarkan hal serupa meski telah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Namun, proses hukum tidak dilanjutkan, dan Gubernur telah memberi maaf sepenuhnya.

Ditegaskan Gubernur, kerukunan dan toleransi di NTB terjalin dengan sangat baik. Meski merupakan daerah seribu masjid dengan mayoritas muslim, tetapi NTB yang juga dihuni beragam entis, suku, ras, agama, tradisi, budaya dan bahasa mampu menjaga kedamaian. Masyarakat NTB dalam sejarahnya kata Gubernur sangat menjunjung nilai-nilai toleransi dan kerukunan antar umat. Hal tersebut bahkan telah terjalin sangat indah sehingga membuat NTB sebagai daerah yangA� damai.

Karena itu, Gubernur yang akrab disapa TGB ini mengajak seluruh elemen masyarakat NTB untuk tetap menjaga harmoni dan kerukunan yang telah terwujud dengan sangat baik selama ini. Jangan ada pihak yang menggunakan isu-isu primordial, isu-isu SARA yang dapat merusak dan memecah belah masyarakat. Apalagi, saat ini NTB justru tengah mulai menapak hasil pembangunan daerah.

Menurutnya, kerukunan yang dimiliki NTB sekarang, adalah suatu kondisi yang didamba semua pihak. Sehingga sudah banyak daerah yang datang ke NTB hanya untuk belajar tentang toleransi dan kerukunan.

Beberapa waktu lalu ia bertemu dengan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB. Pada kesempatan itu, ia mendapatkan laporan bahwa sangat banyak daerah lain di Indonesia yang memiliki problem toleransi, mereka berkunjung untuk mencontoh upaya-upaya Pemda menciptakan harmoni di tengahA� masyarakatnya yang plural.

Dengan kondisi daerah yang aman, pemerintah bisa melaksanakan program pembangunan untuk mencapai kemajuan yang besar, yakni menyejahterakan masyarakat. Pemerintaha sedang fokus membangunan infrastruktur dasar, pertanian, pariwisata dan lainnya.

A�a�?Bila kondusivitas daerah tidak terjaga dengan baik, maka akan sangat mahal akibatnya,a�? katanya.

Oleh karena itu, Gubernur mengingatkan agar jangan ada gerakan-gerakan yang merusak keharmonisan NTB, sehingga akan menghambat laju pembangunan yang telah diperjuangkan dengan susah payah.

“Jika ada masalah, mari kita selesaikan dengan cara-cara yang lebih konstruktif, santun dan bermartabat, lebih mengedepankan semangat persatuan dan NKRI,a�? imbuhnya.

Sementara terkait momentum Pilkada 2018, Gubernur menghimbau semua pihak, utamanya para figur yang akan maju, lebih mengedepankan mengadu kekuatan program-program dan menghindari penggunaan isu-isu primordial, apalagi isu-isu yang dapat memecah belah kerukunan.

Gubernur Diapresiasi

Kasus penghinaan bernada rasis kepada Gubernur memang mendapat kecaman dari banyak pihak. Namun, cara Gubernur NTB merespon penghinaan tersebut, justru dengan kesejukan telah mengundang apresiasi positif khalayak.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) NTB Hamdan Kasim mengaku salut dengan sikap gubernur yang memilih tidak memperpanjang kasus ini. Dia menilai, tindakan itu mencerminkan sikap kenegarawan, yang lebih memilih menempatkan kepentingan bangsa dan daerah ketimbang kepentingan pribadi.

a�?Kasus ini sudah dianggap selesai oleh Gubernur, kita tentu harus menghormatinya,a�? tandas Hamdan.

Hamdan sendiri secara pribadi sebenarnya berharap kasus ini dibawa ke ranah hukum, sehingga dapat menimbulkan efek jera kepada pelakunya. Apalagi penghinaan ini tidak hanya terkait dengan diri pribadi gubernur tapi juga terkait dengan pemerintah daerah dan masyarakat NTB secara keseluruhan.

a�?Namun rupanya gubernur tidak ingin kasus ini diperpanjang sehingga dikhawatirkan berimbas pada konflik di masyarakat. Sikap kenegarawan seperti itu harus kita apresiasi,a�? ungkapnya.

Dia lantas mengimbau masyarakat agar tidak terpancing dengan kasus ini sehingga membias pada ungkapan kebencian terhadap etnis tertentu. Kasus ini menurutnya tidak terkait dengan etnis manapun.

a�?Pelakunya murni melakukan tindakan itu atas nama pribadi, tidak mewakili sikap etnis manapun,a�? tegasnya.

Dia berharap, kasus ini tidak sampai menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat. Apalagi sampai berujung pada lahirnya kebencian terhadap etnis tertentu. Karenanya dia mengimbau kepada semua kalangan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak terpengaruh oleh ajakan untuk membenci etnis tertentu.

Namun di sisi lain, dia berharap para pihak juga bersikap dewasa tidak memancing-mancing perseteruan yang dikhawatirkan berujung pada konflik Suku Agama Ras Antar Golongan (SARA).

a�?Intinya semua harus menahan diri, kelompok etnis yang disorot juga jangan mancing-mancing,a�? tegasnya.

Menurut dia, kasus ini mestinya menjadi pelajaran bagis semua pihak untuk mempererat persaudaraan. Di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, mestinya skat-skat etnis dan agama dijauhkan.

a�?Bahasa gampangnya, jangan lagi bersikap eksklusif, mari bergaul bersama-sama dan terlibat dalam aksi-aksi lintas kelompok,a�? sarannya.

Sikap eksklusif yang salama ini ditonjolkan sebuah kelompok dinilai Hamdan bakal membuat jurang pemisah dengan kelompok lainnya makin terbuka lebar. Dari sini, istilah pribumi, pendatang, dan sebagainya akan makin mudah dijadikan pemecah belah persatuan dan kesatuan. Padahal baginya dalam kehidupan berbagsa dan bernegara, tidak ada lagi istilah kelompok etnis, agama dan sebagainya. (ili/ms/r3/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka