Ketik disini

Metropolis

Investasi Rp 100 Triliun, AMNT Pastikan Bangun Smelter di Benete

Bagikan

MATARAM – Diam-diam, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) rupanya tengah menyiapkan rencana investasi bombastis di NTB. Dalam sepuluh tahun mendatang, perusahaan yang kini dimiliki taipan Indonesia Arifin Panigoro ini, berencana menggelontorkan investasi hingga USD 100 miliar atau sedikitnya Rp 100 triliun.

Yang paling dekat, PT AMNT akan mewujudkan pembangunan industri pemurnian konsentrat atau smelter di Pulau Sumbawa. Dalam waktu lima tahun, fasilitas ini diharapkan telah beroperasi secara penuh.

“Smelter akan kami bangun di Benete, di atas lahan buffer zone kami yang ada di sana saat ini,” kata Manajer Tanggung Jawab Sosial dan Hubungan Pemerintah PTAMNT Kasan Mulyono di sela sosialisasi pelaksanaan izin lingkungan dan izin dumping tailing PTAMNT di Mataram, kemarin (20/4).

Dia mengatakan, pada bulan Mei ini, AMNT akan melaporkan perkembangan terkini pembangunan smelter tersebut kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Terutama terkait teknologi yang akan dipakai dalam fasilitas pemurnian tersebut.

“Ada beberapa perusahaan smelter yang telah menyampaikan penawaran kepada AMNT terkait hal ini. Perusahaan akan mengambil keputusan kemudian dilaporkan ke Kementerian ESDM,” kata Kasan.

Dia tak merinci berapa total investasi yang akan digelontorkan untuk membangun smelter. Namun, di Indonesia setidaknya dibutuhkan investasi paling sedikit USD 1,2 miliar untuk membangun fasilitas smelter yang komplit. Jumlah itu setara dengan Rp 30 triliun.

Kasan tak menampik bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, AMNT berencana menggelontorkan investasi setidaknya USD 10 miliar atau sedikitnya Rp 100 triliun. Investasi membangun smelter kata dia akan memerlukan investasi lain. Antara lain investasi untuk menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga uap yang dimiliki AMNT yang lokasinya juga di Benete, Sumbawa Barat.

Dalam jangka panjang kata dia, AMNT juga akan memulai proses ekslporasi cadangan emas dan tembaga di cebakan Elang Dodo di Kabupaten Sumbawa. Eksplorasi itu juga bagian dari investasi perusahaan. “Kami berencana melakukan pengeboran kembali untuk eksplorasi Blok Elang setelah idul Fitri tahun ini,” kata Kasan.

Eksplorasi di Elang memang sempat terhenti pada 2014, dan akan dilanjutkan kembali. Manajemen AMNT pun telah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Lingkungan hidup dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral terkait kegiatan di Blok Elang. “Kami perlu dukungan akses jalan di sana,” ungkap Kasan.

Cadangan emas, tembaga dan mineral ikutannnya di Blok Elang diyakini jauh lebih besar dari cadangan tambang Batu Hijau. Saat ini, potensi cadangan Batu Hijau adalah 19 juta troy ounce emas dan 18 miliar pound tembaga. Satu troy ounce emas setara 31,103 gram, dan satu pound setara 0,5 kilogram.

Kasan menjelaskan, selain Blok Elang, perseroan juga tengah melakukan pengembangan di Tambang batu Hijau. Pengembangan ditandai dengan dimulainya proses pengeboran baru di lokasi yang disebut “Prospek Nangka” bagian dari pengembangan lubang tambang yang sudah beroperasi saat ini. “Kami telah menempatkan dua mesin bor untuk Prospek Nangka,” ungkap Kasan. Belum diketahui berapa besaran cadangan emas, tembaga dan mineral ikutan di lokasi baru ini. Namun diyakini akan memperpanjang operasi tambang batu Hijau yang tadinya diprediksi cadangannya habis pada 2028.

Di Tambang Batu Hijau pula, AMNT akan memulai fase tujuh, yang akan kembali meningkatkan produksi. Terkait pengembangan fase tujuh ini, pada 2014 lalu, AMNT sempat menyatakan akan melakukan peminjaman modal sedikitnya USD 1 miliar atau setara dengan Rp 12 triliun untuk membiayai proses penambangan fase tujuh yang dimulai 2017. Pinjaman harus dilakukan, lantaran saat itu, keuangan perseroan tidak mampu sepenuhnya untuk menopang operasi secara mandiri. Belum diketahui apakah pinjaman ini jadi dilakukan atau tidak.

Setidaknya untuk membiayai operasi penambangan fase tujuh, AMNT memerlukan biaya USD 1,8 miliar. Namun, saat itu, yang mampu disiapkan dari dana internal perusahaan tak lebih dari USD 800 juta. Sehingga kekurangannya dipenuhi dari pinjaman.

Saat ini, proses penambangan PTNNT sudah memasuki fase enam. Pengembangan fase ketujuh diperkirakan produksi konsentrat AMNT akan kian meningkat, seiring bijih yang diolah memiliki kandungan yang lebih besar.

Berkaca pada proses sebelumnya, jika bijih yang diolah tidak memiliki kandungan bagus, rata-rata produksi konsentrat PTNNT dalam setahun mencapai 200 ribu ton. Namun, dengan bijih yang berkualitas, diperkirakan produksi konsentrat PTNNT setahun bisa tembus hingga 800 ribu ton. Dan peningkatan itu sudah dimulai semenjak 2015 dan terus akan berlanjut hingga 2017 ini, menyusul pengembangan fase tujuh.

Selama proses pengolahan bijih yang berkualitas ini, kondisi keuangan AMNT sebetulnya terus membaik. Namun, pada saat yang sama, AMNT juga mulai mencicil pinjaman sebelumnya pada sindikasi Bank Mandiri sebesar USD 600 juta. Cicilan utang itu dilakukan selama dua tahun mulai 2015. Sehingga dana internal yang bisa disiapkan untuk membiayai fase tujuh hanya maksimal USD 800 juta.

“Setelah kewajiban bank terbayar dua tahun ini, fase tujuh akan kita mulai,” kata Kasan.

Penambangan fase tujuh direncanakan akan berlangsung hingga 2022. AMNT menyebut fase ini sebagai titik kunci bagi keberlanjutan bisnis tambang mereka di NTB. Jika fase tujuh ini bisa berjalan mulus, maka operasi tambang PTNNT akan bisa berlanjut terus hingga akhir tambang di atas 2030.

Di awal penambangan fase tujuh akan dimulai dengan situasi kandungan yang kembali menurun, lantaran awalnya hanya tahapan pengupasan lapisan permukaan. Sehingga bijih yang diolah belum akan sampai pada kandungan yang terbaik.

Perusahaan pun saat ini kata Kasan sudah mulai merasionalisasi pembelanjaan keuangan perusahaan. Targetnya adalah pengurangan beban biaya 50 persen namun meningkatkan prouktivitas hingga 100 persen.

Sebelumnya, saat masih berada dalam manajemen PT Newmont Nusa Tenggara, rata-rata dalam sehari pengelolaan tambang batu Hijau memerlukan dana sedikitnya USD 2 juta atau setara dengan Rp 24 miliar.

Namun, pengurangan pembiayaan tentu tak akan berpengaruh pada komitmen AMNT untuk memberi kontribusi besar pengembangan ekonomi masyarakat. Investasi yang nilainya Rp 100 triliun dalam sepuluh tahun ke depan juga adalah bagian dari kontribusi AMNT untuk mendongkrak perekonomian dan pendapatan daerah. Sebab, investasi itu akan memberi kontribusi sangat besar terhadap penyediaan lapangan kerja yang kemudian akan berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tailing

Sementara itu, terkait dengan izin dumping tailing, AMNT memastikan perusahaan ini telah menjalankan semua kewajiban sesuai dengan persyaratan Izin Dumping Tailing.

Manajer Lingkungan AMNT Parlianto Darmawan dalam sosialisasi mengatakan, dari hasil pemantauan tailing, kualitas air laut dan biota laut di perairan Senunu, tempat tailing ditempatkan  dan sekitarnya menunjukkan bahwa semua parameter memenuhi baku mutu dan dampak penempatan tailing terbatas pada mixing zone dan tapak tailing yang ditetapkan dalam izin. Mixing zone itu berada pada kedalam 120 meter, dan menjadi ujung penempatan pipa tailing. Secara kasat mata, yang terlihat di mizing zone adalah kondisi air di sekitar yang sedikit keruh.

Kinerja pengelolaan lingkungan PTNNT pun kata Parlianto telah berbuah tujuh kali peringkat PROPER HIJAU dan empat kali peringkat biru dari pemerintah semenjak 2002-2016.

AMNT juga telah empat kali meraih peringkat terbaik (Tropi ADITAMA) dari Kementerian ESDM terkait kinerja pengelolaan lingkungan. Empat kali pula meraih peringkat pertama (ADITAMA) dan sekali peringkat kedua (UTAMA) sejak periode penilaian 2005-2015. (kus/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka