Ketik disini

Headline Metropolis

Pengamat : Aksi Corat-coret Seragam Simbol Kegagalan Dunia Pendidikan

Bagikan

MATARAMA�– Aksi coret-coretan seragam yang dilakukan siswa SMA dalam merayakan kelulusan dinilai sebagai salah satu bentuk kegagalan dunia pendidikan. Terutama dalam menempa mental, etika, dan perilaku peserta didik.

Pemerhati pendidikan dari Institute Agama dan Kebudayaan (INSAN) NTB DR Asrin menilai, ini harus segera diperbaiki. Sehingga ke depan, aksi tak bermanfaat seperti ini, tak lagi terjadi.

Menurut Asrin, ada satu hal yang harus diperhatikan guru ditengah beragai persoalan yang muncul di dunia pendidikan. a�?Soal keteladanan,a�? tegasnya.

Jika dibanding dengan satu dasawarsa yang lalu, pendidikan pada umumnya menghadapi persoalan yang sama. Yakni terkait fasilitas belajar dan mengajar. Tetapi kini, fasilitas sudah sangat memadai untuk itu semua.

a�?Tentu saja, kalau ukuran fasilitas adalah kebaruan tentu tidak akan pernah bisa memadai. Tetapi coba lihat sekarang anak-anak sudah punya buku, papan tulis, meja, hingga barang elektronik sepeti laptop hingga smartphone,a�? ujarnya.

Semua fasilitas itu, lanjut Asrin, sudah sangat cukup untuk mendukung jalannya pendidikan di sekolah. Tetapi semaju dan secanggih apa pun fasilitas yang digunakan, jika tidak dibarengi dengan keteladanan, maka pesatnya teknologi hanya akan melahirkan dampak buruk.

“Jika guru mau dihormati, maka sayangilah murid. Jika guru mau anak didiknya tidak pegang ponsel, maka beri keteladanan dengan tidak memegang ponsel saat jam pelajaran,a�? sindirnya.

Asrin menyebut hal ini kerap terlihat sederhana. Tetapi sangat prinsipil. Sudah saatnya, momentum Hardiknas tidak hanya dirayakan secara seremony saja. Tetapi harus punya ruh membangun pendidikan yang berkarakter dan memiliki teladan yang baik.

a�?Tetapi coba lihat sekarang gaya hidup siswa dari yang hedonis sampai brutal suka kelahi. Lalu ada kasus-kasus mesum dan banyak lagi yang lainnya,a�? cetusnya.

Karena itu, lanjut dia, sebenarnya terlalu sepihak untuk menimpakan kesalahan hanya pada peserta didik saja. Jika lingkungan tempat mereka belajar tidak memberi keteladan yang baik, seperti apa mereka harus bersikap.

Pesatnya teknologi bukannya membuat anak semakin cerdas. Tetapi ruang mendapatkan informasi tidak mendidik justru semakin luas.

“Setelah lulus mereka corat-coret, seakan persoalan sudah selesai setelah mereka lulus,a�? sindirnya.

Di Kota Mataram, lanjut dia, dunia pendidikan nyaris kehilangan ruh. Beberapa kasus yang mengiringi pendidikan di kota beberapa tahun ke belakang, seharusnya cukup jadi bukti pemerintah daerah harus mulai berbenah. Mulai memperhatikan sistem pendidikan di daerah.

“Ada murid lawan guru, ada murid berkelahi, ada siswi kirim foto bugil dan lain-lain, ayolah ini harus kita benahi. Jangan cuma bisa marah-marah saja, tetapi harus ada kreativitas dan keteladanan untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak didik kita,a�? tandasnya.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, juga menyampaikan harapan yang sama. Termasuk pentingnya unsur keteladanan dalam pendidikan. a�?Seperti yang dicontohkan bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara,a�? ujarnya.

Ia juga berharap tiga unsur yang berperan dalam membentuk hasil pendidikan yakni Sekolah Keluarga dan Masyarakat ikut bekerja bersama. Bahu-membahu memperbaiki sistem pendidikan di Mataram.

“Ini kerja kita bersama, bagaimana membangun pendidikan yang sehat dan mandiri di Kota Mataram,a�? harapnya.

Sempat disentil soal kesejahtaraan guru honorer, Ahyar berjanji akan terus mengupayakan. a�?Namun tentu sesuai dengan pengabdian mereka dan kemampuan kita (untuk memberi honor),a�? jawab ia.

Salah satunya diantaranya dengan memfasilitasi guru-guru non PNS agar bisa mendapatkan serfifikasi. a�?Bukan SK honor tapi hanya untuk memfasilitasi agar mereka mendapatkan sertifikasi,a�? tadasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka