Ketik disini

Headline Metropolis

Menpar : NTB Wisatanya Halal, Masak Destinasinya Kotor

Bagikan

JAKARTA-Menteri Pariwisata Arief Yahya mengingatkan Pemprov NTB agar benar-benar memerhatikan kondisi destinasi wisata di daerah ini. Sebagai pelopor wisata halal di Indonesia, Menteri Pariwisata mengingatkan NTB agar membenahi destinasi wisata. Menjadi tidak elok, ada daerah dengan ikon wisata halal, tapi destinasinya tidak bersih.

Kritik membangun itu disampaikan Menteri Pariwisata langsung kepada Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi di sela launching Pesona Khazanah Ramadan di gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, kemarin (4/5). Pada hari yang sama, Menteri Pariwisata memang mendapat komplain habis-habisan terkait kondisi sampah di Gunung Rinjani, yang merupakan salah satu destinasi utama Indonesia yang ada di Lombok.

a�?Ada lagi hari ini pak Tuan Guru,a�? kata Menteri Pariwisata kepada Gubernur. a�?Rinjani saya dikomplain habis hari ini. Kata orang itu, saya sudah tidak mau datang lagi ke Rinjani karena kotor. Gimana pelajaran (agama)-nya?a�? kata Arief Yahya melanjutkan.

Yang ia maksud, adalah pelajaran agama Islam yang menempatkan kebersihan sebagai setengah dari iman. Menurut Arief, Indonesia adalah negara yang sebagian besar rakyatnya percaya bahwa kebersihan sebagian dari iman. Tapi ia menyayangkan prinsip itu bertolak belakang dengan praktik di lapangan. Objek-objek wisata masih kotor.

Sebagai daerah ikon wisata halal di Indonesia, kebersihan destinasi di NTB menurut Arief menjadi mutlak. Kebersihan destinasi itu, antara lain harus mewujud hingga hal-hal yang kecil. Misalnya kebersihan toilet di setiap destinasi. Menpar menyebut, hingga kini di sejumlah destinasi di NTB masih dijumpai toilet yang masih kotor tersebut.

Karena itu menjadi keharusan bagi pemerintah provinsi bersama seluruh pemerintah kabupaten/kota benar-benar memperhatikan masalah kebersihan destinasi. Apalagi saat ini, Kementerian Pariwisata sedang gencar mempromosikannya Pulau Lombok khususnya sebagai destinasi wisata halal. Penyadaran masyarakat kata Menpar menjadi penting. Pun keterlibatan bupati dan wali kota. Dan dia berharap banyak pada Gubernur NTB mengingat orang nomor satu di NTB tersebut adalah juga ulama kharismatik.

Pada saat yang sama, Arief menjelaskan, potensi pariwisata halal sangat bagus. Perkembangan industri wisata halal pun sangat menjanjikan. Sizenya tidak kalah dengan pasar China sekitar 120 juta, sementara friendly tourism 121 juta, dan pertumbuhan juga tinggi dari pada pertumbuhan dunia yakni 4,4 pesen, ASEAN 5,1 persen, sementara friendly tourism 6 persen.

Jadi menurutnya pariwisata halal sangat sempurna, sehingga akan sangat sayang sekali jika potensi tersebut tidak diambil. Jika tidak diambil, maka akan diambil negara lain. Sebab, setiap segmen pasar harus tetap diambil, dan halal tourism ini adalah salah satu segmen yang bisa diambil.

Di sisi lain, masalah halal menjadi kelebihan sekaligus kekurangan orang Indonesia. Dimana orang Indonesia sangat sensitif sama makanan yang halal atau tidak. Mereka selalu mencari semua yang serba halal. Tapi hal itu sekaligus menjadi kelemahannya. Karena merasa sudah sangat halal, maka orang Indonesia tidak mau disertifikasi, banyak yang menolak. Sementara syarat utama wisata halal adalah sertifikasi halal tersebut.

Karena itu, ketika suatu daerah mengklaim dirinya mengembangkan wisata halal, maka daerah tersebut kata Arief harus tetap patuh pada ilmu-ilmu dasar, seperti ilmu bisnis, ilmu marketing dan sebagainya. Ilmu-ilmu dasar itu merupakan sunnatullah, atau suatu keharusan yang wajib dilakukan pemerintah daerah jika ingin mengembangkan wisata halal. Misalnya, ketika mau jualan konsep wisata maka harus dipromosikan agar orang tertarik. a�?Jadi mohon maaf ini Pak Tuan Guru, tidak bisa hanya berdoa saja kita,a�? kata Arief.

Sehingga dia mengingatkan harus diiringi pula dengan upaya untuk promosi yang baik. Termasuk wisata halal di NTB, maka kebersihan juga harus dijaga sebagai sebuah implementasi konsep halal tersebut. a�?Kalau WC-nya bau kan malu-maluin,a�? kata Arief.

Ia juga menekankan, jika ingin menjadi pemain global, maka harus menggunakan standar global. Tidak serta merta halal, kemudian lulus. Salah satu yang dipakai adalah Global Muslim Travel Index (GMTI) dimana Indonesia saat ini berada di urutan ketiga. Selain itu juga ada indeks standar lainnya. Pada intinya dalam menilai harus menggunakan standar global yang jelas, sehingga tidak menjadi debat-debatan.

a�?Jangan karena Anda halal, lalu Allah pasti merestui. Menurut saya. Tetapi harus tunduk pada ilmu-ilmu dasar, kekalahan kita ada di situ,a�? ujarnya.

Standar global ini sangat dibutuhkan untuk mengenali kondisi dunia dan mengenali diri sendiri, sehingga Indonesia bisa memenangkan kompetisi dunia. Semuanya harus bisa dikualifikasi, tidak bisa dinilai secara subjektif, jika tidak menggunakan angka, maka cenderung subjektif.

Berdasarkan data Travel and Tourism Competitiveness Index tahun 2015-2017. Indonesia naik dari posisi 50 tahun 2015 menjadi urutan 42 tahun 2017, dalam item penilianan Indonesia masih sangat jelek pada poin environmental sustainability berada di urutan ke 131 dari 136 negara. A�a�?Betapa buruknya negara ini, ini salah satunya kebersihan ini,a�? katanya.

Terkait pernyataan Menteri Pariwisata ini, Gubernur NTB TGB H M Zainul Majdi mengatakan, pihaknya akan terus mencarikan jalan keluar untuk memastikan kondisi destinasi di NTB tetap terjaga kebersihannya.

Khusus untuk Rinjani, Gubernur mengatakan, setiap tahun memang selalu menjadi masalah pariwisata NTB, terutama karena persoalan sampahnya. Meski menjadi tanggung jawab Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tapi Gubernur memastikan akan menyiapkan upaya agar persoalan ini selesai. a�?Kalau masalah kotor, kita bersihin, mau apakan lagi. Kita bersihin,a�? katanya.

Disamping itu, pemprov juga akan berusaha mencarikan jalan keluar agar masalah tersebut tidak terulang lagi, sehingga ada solusi permanen ke depan. (ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka