Ketik disini

Feature Headline

Jejak Maulanasyaikh (3) : Pertahankan Kemerdekaan, Adik Maulanasyaikh Gugur di Medan Perang

Bagikan

Peran TGKH M Zainuddin Abdul Madjid pada masa revolusi tidak hanya berhenti sampai merebut kemerdekaan. Tetapi juga mempertahankan kemerdekaan RI dari upaya-upaya penjajah yang ingin merebutnya kembali. Perjuangan ini harus dibayar mahal, saudara-saudaranya gugur di medan pertempuran.

***

DALAMA�catatan sejarah, masyarakat Lombok memiliki andil yang cukup besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih bangsa Indonesia.

Tapi kabar kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu baru sampai ke Lombok beberapa bulan kemudian, yaitu di awal tahun 1946. Setelah mendengar kabar itu, TGKH M Zainuddin Abdul Madjid tidak berdiam diri, ia turut mengawal kemerdekaan dengan melakukan beberapa hal.

Diantaranya mengkonsolidasikan murid-murid yang memang sejak awal turut berjuang. Di bawah komando TGH Faisal adik TGKH M Zainuddin Abdul Madjid, iaA� membagi-bagikan sebanyak 27 keris kepada para murid.

Selain itu, ia juga memerintahkan beberapa muridnya untuk mengibarkan bendera merah putih di depan madrasah.

Nursaid dan Sayyid Hasyim, dua orang murid yang diperintahkan menjaga bendera merah putih agar tidak diturunkan oleh siapapun.

Berdasarkan penuturan TGH Nursaid, perintah menjaga bendera secara khusus itu menunjukkan bahwa Maulanasyeikh sangat memahami simbol-simbol negara sebagai sesuatu yang sakral.

Bendera merah putih yang tetap dikibarkan di depan madrasah dilakukan agar orang tahu bahwa Indonesia telah merdeka kala itu.

Meski telah merdeka, tapi kaum penjajah saat itu belum mau menyerah. Mereka terus berupaya merong-rong kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 18 Maret 1946, sekutu yaitu Inggris yang bertugas memerangi Jepang mendarat di Ampenan.

Kedatangan yang semula disambut gembira rakyat ini berubah menjadi kecurigaan karena pasukan sekutu membawa NICA (Netherlands Indies Civil Administrations).

Tanggal 19 Maret 1946, pimpinan tentara sekutu Pitter Kamm melakukan pertemuan dan menyatakan pemerintahan di Lombok sudah diambil alih. Hal ini mendapat tentangan keras dari para pemimpin pro-Republik Indonesia.

Maka sejak saat itu, NICA mulai menangkap satu per satu para pemimpin kelompok pejuang, baik di Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur.Karena merasa aman dari gangguan rakyat tentara NICA mendarat di Lembar tanggal 27 Maret 1946.

Sejak hari itu, bendera Belanda kembali dikibarkan, larangan-larangan diberlakukan kembali.Sementara di sisi lain, Belanda menarik simpati dengam membagi-bagikan sandang, pangan, papan, permen kepada masyarakat kecil.

Masuknya tentara NICA membuat para pemimpin perang khawatir. Diam-diam mereka melakukan konsolidasi menyusun perlawanan. Laskar Pejuang di Lombok Timur menetapkan tanggal 2 Juni 1946 untuk menyerang tentara NICA di Selong.

Tetapi serangan ini gagal karena sudah diketahui NICA. Tentara NICA pun terus menangkap tokoh-tokoh pejuang seperti TGH Ahmad.

Adik dari TGKH M Zainuddin Abdul Madjid dan Ustad Dahmurudin yang dituduh memprovokasi perlawanan di madrasah, dan selanjutnya yang akan ditangkap adalah TGKH M Zainuddin Abdul Madjid sendiri.

Tapi sebelum penangkapan, Maulanasyeikh mengajak pejuang yang ada di barisan Mujahidin dan dikomandani TGH Faisal, adiknya mengambil inisiatif menyerang markas NICA di Selong.

Dan Maulanasyeikh mengajak tokoh-tokoh pejuang mengadakan pertemuan. Ada beberapa hal yang disampaikannya, antara lain: melakukan penyerangan lebih awal ke markas tentara NICA, sebelum mereka menangkap para pejuang, khususnya yang aktif mengajar di madrasah.

Ia juga meyakinkan para pasukan untuk meneguhkan iman dan tekad, bahwa perjuangan itu adalah dalam rangka menegakkan agama Allah dan mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan. Selain itu, ia juga mengatur strategi penyerangan agar lebih mantap.

Kala itu, dalam strategi penyerangan NICA di Selong terdapat sayap tengah yang dipimpin TGH Faisal, sayap kanan dipimpin Sayyid Saleh, dan sayap kanan dibawah komando Abdullah.

Pada penyerangan ke markas tentara NICA tanggal 7 Juni, TGH Faisal yang merupakan adik dari TGKH M Zainuddin Abdul Madjid gugur tertembak di dalam markas. Sementara Sayyid dan Abdullah juga gugur di luar markas saat melakukan penyerangan.

Kekuatan yang tidak seimbang antara pasukan pejuang dengan persenjataan tentara NICA membuat pertempuran tidak sepadan.

Pejuang yang bermodalkan senjata seadanya, harus berhadapat dengan timah panas tentara NICA, dan setelah mengetahui pemimpin mereka gugur, barisan pejuang pun dipukul mundur oleh tentara penjajah.

Dalam perkembangannya, Madrasah NWDI dan NBDI di-blacklist sebagai markas gelap yang menentang penjajah. Beberapa orang guru NWDI dan NBDI ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, beberapa orang diantaranya diasingkan ke daerah lain.

Seperti TGH Ahmad Rifa’i adik kandung TGKH M Zainuddin Abdul Madjid dipenjara di Ambon, Maluku, TGH Muhammad Yusi Muhsin Aminullah dipenjara di Praya, Lombok Tengah.

Selain itu, NICA juga menghasut rakyat untuk berdemonstrasi keliling kota Selong untuk memojokkan para pejuang. Banyak pejuang di sekitar Pringgabaya, Masbagik, Lendang Nangka, Lenek, Tebaban, Gapuk, Rumbuk, Lepak, Rarang, dan Dasan Lekong ditahan di penjara Selong.

Sebagian dipenjara ke Ambon dan Denpasar. Keadaan seperti ini berlangsung sampai penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949. Baru setelah itu, rakyat Lombok bisa menyambut hidup baru, yaitu bebas dari penjajahan. (bersambung/r7/SIRTUPILLAILI)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys