Ketik disini

Metropolis

Mengenang Perjuangan Dokter Soedjono (3-Habis) : Soedjono Pimpin Gerakan Sapuq Puteq

Bagikan

Dr Soedjono lahir, hidup, dan meninggal saat Indonesia masih dijajah Belanda. Sesuai kemampuannya sang dokter ikut berjuang.

***

Selamat Datang di RSUD Dr Soedjono Selong. Kalimat ekstra besar itu terpampang di halaman depan rumah sakit milik Pemkab Lotim. Itu adalah salah satu bentuk penghargaan sekaligus pengakuan yang diberikan pemerintah daerah pada Raden Soedjono. Kendati tak pernah menerima medali kehormatan apapun dari pemerintah, namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Selong dan nama jalan di Mataram.

Sepanjang hayatnya, Soedjono tak pernah merasakan nikmatnya kemerdekaan. Dilahirkan 1879 lalu, Soedjono wafat setahun sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya 16 Februari 1944. Dia disemayamkan di Ampenan.

Banyak sumber mengatakan Soedjono tak hanya sebagai seorang dokter. Dia juga seorang aktivis yang banyak berkegiatan dalam bidang sosial. Menjalani peran utama sebagai dokter, ia membuat klinik kecil di Selong, tepatnya di seputaran Puskesmas Selong saat ini.

Disela kegiatannya mengobati orang, ia mendirikan rintisan sekolah untuk warga pribumi. Kini sekolah itu menjelma menjadi SMPN 2 Selong, letaknya tepat di sebelah barat Pendopo Bupati Lotim. Setelah mendirikan sekolah dan mengajari anak-anak Lotim, Suami dari Baiq Rumite, Miah, dan Ilasih itu lantas memilih anak-anak terpintar. Mereka yang dianggapnya berprestasi dan memiliki peluang sukses dalam bidang akademik dikirimnya belajar ke Jawa untuk mendapat pendidikan lanjutan.

a�?Biayanya semua dari kocek pribadi,a�? ujar Raden Rahardian, sang cucu.

Jasa-jasanya itulah yang membuat namanya sangat harum di tengah masyarakat. Banyak warga akhirnya bersimpati padanya.

Namun lambat laun, aksinya membuat penjajah Belanda maupun Jepang gerah. Khawatir sang dokter menggerakkan rakyat untuk melakukan kudeta, ia terus dimata-matai. a�?Tapi beliau pantang surut, baginya pengabdian itu tak boleh dibatasi,a�? ceritanya.

Soedjono memang tak mengangkat senjata secara langsung. Namun kegiatan sosial yang dilakukan secara tak langsung membuat para penjajah ketar-ketir.

Dengan berjuang di bidang kesehatan dan pendidikan, Soedjono sebenarnya tengah mengupayakan perjuangan dalam dimensi yang berbeda. Dengan masyarakat yang makin sehat dan berpendidikan, jelas semangat perjuangan akan lebih membara lagi.

Dalam buku a�?Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barata�? terbitan 1978/1979, nama Dr Soedjono beberapa kali disebut. Oleh Mamiq Fadelah, mantan Kepala Desa Dasan Lekong, dirinya bersama Dr Soedjono memimpin gerakan Sapuq Puteq. Gerakan itu terus menjurus pada kegiatan sosial. Sehingga wibawa Belanda terus terkikis.

Gerakan ini juga dikenal acuh tak acuh pada Belanda. Belanda yang marah dan khawatir dengan pergerakan itu lantas memindahkan Soedjono ke Madiun Jawa Timur.

Namun dasar cinta pada Lombok, setiap kali berkesempatan kembali, ia selalu datang. Bahkan hingga akhir hayatnya, sang dokter terus mengabdi. Ketika sudah pensiun, di rumah peristirahatannya ia tetap melayani masyarakat, melakukan pengobatan dan transfer ilmu pendidikan. Terima kasih Dr Soedjono, jasamu sungguh besar. (WAHYU PRIHADI, Mataram./r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka