Ketik disini

Dialog Jum'at

Nyantri di Ponpes

Bagikan

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah penguasa jagat raya ini atas semua nikmat dan karuniaNya, terutama sekali nikmat iman dan islam. Selawat dan salam kepada Rasulullah SAW, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

Pembaca Rahimakumullah!

Masyarakat NTB, khususnya pulau Lombok terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Gelar tersebut bukanlah asal-asalan yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi lebih dari itu. Karena faktanya, masjid, musala (masjid kecil) di NTB lebih dari sepuluh ribuan. Sungguh luar biasa. Saat ini, masjid-masjid yang ada, sebagian berlantai dua, bahkan tiga lantai.

Tentu saja potensi tersebut diharapkan dan harus diupayakan pemanfaatannya agar maksimal, baik sebagai tempat ibadah, tempat pembinaan umat lebih-lebih terhadap para remajanya, terutama pembinaan dalam bidang pendidikan dan dakwah.

Penulis yakin bila fungsi masjid dan musala dapat dimaksimalkan, maka sekian banyak permasalahan umat (masyarakat) dapat teratasi. Yang tidak kalah pentingnya dari keberadaan masjid adalah keberadaan pondok-pondok pesantren dengan jumlah santri yang mencapai seratus ribuan, dengan jumlah pengajiannya yang sangat besar. Potensi ini sangat dahsyat dan luar biasa.

Berkaitan dengan keberadaan pondok pesantren, madrasah dan masjid, tentu tidak dapat dilupakan dengan Alquranul Karim yang merupakan landasan utama Islam. Karena di pondok-pondok pesantrenlah umat Islam dapat lebih mendalami kajian Alquran setelah pembinaan di dalam rumah tangga. Tidak bisa kita hitung jumlah qori-qoriah, ahli agama, tokoh masyarakat pada berbagai bidang dan jenjang, dari tingkat yang paling bawah sampai menjadi bupati, gubernur, bahkan menteri yang berlatar belakang santri pesantren.

Karenanya kita sangat menghargai apa yang telah dilakukan oleh Bapak Gubernur dan Bapak Kemenag NTB melakukan rangkaian kegiatan dalam rangka Gebyar Hari Santri belum lama ini antara lain dengan menyiapkan acara bertajuk “Budaya Menulis Mushaf Alquran” di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center.

Yang menarik dari acara tersebut adalah pernyataan Bapak Gubernur bahwa beliau bangga menjadi santri, karena segala kesuksesan yang beliau capai selama ini tidak pernah lepas dari latar belakang beliau nyantri di pondok pesantren.

Bila kita runut, pesantren lahir sejak zaman Wali Songo. Ternyata pesantren telah mampu melahirkan orang-orang besar dan hebat seperti Raden Fatah, Sultan Demak pertama yang merupakan produk dari pesantren Ampel. Mudah-mudahan hal ini terus menyemangati para santri untuk belajar lebih tekun dan lebih ulet di pesantren. Belajar di pesantren dengan segala kekurangan yang ada, sangatlah banyak memiliki nilai plus. Mengingat para santri selalu berada dalam pembinaan dan pengawasan dari para pembinanya, baik yang dilakukan oleh para santri senior, guru pembina, para ustaz, pembinaan kiayai sendiri secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga dengan demikian para santri dapat mengembangkan diri, juga didorong pengembangan rohani dan intelektualnya oleh para ustaznya.

Pembinaan selama dua puluh empat jam tersebut dapat membuat santri sangat dinamis dan produktif. Maka tidak sedikit santri yang produktif dan dinamis itu melebihi santri yang lebih dahulu nyantri, tertinggal di belakang dari segi pengajian dan penguasaan terhadap kitab-kitab kajian di pesantren.

Berkaitan dengan ini, tidak sedikit terjadi pesantren cabang dapat berkembang lebih besar dibandingkan dengan pesantren induknya. Dengan dinamika pesantren seperti itu, banyak pesantren cabang berkembang pesat dan besar, sebaliknya pesantren asal statis bahkan mati.

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pesantren itu sangat dinamis dalam pengembangan ilmu, sangat menghormati ilmu dan ahli ilmu atau ulama. Inilah kunci bahwa islam adalah agama yang membawa kemajuan dan peradaban menuju keselamatan dunia dan akhirat. (*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka