Ketik disini

Selong

18 Tahun Menderita Hidrosepalus, Ahda Torik Butuh Bantuan

Bagikan

SELONGA�– Nasib malang menimpa Ahda Torik, 18 tahun asal Pringgasela Lombok Timur (Lotim). Pria yang harusnya bisa menikmati masa remajanya ini kini hanya bisa terbujur di atas ranjang rumah akibat penyakit yang dialaminya. Divonis mengalami hidrosepalus sejak usia dua bulan, remaja ini terlambat mengalami penanganan sehingga kondisinya tak bisa lagi disembuhkan.

a�?Dia divonis mengidap hidrosepalus sejak usia dua bulan. Dia diminta untuk operasi oleh dokter. Hanya saja saat itu kami tidak punya biaya untuk mengobatinya,a�? tutur Khotimah, ibu dari Ahda Torik.

Seiring waktu, kondisi kepala Ahda sapaannya terus membesar. Beberapa pihak dari pemerintah baik Dinas Kesehatan maupun pejabat daerah yang datang mengunjunginya. Hanya tidak ada tindak lanjutnya.

a�?Saat dia usia tiga tahun ada donator dari Australia yang mau mengobatinya. Ia di bawa ke Rumah Sakit Sanglah Bali. Di sana dia dioperasi sebanyak dua kali. Hanya saja karena usianya sudah tiga tahun, penyakitnya katanya tak bisa terobati,a�? ungkap Khotimah dengan nada sedih.

Sebuah selang penyambung saraf dipasang di kepala Ahda. Sayang, selang tersebut harus dilepaskan kembali lantaran tidak bisa bekerja karena ditolak oleh organ tubuh A�Ahda. a�?Kalau dari keterangan dokter yang ada di Sanglah, seharusnya dia dibawa saat diketahui mengidap hidrosepalus usia dua bulan itu. Tapi mau bagaimana lagi, saat itu kami nggak ada biaya,a�? beber Khotimah.

Kepada sejumlah awak media, Ahda menyapa ramah. Ia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Ia berusaha berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang fasih dan baik. Hanya saja, akibat kondisinya ini, suaranya sedikit berubah. Kondisi fisiknya juga lebih terlihat mirip balita daripada seorang remaja.

a�?Siapa ini datang ramai-ramai. Siapa saja namanya?a�? tanya remaja empat bersaudara tersebut.

Ahda juga sempat mengungkapkan bahwa ia senang dengan keramaian. Itulah yang menyebabkan dirinya sangat senang tinggal di rumah neneknya dibanding rumahnya sendiri. a�?Kalau di rumah sepi, kalau di rumah papin itu ramai,a�? akunya.

Dari penuturan Khotimah, Ahda senang mendengar suara musik dan pengajian melalui handphone. Ia juga senang nonton TV dan berbicara dengan adik-adiknya dari atas ranjangnya. Maklum, Ahda hanya bisa tertidur tak bisa duduk apalagi berjalan. Untuk memenuhi kebutuhan gizi, Ahda biasanya makan roti dan makanan lembut lainnya. Karena kondisi giginya juga sudah tidak sempurna.

a�?Tapi dia selalu ikut puasa saat Bulan Ramadan. Nggak mau nggak puasa,a�? ucap Khotimah.

Dengan kondisi Ahda saat ini, Khotimah hanya bisa pasrah menerima kondisi anaknya. Ia mengaku hanya ingin merawat Ahda sampai kapanpun sekuat tenaga dan semampunya. (ton/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys