Ketik disini

Headline Metropolis

Memeluk Sangu, Menendang Bekal

Bagikan

Gempita Hari Bekal Nasional, 12 April lalu tak punya gaung di Mataram. Rupanya, di kota maju nan religius ini, menyiapkan bekal buat anak di sekolah belumlah jadi gaya hidup. Padahal, makanan berbahaya bertebaran mengintai anak-anak di sekitar sekolah. Bahkan, di Ibu Kota NTB ini, hanya ada 10 sekolah yang punya kantin kategori sehat. Sayangnya, orang tua dengan bangga menjadikan uang saku sebagai raja. Sementara bekal, cuma menjadi milik warga kelas dua. Anda masuk mana?

***

BERTERIAK-teriak berulang kali, perempuan 40 tahun itu memegang erat pintu gerbang utama SDN 32 Cakranegara. Bersungut-sungut dia mengingatkan anak-anak tidak keluar halaman sekolah, terutama untuk berbelanja.

Saat perempuan itu berjaga di pintu gerbang, sekolah sedang sibuk. Maklum, jam keluar main. Di halaman sekolah, macam-macam polah anak-anak dengan seragam putih merah itu. Ada yang kejar-kejaran, ada yang main perang-perangan. Pokoknya ramai, meski ada juga yang cuma duduk-duduk berbincang riang dengan teman sekarib.

Matahari belumlah di atas ubun-ubun, tapi panas sudah mencekik. Anak-anak yang tadi berlarian kesana kemari, akhirnya staminanya kendor juga. Satu-satu geraknya mulai melambat, lalu berakhir di pinggir pagar sekolah. Satu-satu merogoh kantong, lalu dengan tangan menjulur menjuntai dari celah pagar sekolah, mereka menyerbu para penjual aneka minuman kemasan sachet yang sudah sedari pagi telah menanti para pelanggan setia.

“Satu bu!” pekik seorang anak bertubuh gempal kepada salah seorang penjual. Karena pelanggan setia, Ibu Ayat, begitu penjual minuman sachet itu disapa sampai tak perlu bertanya rasa apa yang dipesan sang anak. Ayat terlihat tangkas memotong satu sachet minuman segar yang tergantung di depannya. Tangannya yang lain menyambar plastik kecil yang telah diisi potongan-potongan es batu. Bubuk minuman sachet dimasukkannya ke dalam plastik, lalu ditambahi air yang diambil dari ember hitam di depannya menggunakan gayung serupa alat mandi.

Tak lebih dari 10 detik, Ayat sudah sigap melompat dan menyerahkan satu bungkus minuman dingin berwarna mirip cairan jeruk pada bocah pemesan yang kemudian menukarnya dengan pecahan uang seribuan.

Dalam waktu tak berselang lama, tangan-tangan bocah SD lain menjulur dan menjuntai memesan minuman yang sama. Riuh anak-anak itu menyebutkan rasa minuman yang dipesannya.

“Ah, nggak ada,” ujar anak bertubuh gempal saat ditanya Lombok Post soal minuman yang dia beli. Dia tertawa lalu berlalu.

Berselang beberapa puluh menit, pagar yang tadinya tertutup rapat, mulai terbuka. Perempuan yang menjaga pagar rupanya sejenak meninggakan tugas. Maka anak-anak yang tadinya cuma berbelanja dari balik pagar sekolah, berhamburan keluar menyerbu pedagang lain di luar sekolah. Salah satu yang diserbu adalah dagangan milik Rohana.

“Saya dari belakang SD ini,” kata perempuan itu. Dia terlihat kikuk. Apalagi ditanya-tanya saat sedang melayani para customernya.

Tangannya terus terlihat bekerja. Waktu istirahat anak-anak memang sebentar. Karena itu, dia terlihat memaksimalkan betul waktu istirahat yang hanya 15 menit untuk melayani serbuan pesanan anak-anak di SD tersebut.

“Cuma seribu pak,” jawab Rohana saat ditanya harga minuman yang dijualnya.

Tempat berjualannya persis di pinggir jalan depan sekolah. Kala musim terik seperti minggu lalu, kendaraan-kendaraan lalu lalang turut menerbangkan debu hingga hinggap pula di dagangan Rohana. Tapi, perempuan itu tampak santai. Dia seperti terbiasa dengan hal begitu.

Di lapaknya, Rohana memiliki dua ember hitam, tempat dia menaruh air dan es batu. Kesanalah terlihat partikel-partikel debu datang menyerbu. “Nggak ada kok, bersih ini,” ujar Rohana meyakinkan kualitas jualannya.

Melongok mendekatkan wajah ke dalam ember, terlihat ada bercak-bercak noda mengering di ember hitam tersebut. Entahlah noda apa itu. Tabiat ember plastik yang tak baru kan memang begitu. Suka ada yang menempel-nempel lalu mengering. “Setiap hari saya cuci pak, berkali-kali,” kata Rohana, masih sembari melayani gelombang para pembeli.

Air yang digunakan pun diklaim Rohana adalah air galon. Ia lalu menunjuk galon yang berada persis di pinggir jalan. Mulut galon tertutup pelastik bening yang kemudian diikat karet. “Gayungnya juga baru pak,” celetuknya lagi.

Di sebelah kanan Rohana, sebuah cetakan cilok goreng pun telah disiapkannya. Ia juga menyambar selembar roti. Tangannya yang terlihat berkeringat dan sedikit menghitam tak dilapisi apa-apa saat menyentuh roti. Tak lupa ia menyalakan kompor gas dengan wajan tanpa minyak. Setelah cukup hanyat, roti yang telah diolesi selai, ia hempaskan ke wajan. Lalu dibolak-balik. “Ini roti bakar,” terang dia.

Lalu menyerahkan pada bocah berjilbab yang terlihat tak sabar menunggu pesanannya selesai dibuat. Kurang dari dua menit, roti siap santap! “Yang penting (hasilnya) cukup buat belanja anak dan bantu-bantu suami,” kata Rohana ditanya hasilnya berjualan di sekolah tersebut.

Kalau lagi apes, sehari dia bisa membawa pulang Rp 50 ribu. Tapi, kalau lagi beruntung dia bisa mendapat Rp 100 ribu.

Soal kualitas produk jualannya, Rohana mengaku selama ini baik-baik saja. Tak ada anak dan guru yang datang protes padanya lantaran anak sakit perut misalnya. Yang terjadi justru anak-anak di sekolah tersebut bolak balik membeli dagangannya.

“Senang aja,” kata Ilham Zikri, salah satu siswa yang berbelanja ke Rohana. Siswa kelas IV itu mengaku rutin berbelanja di sana. Soalnya dia tidak membawa bekal ke sekolah. Orang tua tak menyiapkannya. Kecuali membekalinya dengan uang saku.

Karena itu, jika lapar Ilham sudah pasti menyerbu jajanan yang dijual di sekolah. Oh ya. Jangan coba tanya soal higienitas makanan yang dibelinya itu pada Ilham. Anda bisa menyesal. Soalnya dia sama sekali tak mengerti.

Kebetulan, saat Lombok Post bertandang ke SDN 32 Cakranegara pekan lalu, kepala sekolah sedang tak ada di tempat. Seorang guru yang tengah duduk piket di depan kantor menyebut, kepala sekolah sedang mengikuti acara penutupan O2SN.

Kepada koran ini, guru tersebut tak memperkenalkan diri. Namun, dia menjelaskan jika pihak sekolah memang sudah berusaha meminimalisir siswa membeli makanan di luar sekolah. “Tetapi ya namanya anak-anak ada yang nurut ada juga yang bandel,” cetusnya.

Guru juga sebetulnya meminta anak-anak membawa bekal dari rumah. Tetapi, lagi-lagi, ada yang patuh ada yang tidak. Yang paling banyak justru yang super kreatif dengan membawa bekal penuh, tapi dalam bentuk uang saku.

“Kita ada kantin, tapi ya mereka sukanya jajan di luar. Kami bahkan sudah sampai mengunci pintu pagar, tapi anak-anak tetap bisa beli lewat celah pagar,” katanya.

Guru itu lalu memberikan nomor kontak Kepala Sekolah. Namun, setelah dikontak, Kepala Sekolah SDN 32 Cakranegara Hj Sri Suhartini tidak merespon panggilan masuk.

Tentu saja, tak cuma di SDN 32 Cakranegara para siswa menyerbu para penjaja makanan di depan sekolah manakala jam keluar main. Aufa, murid SDN 2 Cakranegara bahkan rela tidak belanja di lingkungan sekolah, hanya demi bisa berbelanja makanan pavoritnya di depan pintu gerbang sekolah. Saban hari Aufa begitu.

Di depan salah satu sekolah model di Mataram tersebut, hari-hari memang banyak diramaikan para penjual makanan. Macam-macam. Ada sosis goreng, kebab, telur lilit, telur bulat, stik kentang, nugget, dan otak-otak. Bertebaran pula aneka minuman yang kebanyakan mengandung es. Ada es tebu, susu kedelai, pop ice, dan aneka rupa minuman warna-warni.

Dan setiap keluar main, ke sanalah para siswa SDN 2 Cakranegara menyerbu. Memanjakan lidah mereka dengan makanan yang kata mereka enak-enak. Aufa bahkan rela puasa di sekolah, kalau belum dapat kesempatan membeli makanan kesukaanya lantaran penjualnya belum datang. Murid yang duduk dibangku kelas III ini tidak pernah memakai uang sakunya untuk berbelanja di kantin sekolah. Yang paling disuka Aufa adalah kebab. “Enak soalnya,” katnaya dengan rona muka khas anak-anak yang menggemaskan.

Tak cuma saat keluar main. Saat jam pulang sekolah, sebelum beranjak menuju rumah, Aufa juga biasanya berbelanja makanan kesukaannya terlebih dahulu. Biasanya ditemani ibunya. Oh ya. Sekali lagi, jangan tanya Aufa juga soal higienitas. Yang begitu itu tak penting buat bocah ini. Buat Aufa, yang penting enak.

Begitu juga dengan Baiq Gazea Almira. Murid SDN 7 Mataram ini juga hobi membeli makanan di luar lingkungan sekolah. Dia suka sekali sosis goreng yang penjualnya saban hari mangkal di depan gerbang sekolahnya.

“Kalau tidak kita belikan pasti di rumah ngambek,” ucap Lalu Fatwir, orang tua Gazea. Dia mengaku sebagai orang tua, tentu saja tak bisa menyalahkan orang berjualan di depan gerbang sekolah. Apalagi hal tersebut menyangkut masalah kehidupan.

Cuma kalau ditanya, apakah sebagai orang tua dirinya khawatir? Fatwir langsung mengangguk. “Siapa yang bisa menjamin kesehatan makanan-makanan itu? Tidak ada,” tukasnya. Itu sebabnya, dia meminta agar Balai POM agar turun ke sekolah mengecek makanan-makanan dan aneka jajanan tersebut apakah mengandung bahan berbahaya, tak layak konsumsi dan seterusnya.

Wajib Khawatir

Menilik hasil pengawasan panganan jajan anak sekolah Balain Besar Penagwas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram, orang tua memang pantas khawatir. BBPOM Mataram tahun 2016 lalu misalnya mengerahkan mobil laboratorium pemantauan ke 36 SD, 27 Paud/TK, 12 SMP/MTs, 9 SMA/MA, 8 pasar dan 15 desa di seluruh NTB. Total ada 1.205 sampel panganan yang diuji dan diambil dari 459 pedagang. Hasilnya? Sebanyak 150 sampel tidak memenuhi syarat.

Beberapa bahan berbahaya yang ditemukan di antaranya formalin sebanyak 13 sampel pada permen, pencok, tahu, dan mie basah. Boraks sebanyak 120 sampel, ditemukan pada kerupuk, bakso, mie kuning basah, bleng, pencok, dan pentol cilok. Sementara 21 sampel positif mengandung rodamin dan ditemukan pada kerupuk warna-warni, terasi, sambal terasi, dan makroni warna pink.

Khusus untuk jajanan anak sekolah total ada 358 sampel dari 101 pedagang yang diuji. Jajanan yang memenuhi syarat sebanyak 319 sampel, sedangkan yang tidak memenuhi syarat 39 atau 10,89 persen dari total sampel di seluruh NTB. Kalau dipetakan tiap kabupaten/kota, kasus terparah ada di Lombok Barat. Di sana, dari keseluruhan sampel yang diuji, sebanyak 33,33 persen makanan masuk jajanan yang tak layak konsumsi. Terutama dari makanan jenis kerupuk. Di Lombok Barat BBPOM menemukan, banyak industri pembuatan kerupuk menggunakan bahan berbahaya jenis blerang.

Pelaksana tugas Kepala BBPOM Mataram Ni GA Suwarningsih kepada Lombok Post mengatakan, selain temuan bahan pangan berbahaya, faktor kebersihan juga perlu mendapat perhatian.

Karena pihaknya masih menemukan praktik pengolahan pangan yang tidak baik, seperti tidak menggunakan penutup makanan, tidak menggunakan alat bantu untuk makanan siap saji, sampah berserakan di sekitar area jualan, tidak tersedia tempat sampah tertutup, dan lokasi berjualan menghadap toilet, atau menghadap tempat pembuangan sampah.

Memang kalau berdasarkan persentase, Suwarningsih menyebut, kondisi saat ini, jajanan untuk anak-anak sekolah masih relatif aman, mengingat jumlah sampel yang layak konsumsi lebih banyak. Hanya saja, untuk memberikan jaminan rasa aman, agar anak terhindar dari bahan berbahaya maka sebaiknya membawa bekal dari rumah jauh lebih bagus.

“Kalau masakan sendiri kita bisa tahu tidak ada zat berbahaya. Tetapi kalau jajan di luar kita tidak tahu apakah makanannya menggunakan bahan bebahaya atau tidak,” katanya.

 Kantin Tak Layak

Di sisi lain, menyarankan anak untuk berbelanja di kantin sekolah juga bukan jalan keluar. Tak ada jaminan pula makanan yang dijual di kantin baik. Di Kota Mataram saja, yang menjadi barometer pendidikan di NTB, hingga 2016 ini, hanya lima SD yang sudah memiliki kantin berstatus sehat.

Kantin-kantin sehat itu antara lain ada di SDN 6 Mataram, SDN 1Mataram, SDN 8 Mataram, SDN 19 Mataram, dan SDN 11 Mataram. Sedang untuk SMP, hanya SMP 2 Mataram yang terverifikasi memiliki kantin sehat.

Sedangkan untuk SMA, hanya ada di SMAN 7 Mataram dan SMAN 2 Mataram. Sementara untuk SMK ada di SMKN 4 Mataram dan SMKN 2 Mataram. ”Hanya 10 sekolah itu,” ujar Kadis Kesehatan Kota Mataram Usman Hadi.

Dengan kondisi itu, artinya jauh lebih banyak sekolah di Mataram yang belum memiliki kantin sehat. Karenanya Usman tak ragu mengatakan membawa bekal ke sekolah adalah salah satu solusi yang bisa dikedepankan.

Syaratnya tentu saja orang tua yang membuat juga harus memerhatikan nilai gizi, variasi makanan, termasuk rasa. Kalaupun harus membeli, ia menegaskan tak menyarankan membeli di halaman luar sekolah. Tanpa bermaksud mematikan usaha para PKL, Usman lebih memilih berhati-hati sebelum ada kejadian. ”Beli di kantin juga bagus, syaratnya kantin dalam pengawasan ketat sekolah,” ujarnya.

Khusus dari Dikes, pihaknya juga mengklaim rutin turun. Melalui puskesmas, mereka masuk ke sekolah-sekolah khususnya ke fasilitas UKS dan kantin. ”Kita terus sosialisasikan apa yang perlu dilakukan kantin,” imbuhnya.

 Bawa Bekal

 Tentu saja, menyarankan siswa membawa bekal, bukan sekadar pepesan kosong. Sebab, saat ini praktik ini justru sudah ada dan mulai dilakukan para orang tua. Naufal Raditya Azzam misalnya. Pekan lalu, Lombok Post menemukan murid kelas 1 SDIT Anak Sholeh Alfalah, Taman Sari, Kelurahan Ampenan itu tampak semringah manakala mendapati neneknya telah tiba di sekolah. Naufal saban hari memang begitu. Menunggu sang nenek di jam-jam genting. Saat perut mulai keroncongan minta diisi.

Hj Zulaeha, nenak Naufal setiap siang memang datang membawa bekal untuk cucu tersayangnya. Saat anak-anak kelas satu di SD negeri pulang pukul 10.00 Wita, bersekolah di SDIT Anak Sholeh Alfalah, Naufal memang baru pulang pukul 14.00 Wita. Itulah yang membuat banyak wali murid rutin membuat bekal untuk anak mereka.

Letak sekolah Naufal yang cukup dekat dengan rumahnya membuat sang nenek memilih mengantarkan langsung makanan saat siang. Pertimbangannya agar makanan yang diberikan masih dalam kondisi fresh sehingga sang cucu diharap bisa lebih lahap. ”Ada juga wali murid lain yang langsung kasih bekal sejak pagi,” katanya pada Lombok Post.

Mendapati bekalnya datang, Naufal langsung menyantapnya. Benar, makannya lahap. Sang nenek terlihat setia menemani sang cucu bersantap di sela keluar main kedua. Usai melahap bekalnya, Naufal berhamburan bermain bersama temannya, sebelum kembali masuk ke kelas dan belajar lagi.

Tradisi menyiapkan bekal buat anak ke sekolah bukanlah hal baru. Karena ada juga orang tua yang memang sudah menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan.

Nuriyanti misalnya. Saban pagi, perempuan dari Rembiga ini selalu menyiapkan bekal bagi anaknya yang menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Mataram. Pun Siti Maesarah, yang memiliki anak yang bersekolah di di SDN Midang, Gunungsari.

Baik Nuriyanti maupun Siti Maesarah, tradisi membawa bekal bahkan sudah dijalani semenjak dirinya bersekolah dulu. Dan itulah yang kemudian dipraktikkan kepada anaknya kini.

”Kalau bawa bekal, kita orang tua tidak perlu khawatir makanan anak saat di sekolah,” kata Nuriyanti yang sehari-hari bekerja di salah satu bank di Mataram ini.

Kesibukan kerja yang menyita waktu tak membuat ia merasa harus menepikan kebiasaan menyiapkan bekal tersebut. Bagi Yanti panggilan akrabnya, mengurus keluarga adalah kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Termasuk bagaimana menjaga menu maupun hidangan yang disantap. ”Saya selektif kalau soal makanan anak-anak, apalagi yang SD ini tidak bisa makan sembarang,” terangnya.

Ia biasanya harus bangun dini hari setelah melakukan salat sepertiga malam yang dilanjutkan memasak untuk keluarga. Termasuk bekal untuk sang buah hati.

”Biasanya saya perlu waktu dua jam sampai anak-anak selesai sarapan dan berangkat,” tuturnya.

Soal gizi dan variasi, kata Yanti adalah keharusan. Sebab, di situlah kunci anak-anak membawa bekal. Makanan monoton akan menjadikan bekal tak dilirik anak-anak. Alhasil, mereka akan tergiur belanja makanan-makanan yang terlalu menarik di sekolah.

Biasanya kata Yanti, bekal anaknya berisi sayur, lauk, buah dan tambahan susu kotak. Dia pun buka sedikit rahasia. Menu andalan yang biasa dibawa anaknya antara lain egg roll, tempe tahu goreng tepung, dan sayur orak arik.

Pernah anak bosan dan mengeluh? “Kadang sih,” katanya melempar senyum. Namun, kalau sudah begitu, pandai-pandai orang tua memberi pemahaman pada sang buah hati.

Siti Maesarah mengaku, anak bungsunya di awal-awal merasa risih dan malu membawa bekal ke sekolah. Apalagi hal tersebut bukanlah tradisi di sekolah anaknya. Rata-rata teman-teman anaknya membawa uang saku. Namun, lambat laun anaknya pun kini lebih senang membawa bekal. Bahkan, khusus menu, biasanya diminta langsung oleh si anak. ”Biasanya saat pulang taruh tempat bekal, ia langsung meminta menu untuk besok paginya,” jelasnya.

Biasanya si bungsu lebih meminta dibuatkan nasi goreng maupun roti bakar. Sementara menu lainnya tetap diselingi dengan menu sehat seperti cacah sayur dan buah. Biasanya cacah sayur atau buah ini kalau ia buat banyak dan dibagi ke teman-teman sekolah anaknya.

Untuk menyiapkan bekal anak pun tidak butuh waktu yang lama. Sebab, ia biasanya sudah menyiapkan apa yang akan dimasak pada malam sebelum tidur. ”Jadi pas Subuh saya kerjakan dan selesai sebelum anak-anak sarapan dan berangkat sekolah,” katanya.

 Pemerintah Wajib Turun Tangan

Bagi Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan NTB H Kutjip Anwar, jaminan makanan yang sehat untuk anak-anak di lingkungan sekolah adalah domain pemerintah. Karena itu, dia menyarankan agar digelar penertiban oleh pemerintah. Yang boleh menjajakan makanan di depan SD-SD adalah pedagang yang sudah mendapat izin dari BPOM terkait kebersihan dan bahan-bahan makanan dijajakan.

Ia mencotohkan, di SDIT Anak Sholeh misalnya, BPOM turun. Makanan yang dijajakan di SD tersebut sudah diperiksa BPOM. “Mestinya, pemerintah daerah juga turun tangan melakukan hal tersebut dengan menggandeng BPOM ke sekolah,” sarannya.

Kutjip mengatakan, anak lebih tertarik membeli makanan luar dari pada kantin sekolahnya sendiri. Selain varian warnanya bervariasi, makanannya juga dirasa enak.

Ia yakin pihak sekolah sudah melarang pedagang jalanan ini, tapi pastilah para pedagang marah. Apalagi makanan yang ditawarkan PKL lebih murah dibanding makanan di kantin. “Pemerintah harus turun tangan untuk memyelamatkan kesehatan generasi bangsa,” ujar dia.

Kutjip juga menilai PKL tidak tahu makanan yang dijajakan kepada anak berbahaya atau tidak. Untuk itu, pemerintah melalui BPOM memberikan pembinaan kepada PKL terkait makanan yang harus dijajakan. “Kalau tidak sehat maka jangan dijual,” sarannya.

Ia juga meminta sekolah harus bisa seperti PKL. Bisa menyediakan makanan yang bervariasi dan disukai anak dengan gizi yang terjamin. Jangan hanya menjual makanan yang mahal saja tanpa disukai anak. “Sekolah harus menggandeng pihak luar dalam menyediakan makanan,” sebut dia.

Namun, saran Dewan Pendidikan tampaknya masih jauh untuk bisa dipraktikkan. Alih-alih mendukung langkah pembiasaan membawa bekal dari rumah, Kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mataram H Sudenom misalnya, justru memiliki pemikiran sendiri. ”Justru (makanan) yang dari rumah yang menurut saya tak sehat,” katanya.

Ia lantas memberi perumpamaan jika orang tua menyiapkan bekal sedari pagi. Bekal itu lantas disantap saat jam istirahat siang. Menurut Sudenom boleh jadi bekal itu sudah tak lagi segar, bahkan kemungkinan sudah basi. ”Justru anak-anak jadi sakit perut nantinya,” katanya.

Karena itu, Sudenom enggan mengikuti gerakan membiasakan anak membawa bekal dari rumah. Dia menilai, memberi uang saku jauh lebih efektif. Syaratnya anak-anak terus diawasi saat membeli makanan. ”Belanjanya di kantin, jangan di luar,” ucapnya.

Terkait imbauan agar ada gerakan membawa bekal, Sudenom mengaku akan mempelajarinya. ”Imbauan dari pusat itu kan belum berbentuk perintah, tak harus dijalankan, kita pelajari dulu,” ujarnya.

Sikap bertolak belakang ini, jelas adalah tantangan di Kota Mataram. Karena itu, jangan heran manakala Hari Bekal Nasional yang dirayakan 12 April lalu, justru di Mataram tak ada gaung apapun. Orang tua yang sudah sadar dengan pentingnya bekal sehat hanya berjalan dengan modal kesadaran mereka sendiri. Sedangkan yang masih belum memahami, memilih berdiri satu barisan dengan Kadis Sudenom. Anda pilih mana? (zad/yuk/jay/ili/nur/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka