Ketik disini

Headline Selong

Potret Buram Buruh Migran asal Lombok (1) : Berangkat tanpa Paspor, Pulang tanpa Kaki

Bagikan

Jon Mariyono harus menerima kenyataan pahit. Kaki kanannya diamputasi hingga paha. Kecelakaan kerja di Malaysia tahun 2000 silam mengubah jalan hidupnya. Dia berharap kaki palsu.Dia yakin jika memakai kaki palsu, bisa mengubah kondisi ekonomi keluarganya.

***

Potongan rambut model terbaru, yang diwarnai coklat disisir rapi. Kaos obolong yang sudah berlubang di bagian leher, berpadu dengan sarung ungu tua motif bunga. Tak lupa kalung rantai perak yang warnanya mulai A�pudar. Senin pagi (1/5), Jon Mariyono, 35 tahun A�siap berangkat kerja.

Namun bunyi meteran listrik tit..tit..tit..tit nyaring terdengar hingga halaman rumah.A� Jon memeriksa angka di meteran listrik itu. Lampu yang terpasang sehemat mungkin sepertinya tak mampu membuat meteran itu terdiam.

A�a�?Nanti saya isikan (pulsa listrik), mudahan hari ini ada rezeki lebih,a��a��kata Jon pada perempuan tua yang duduk di halaman rumah. Perempuan itu, Sonah, adalah ibu Jon. A�Saonah berharap Jon pulang membawa angka-angka token listrik. Dia tidak ingin malam-malam selanjutnya tidur dalam gelap.

a�?Saya juga sudah tidak jelas melihat,a��a�� kata perempuan itu menunjukkan mata kirinya. Sementara mata kanannya buta. Karena usia tua dan tidak jelas melihat itulah yang membuat Sonah tidak bisa jauh kemana-mana.Apalagi mencari kerja.

Jon adalah A�tulang punggung keluarga. Sekali dua bulan, atau kadang sekali tiga bulan, kakaknya mengirim uang dari Malaysia.A� Di rumah berukuran 4,5 meter X 7 meter itu, Jon tinggal bersama ibu dan keponakannya Marsya, yang kini kelas IV SD. Marsya adalah putri kakak Jon yang kini bekerja di Malaysia. Orang tua Marsya bercerai, dan kini tinggal bersama Jon.

Di rumah batako yang belum diplester itu, belasan tahun Jon menjalani hidup dalam penantian panjang. Sejak tahun 2000, Jon berharap memiliki kaki palsu. Kaki kanannya putus saat bekerja di Malaysia. Sejak tahun 2000 itulah hidup Jon berubah.A� Jon hanya bisa menjadi tukang cukur, bekerja untuk orang lain, dan penghasilannya dibagi dua. Membuka usaha cukur di kampung, Desa Bungtiang, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, penghasilannya tidak menentu. Kadang sehari hanyaA� Rp 10.000.A� Angka Rp 25.000 adalah jumlah yang besar.

a�?Kalau sehari dapat satu orang cukur, hasilnya dibagi dua sama pemilik tempat. Sama-sama Rp 5.000,a��a��katanya.

Mencukur adalah salah satu keahlian Jon. Keahlian yang dia pelajari secara otodidak setelah kehilangan kaki kanan. Sebelum itu, Jon adalah pemuda kekar. Sisa-sisa kerja kerasnya bisa dilihat dari ototnya. Empat kali dia masuk Malaysia, empat kali dipulangkan paksa. Pulang yang keempat mengubah hidupnya 180 derajat.

Jon adalah saksi hidup carut marutnya buruh migran di Lombok, dan di seluruh Indonesia. Empat kali menjadi buruh migran, empat kali itu juga Jon berangkat secara ilegal. Masuk melalui jalur tikus, menjadi korban perdagangan orang. Jon tidak menyadari dia dijual sejak usia belia.

Jon hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Desakan kemiskinan mengirimnya A�ke Malaysia saat temannya mendaftar masuk SMP. Sesampai di Malaysia, Jon kecil a�?dijuala�? ke proyek bangunan. Tangan mungil Jon mengaduk semen, mengangkut besi, mengangkat bata. Apapun yang disuruh oleh mandor dan pekerja dewasa lainnya, Jon selalu ikuti. Bagi Jon dia harus bekerja keras dan pulang membawa uang.

Hingga suatu hari, Polisi Diraja Malaysia merazia. Jon ditangkap. Mungkin karena wajahnya yang masih polos dan ditahu usianya masih belia, dia tidak disiksa seperti buruh migran lainnya.

Pulang ke rumah, Jon menjadi pengangguran. Tak tahan menganggur Jon kembali ke Malaysia. Sama seperti pemberangkatan pertama, tanpa paspor. Jon tak menyadariA� ongos yang ditanggug tekong a adalah A�a�?uang mukaa�? atas praktek human trafficking . Jon hanya tahu dia diberangkatkan gratis dan bekerja di kelapa sawit.

Jon muda menghabisi A�masa remaja di tengah hutan kepala sawit, jauh dari kota. Di dalam pergaulan itulah Jon mulai ingin menunjukkan eksistensi remajanya. Ketika grup musik Slank jadi idola para remaja, Jon rela leher kirinya dicap logo band asal Gang Potlot Jakarta itu. Logo Slank itu tidak sempurna, kurang huruf N, tapi Jon remaja tetap bangga dengan tato itu. Dia juga membubuhkan tato di lengan kiri, dada. TatoA� lainnya di A�lengan kanan, Jon membubuhkan tulisan Allahu Akbar.

a�?Sudah saya hilangkan sebagian,a��a�� kata Jon menunjukkan lengan kiri. Kulit yang terbakar, bekas tato yang disetrika. Belakangan Jon sadar tato itu tidak baik. Dia berjanji pada dirinya akan menghilangkan tato itu satu demi satu.

Polisi Diraja Malaysia kembali melancarkan razia. Jon terjaring operasi. Setelah diinterogasi, petugas tahu usia Jon masih remaja. Dia kembali dipulangkan.

Dua kali ditangkap tidak membuat Jon kapok. Dia kembali berangkat ke Malaysia. Ototnya semakin kuat. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya yang masih remaja. Pada berangkat yang ketiga itu Jon kembali melalui jalur tikus. Jon tidak khawatir berangkat tanpa dokumen. Tapi Jon tidak sadar, jika jaringan yang memberangkatkannya ke Malaysia itu adalah sindikat perdagangan orang.

Masuk ketiga di Malaysia Jon kembali bekerja sebagai buruh sawit. Dia juga hafal jika sewaktu-waktu ada operasi pekerja ilegal dari Polisi Malaysia. Tapi, tak selamanya Jon bisa bersembunyi. Dia kembali ditangkap. Dipulangkan paksa ke Indonesia.

Kapok ? Tidak. Jon kembali dia mengadu nasib ke Malaysia. Sudah ada tekong yang siap memberangkatkan. Tanpa selembar dokumen. Jon berangkat ke Malaysia dan akan bekerja di sebuah perusahaan pengolahan sampah. Jon tidak tahu apakah tempatnya bekerja itu perusahaan swasta atau milik pemerintah, seperti Dinas Kebersihan. Jon hanya tahu setiap hari dia mengangkut sampah dari tempat penampungan sementara (TPS) untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Suatu hari bersama para buruh lainnya Jon menjalani rutinitas. Menaikkan sampah di atas truk yang sudah terpasang mesin untuk memadatkan, seperti mesin untuk memadatkan tembakau. Tapi mesin yang terpasang di truk itu bekerja semi otomatis. Begitu sampah dinaikkan ke atas truk, selanjutnya di dalam bak itu ada kotak baja yang akan memadatkan sampah. Nantinya sampah itu sudah dalam bentuk kotak.

Saat proses itulah Jon kecelakaan. Dia terjatuh di dalam bak pemadatan sampah itu. Naas, kaki kananya terperosok. Hanya dalam hitungan detik, kaki kanannya itu hancur, menggumpal bersama tumpukan sampah. A�(BERSAMBUNG/Fathul Rakhman a�� Lombok Timur/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags: