Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Salibu Diperkenalkan ke Petani

Bagikan

MATARAM – Teknologi pertanian terus berkembang. Satu teknologi yang mulai dikenalkan ke petani saat ini adalah teknologi budidaya padi dengan sistem Salibu.

”Teknologi budidaya dengan metode ini dapat meningkatkan hasil 3-6 ton per hektare,” kata Tim Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Dr Ahmad Suriadi saat publish di Senggigi kemarin.

Ia menerangkan, banyak keutungan dari metode ini. Di antaranya hemat biaya, hemat benih, meningkatkan hasil, meningkatkan pendapatan petani, hemat air, hemat tenaga kerja, dan ramah lingkungan.

Selain itu dapat meningkatkan indeks panen IP sama dengan 0.5-1 per tahun, mengurangi biaya produksi sampai dengan 45 persen, dan menjaga tingkat kemurnian benih.

“Selain itu, peluang pengembalian bahan organik ke lahan dengan pembenaman jerami dan mengurangi bakar jerami dan juga mampu mengatasi masalah kurangnya tenaga kerja,” tambahnya.

Teknologi ini menerapkan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas atau dipangkas. Tunas akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah dan mengeluarkan akar baru sehingga suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama.

”Tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa,” jelasnya.

Selain itu metode ini bisa membuat panen MT-1 lebih awal 7-10 hari. Persiapan lahan dengan penyemprotan gulma (1-2 HSP), penggenaan, dan pemotongan pangkal jerami. Metode ini tanpa benih, pengolahan lahan TOT, tanpa penanaman, dan penggunaan pupuk N hanya 25 persen. Penyiangannya bisa lebih awal dengan jerami dibenamkan.

”Umur panen lebih awal 15 persen dari tanaman pertama dan potensi hasil 100 plus 15 persen,” jelasnya.

Keuntungan dengan metode Salibi ini tetap dipengaruhi beberapa aspek. Tergantung varietas dan harus varietas Inpari 19, Inpari 21, Hipa 3, Hipa 4, Hipa 5, Rokan dan cimelati. Tinggi pemotongan sisa batang. Kondisi air tanah setelah panen. Serta penjarangan, penyulaman, pemupukan.

Setelah panen MT-1, induknya batang bawah dipotong ulang dengan tinggi3-5 centimeter. Pada 7-10 HSP atau satu minggu setelah potong tanah lembab dan baru minggu kedua diairi. Umur 20-25 HSP dilakukan penjarangan, penyulaman, pemupukan, penyiangan, dan pembenaman jerami

Ahmad menerangkan, sistem Salibu sebaiknya menggunakan sistem tanam jarwo guna mempermudah perawatan. Petani juga harus menjaga agar kondisi lahan dalam keadaan kapasitas lapang. Maksudnya tidak ada air yang tergenang tetapi tanah dalam kondisi lembab.

”Namun metode ini memiliki kerugian karena siklus hama penyakit tidak terputus. Sehingga pemahaman petani tentang pengendalian OPT secara terpadu harus ditingkatkan,” tandasnya. (nur/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka