Ketik disini

Metropolis

Mengenang Perjuangan dr Soedjono (1) : Dokter, Belian Sekaligus Herbalis

Bagikan

Dokter Soedjono oleh sebagian masyarakat Mataram dikenal sebagai nama salah satu ruas jalan di Lingkar Selatan. Faktanya, dia adalah salah satu dokter yang paling berjasa di tanah Lombok.

***

Jalan dr Soedjono membentang panjang dari ujung barat hingga sebagian ujung timur di selatan Mataram. Tak banyak yang menyadari hal itu, karena jalan tersebut memang lebih akrab disebut Jalan Lingkar Selatan. Warga yang mengetahui nama sebenarnya jalan itu pun banyak yang tak mengetahui siapa sebenarnya dr Soedjono. Padahal dia adalah salah satu orang yang paling berjasa di Lombok pada periode 1900-an awal.

Bergelar dokter, Soedjono muda ditugaskan pertama kali ke Lombok pada 1911. Lombok Timur adalah penempatannya kala itu. Sejak pertama kedatangannya, pria kelahiran Karang Anyar Kebumen, Jawa Tengah itu langsung jatuh hati pada Lombok.

Namun tiga tahun berselang sejak kedatangan pertamanya, ia dipindah ke Bali. Dasar nasib, di tahun yang sama, Soedjono kembali lagi ke Lombok.

Lulusan Stovia Djakarta 1904 itu memang berjodoh dengan Lombok. Sebagai dokter, ia memang harus pindah sana-sini. 1918 ia sempat dipindah ke Magetan, namun takdir jua yang kembali membawanya lagi ke Lombok pada 1920.

“Setiap kali pindah, ia terus kembali ke Lombok, sampai akhir hayatnya,a�? kata R Rahardian Soedjono sang cucu.

Sebagai seorang dokter, pria yang bergelar kebangsawanan Raden dari silsilah Surakarta Solo itu jelas sangat mengerti dunia medis. Itu dibuktikan dengan pengangkatannya sebagai dokter Hindia Belanda (Indiche Arts) pada 1921. Penjajah kala itu jelas mengetahui kemampuannya. a�?Dialah dokter pertama di Lotim,a�? kenang Rahardian.

Hidup di periode 1900-an awal, jelas banyak keterbatasan yang ditemuinya. Salah satu yang paling nyata adalah keterbatasan obat-obatan. Hal itu membuat dr Soedjono tak ragu belajar. Ia belajar dari alam. Pengalaman dan masyarakat turut menjadi gurunya.

Sudah bergelar dokter, ia tak ragu menggunakan dan menerapkan metode tradisional. Tak heran oleh banyak warga, ia juga disebut belian alias dukun.

Ya, warga Lombok yang bersentuhan langsung dengannya kala itu lebih akrab dengan istilah belian ketimbang dokter. Pendekatan medis yang juga kerap dipadukan dengan pendekatan tradisional adalah alasannya. Itu juga yang membuat banyak warga tak ragu untuk menerima pengobatan darinya.

Oleh warga lainnya ia juga disebut herbalis. Kerap menggunakan ramuan-ramuan herbal, Soedjono menunjukkan lagi keahlian lain yang dimilikinya. Lengkaplah ia, sebagai dokter yang menggunakan ilmu medis, belian yang kerap dikonotasikan dengan ilmu nenek moyang, hingga herbalis yang akrab dengan ilmu tradisional. (bersambung/WAHYU PRIHADI, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka