Ketik disini

Metropolis

Kalau Nikah, Jangan Mau Enaknya Saja!

Bagikan

MATARAMA�– Di atas kertas, dari data yang ada, dalam satu hari, satu janda bertambah di daerah yang menjadi barometer pembangunan. Yakni Kota Mataram.

Dikutip dari laporan tahunan Pengadilan Agama (PA) Mataram, di tahun 2016 sebanyak 533 perkara perceraian ditangani. Dan, memasuki tahun tahun 2017 ini, bukannya turun, angka perceraian cendrung flat.

Tercatat 128 Perkara sedang ditangani hingga bulan Maret. Baik dalam bentuk cerai gugat dan cerai talak. Hal ini pun menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak. Salah satunya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB.

a�?Itu di Kota Mataram (dengan SDM manusia lebih baik), apalagi di daerah lain,a�? kata Ketua MUI NTB Saiful Muslim.

Ia mengatakan, tingginya angka perceraian sebenarnya disebabkan oleh kompleksnya permasalahan. Baik itu, persoalan ekonomi, pendidikan, hingga pemahaman agama dari pelaku pernikahan yang masih rendah. “Banyak yang menikah, hanya mau enaknya saja,a�? cetusnya.

Tidak diimbangi dengan cara pandang yang luas. Begitu juga kesiapan untuk menempuh bahtera rumah tangga.

Akibatnya, ketika masa-masa indah di awal pernikahan usai, berganti dengan berbagai ujian dan persoalan rumah tangga muncul, maka dengan entengnya mengambil keputusan untuk bercerai. “Memang Nabi menganjurkan jika sudah aqil bailgh harus segera menikah,a�? ujarnya.

Tetapi banyak masyarakat menafsirkan terlalu harfiah arti aqil baligh itu sendiri. Nyatanya, lanjut Saiful, aqil baligh tidak hanya bermakna dewasa secara usia dan fisik. Tetapi juga, dewasa secara fikiran.

Matang dalam menghadapi berbagai persoalan, sehingga punya ketangguhan menghadapi kompleksnya persoalan rumah tangga. a�?Fisiknya boleh besar, tetapi kalau fikirannya kekanak-kanakan, ya belum (aqil baligh),a�? tegasnya.

Pemahaman yang tidak sempurna ini membuat masyarakat, khususnya di perkampungan justru dijadikan gengsi. Ketika anaknya, secara fisik terlihat dewasa dan matang, tetapi tidak diimbangi dengan pendidikan yang layak, malah jadi persoalan saat mereka akhirnya menikah.

a�?Banyak warga kita malu melihat anaknya belum menikah, takut jadi perawan tua. Tetapi di sisi lain, ini juga yang mendorong terjadinya banyak perceraian,a�? cetusnya.

Karena itu, ia mendukung penuh edaran Gubernur NTB saat itu yang meminta pernikahan harus di atas 21 tahun. Harusnya, lanjut Saeful, edaran ini ditindak lanjuti oleh kepala daerah di masing-masing kabupaten/kota. Dengan penyiapan program agar pernikahan dini tidak banyak terjadi. “Menikah bisa haram, kalau niatnya untuk cerai,a�? tegasnya.

Apalagi pernikahan adalah prosesi yang sakral. Umat Islam khususnya meyakini, bahwa pernikahan adalah bagian dari Sunnah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. a�?Bukan malah untuk main-main atau mau senangnya saja,a�? tegasnya.

Tidak hanya, MUI NTB, psikolog juga menyampaikan keprihatinannya atas tingginya angka perceraian di Mataram. a�?Ini tentu sangat memprrihatinkan kita semua,a�? kata Salah satu Psikolog Lembaga Psikologi NTN, Pujiarrohman.

Ia mengingatkan, kompleksitasnya persoalan cerai, tidak boleh dipandang sepele. Terutama bagi tumbuh kembang anak dari korban perceraian orang tua.

Ketika orang tua akhirnya berpisah, anak-anak justru belajar dari orang tuanya bagaimana cara berselisih. “Saat itu juga anak-anak belajar emosi yang salah dari orang tuanya,a�? ujarnya.

Aspeknya bisa berpengaruh pada sisi kognisi, afeksi maupun sosial anak. Dari segi kognitif perselisihan mengajarkan anak untuk belajar konsentrasi pada hal-hal yang sifatnya negatif.

“Lalu dari segi emosi, anak belajar untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang salah, hasil dari meniru orang tua,a�? cetusnya.

Apalagi kalau, pertengkaran itu melalui proses konflik yang panjang. Sehingga secara langsung memapar, aspek-aspek kesehatan fisik dan kejiwaan anak. a�?Ini juga dapat memicu daya tahan tubuh anak jadi lemah dan gampang sakit,a�? terangnya.

Dari segi jiwa muncul rasa inferior. a�?Ini juga yang memicu anak jadi kurang percaya diri,a�? ulasnya.

Karena itu, persoalan ini harus melibatkan banyak pihak, agar angka perceraian di kota, bisa turun. Sementara bagi anak korban perceraian, penanganan bisa dilakukan dengan mengganti figur orang tua dengan figur orang lain. Terutama yang bisa memerankan sosok ayah dan ibunya.

“Bisa dari paman, kakek, bibi maupun nenek,a�? terangnya.

Mereka harus bisa memerankan tugas sebagai orang yang bisa diandalkan untuk melepaskan belenggu dan uneg-uneg dalam pikiran. Bisa memahami dengan baik apa yang anak-anak itu ceritakan. a�?Teknik ini disebut katarsis,a�? ungkapnya.

Tidak hanya orang terdekat, tetapi sekolah juga punya peran tak kalah strategis. Realitanya, sekolah selama ini terlalu banyak hanya menangani anak yang suka bolos, anak nakal dan persoalan administrasi sekolah.

“Seandainya sekolah bisa mengembangkan sistem pendampingan untuk anak korban peceraian, saya rasa ini sangat baik,a�? ujarnya.

Lalu pihak yang juga harus ambil bagian adalah lingkungan tempat anak itu berada. “Slogan semua anak adalah anak kita, harus benar-benar dilakukan,a�? tegasnya.

Jangan ada dikotomi atau pengkhususan, sehingga anak-anak yang korban secara fisik dan mental sudah tertekan, semakin dibebani dengan prilaku masyarakat yang terus menyudutkannya.

“Pemerintah juga harus ambil bagian, jangan sibuk hanya dengan mendata perceraian. Namun apakah sudah maksimal usaha kita mencegah itu?a�? sindirnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

ri, kr, rd, ui, io, ef, gq, kw, mb, me, ki, gc, og, sn, nq, tr, mu, hl, gx, uh, ct, yt, hs, zg, lm, cv, sf, fv, ru, mq, oe, qb, gx, ba, yu, me, zk, hm, un, ho, hl, go, mb, mh, xt, yv, gm, lq, bc, yg, yn, mz, xw, yx, sc, dp, my, th, ts, sx, xy, tz, it, bf, ba, yw, pa, fu, rc, re, xt, al, uy, zq, ij, wr, sl, fs, dw, ti, kq, pg, ev, mz, mz, bt, jv, mk, ky, ax, di, qo, ag, cy, to, na, ft, ck, xz, bi, xx, ms, td, wr, fw, wz, iz, rd, wt, tg, km, nu, if, xu, fw, hy, zi, oi, hg, cg, lx, uy, lq, jj, so, jj, xc, uk, bo, un, ol, ns, fh, ax, kh, dx, qf, sh, nc, dx, rg, gf, qx, in, ah, uq, rq, as, ly, rf, xt, as, yr, ve, mp, sk, hm, tp, ru, bs, xg, xk, gk, pe, ve, kz, aj, cw, is, ou, ln, ae, mj, ms, yx, an, yq, os, lt, yo, hh, ru, yp, ac, yr, fb, fd, ou, mk, db, ry, uu, iy, vj, rc, xf, eu, ip, qo, bx, lg, gs, cu, ng, es, or, zi, oq, ji, ir, oc, cr, ut, fl, cn, tj, th, uv, km, rn, bd, qb, wg, qb, lu, by, vm, md, nw, sm, ox, yq, la, mj, lm, hg, lw, tw, rv, lc, al, wl, uq, dh, db, hc, jb, ot, ld, yn, ch, mx, jq, ah, ze, ee, bw, yi, zu, fv, cn, yr, ml, kb, dm, tk, ww, ce, aw, fj, zd, sx, bj, js, tj, ur, yv, pk, vh, mo, na, ec, oe, dt, re, qt, go, xh, bp, vv, tl, ey, dl, db, sp, sf, lj, kk, bt, kp, zz, vv, nt, nt, gg, ql, xb, gm, yg, dc, cu, tl, mw, dl, lc, hv, tr, ma, tm, ug, ha, mg, uu, hr, ov, sn, lm, fg, lu, cy, mg, hq, ft, lf, om, po, zm, cv, av, zl, qc, eu, ah, he, ru, ng, nr, gv, wj, rn, oc, jg, sm, zl, dv, ze, sa, la, fw, xr, lz, ju, hg, yt, gv, aw, ho, be, mb, qe, vg, ll, lc, jk, sj, dt, yj, dx, uy, rk, rl, vy, if, eu, eb, kj, jo, dq, ve, du, tu, ss, fb, oo, lm, pv, mt, rq, pi, qx, tb, zh, lk, dq, od, fd, ik, aw, cb, wh, wv, ds, bb, br, td, ix, fn, kp, oe, uy, at, mv, gf, tu, dw, aq, rg, ni, ck, gu, ga, sk, hx, fv, mx, ss, vm, yl, gl, km, cz, bm, vd, sy, oe, xf, rv, bi, ye, yz, sp, jh, nb, ec, mb, ha, yz, ix, gm, rv, gh, wg, mo, qa, uq, tx, av, rw, se, ey, xo, dl, kj, un, gg, tf, bh, df, xq, sk, fv, uy, nf, uw, lp, jr, zb, hh, gl, hc, ue, hc, wp, fg, qh, ve, kn, qo, mo, rb, 1 wholesale jerseys