Ketik disini

Ekonomi Bisnis Headline

Bandar Kayangan Terwujud, NTB Punya Pelabuhan Kelas Dunia

Bagikan

MATARAM-Rencana pengembangan Global Hub Bandar Kayangan bukan mimpi lagi. Satu langkah sudah dilakukan pemerintah untuk memastikan pelabuhan internasional terwujud. Karena dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 tahun 2017 tentang Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional, Bandar Kayangan Lombok dimasukkan sebagai kawasan andalan nasional.

 

Presiden Direktur PT Bandar Kayangan International Dr Son Diamar menjelaskan, dengan ditetapkannya PP Nomor 13 tahun 2017 tentang Revisi RTRWN, maka secara hukum Bandar Kayangan di Lombok Utara sudah sah sebagai kawasan andalan nasional. Dengan keluarnya PP tersebut, maka para calon investor akan mendapat kepastian hukum. Sehingga tidak perlu ragu lagi menanamkan modal mereka di sana. Sebab peraturan pemerintah merupakan hirarki kedua setelah undang-undang untuk menjamin legitimasi pengembangan kawasan.

”Sangat kuat,” katanya usai Focus Group Disscation (FGD) Assesment Potensi Bandar Kayangan oleh tim pakar Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) di ruang Rapat Utama Gubernur NTB, kemarin (12/5).

 

Diamar menekankan, poin yang diatur dalam PP tersebut adalah pemerintah telah menetapkan Bandar Kayangan sebagai kawasan andalan nasional untuk kegiatan industri, perdagangan dan jasa disamping kelautan. ”Jadi pelabuhan industri, kilang minyak, industrilah ya semua bisa,” kata Son Diamar yang juga koordinator tim persiapan Global Hub Kayangan.

Jika banyak cemooh bahwa rencana itu hanya khayalan belaka, menurutnya tidak masalah. Sebab semua orang berawal dari mimpi. Hanya bedanya, orang menghayal tidak bergerak sama sekali. Tapi rencana pengembangan global hub Bandar Kayangan pemerintah sudah bergerak dan melangkah. Keluarnya PP yang mengakomodir Bandar Kayangan butuh perjuangan luar biasa. Tim selama ini berusaha meyakinkan presiden dan menteri-menteri agar global hub masuk dalam peraturan itu.

Kini setelah PP tersebut keluar, diharapkan pemerintah daerah menindaklanjuti dengan menerbitkan perda-perda untuk mendukung pembangunan. Sementara ia sendiri sebagai orang yang dipercaya gubernur dan bupati sudah menggalang calon-calon investor baik dari Belanda maupun Kroasia untuk membangun pelabuhan. Sementara untuk kilang minyak akan dibangun investor dari Rusia dan China. Bahkan orang yang siap membebaskan tanah.

”Jadi tidak menghayal ini, sudah ada calon-calon (investor)-nya,” kata Son Diamar.

 

Pria yang juga salah satu penggagas Bandar Kayangan ini  mengatakan, jika sudah jadi kelak, Bandar Kayangan akan dibuat mirip seperti kota Dubai-nya Indonesia yang berpenduduk satu juta dengan luas 7.000 hektare. Nanti ada pelabuhan yang sangat modern dan dapat menampung kapal-kapal raksasa yang panjangnya 500 meter.

Kapasitas ini tidak akan bisa ditandingi pelabuhan manapun di Indonesia. Pelabuhan Tanjung Priuk pun hanya 300 meter, itupun kapasitasnya tidak full karena dangkal. Sementara di Lombok beribu meter luasnya dan bisa dirapati kapal 500 meter dengan kedalaman draf 35 meter. Kemudian bisa mengangkut 18 ribu teus atau 18 ribu kontainer bisa didaratkan di sana.

”Kalau empat kapal saja maka menurunkan barang separo, maka seribu hektare kawasan industri akan penuh,” katanya.

 

Selain itu, rencana pembangunan kilang minyak di kawasan tersebut akan menyerap banyak tenaga kerja yang harus disiapkan dan dilatih saat ini. Nanti kota baru di kawasan itu akan lahir.

 

Meski demikian, ia menekankan bahwa dalam proses pembebasan lahan Bandar Kayangan nanti, pihaknya tidak ingin mengeluarkan warga dari kawasan itu dengan membeli lahan dengan harga murah. Sehingga warga tidak dapat apa-apa dan tetap miskin. Pola yang ingin diterapkan adalah investor membeli tanah dengan harga pasar yang tidak boleh main-main. Rakyat akan diberikan rumah secara gratis di 25 lingkungan perumahan yang didesain secara modern.

”Jadi nanti ada rumah-rumah rakyat pemilik tanah asli dan dikepung dengan bangunan-bangunan modern,” ujarnya.

 

Selain itu, masyarakat juga akan dibuatkan koperasi dan mereka mendapat saham sampai 10 persen. Sehingga berapapun keutungan koperasi itu mereka akan mendapat untung. Sehingga di masa yang akan datang mereka akan berubah menjadi orang kaya.

 

Untuk tahap awal, dana yang dibutuhkan antara Rp 25 triliun hingga Rp 50 triliun. Sementara untuk kilang minyak sendiri membutuhkan Rp 130 triliun. Semuanya akan dibiayai menggunakan dana investasi perusahaan swasta, tidak dari APBD atau APBN. Sehingga perusahaan yang akan berinvestasi di sana nanti adalah mereka yang berkepentingan. Misalnya para perusahaan kapal yang ingin melewati selat Lombok merekalah yang akan bangun. Termasuk pembangunan Kilang Minyak, yang membangun adalah perusahaan yang berkepentingan dan ingin untung karena tahu Indonesia butuh.

 

Untuk itu, pemerintah memberikan target agar hingga akhir Desember tahun ini segala komitmen dengan investor rampung. Paling tidak sampai kontrak-kontrak kerja sama sudah ada. Saat ini MoU untuk pembangunan kilang minyak sendiri sudah ada. ”Kalau bisa pada 17 Desember saat NTB ulang tahun paling tidak sudah ada groundbreaking-lah,” katanya.

 

Pengembangan kawasan tidak seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Tetapi ke depan dibutuhkan kebijakan khusus dari presiden agar pajak untuk kapal-kapal dunia bisa murah. Sehingga mereka tidak mengisi di Singapura atau di Afrika, tetapi di Lombok. Diprediksi pembangunan konstruksi 3-4 tahun ke depan.

 

Untuk mengelola kawasan andalan itu, saat ini sudah ada holding commpany namanya PT Bandar Kayangan International. Kepemilikan saham 60 persen adalah investor atau perusahaan, 20 persen untuk provinsi diberikan secara gratis, dan 20 persen lagi hibah bagi kabupaten. Sehingga daerah akan mendapat PAD tanpa tidak mengeluarkan apapun.

Saat ini juga sudah ada anak perusahaan PT Property Bandar Kayangan. Di mana kepemilikan sahamnya 65 swasta, 25 persen diberikan kepada perusahaan induk, dan rakyat yang masuk koperasi akan diberikan 10 persen saham. ”Itu semuanya baru bergerak, kita sedang menggalang modal-modal dari orang yang punya uang dan punya hati nurani untuk berbagi,” ujarnya.

 

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) NTB H Rosiady Sayuti mengatakan, ketika peraturan pemerintah sudah melegalkan Bandar Kayangan sebagai salah satu kawasan andalan nasional, maka urusan yang lain menjadi lebih mudah. Dalam waktu dekat pemerintah provinsi juga akan menyesuaikan juga RTRW-nya. Setelah itu masalah investor sekarang pemodal tidak akan ragu lagi berinvestasi karena sudah ada kepastian hukum. Terutama untuk investasi tahap awal seperti pembuatan Feasibility Study (FS), analisis dampak lingkungan (Amndal), konstruksi dan sebagainya.

”Tahapan berikutnya yang harus tim akan mencarikan, karena inikan polanya full swasta,” ujarnya.

 

Calon investor menurutnya sudah ada, bahkan antara New Zealand dan Kroasia sekarang rebutan untuk berinvestasi. Karena Global Hub itu pada intinya harus dibangun pihak yang berkepentingan terhadap pelabuhan itu. Misalnya perusahaan pemilik kapal yang akan berlayar di situ dan merekalah yang akan menggunakan pelabuhan itu.

Target jangka pendek yang akan dibuat tahun ini adalah  FS-nya, baru kemudian detail dan konstruksi. Dari FS itu baru diketahui siapa yang mau membangun konstruksinya. ”Kalau orang yang punya uang banyak, tapi kalau tidak punya kepentingan nanti pelabuhannya nganggurkan?” ujarnya.

 

Untuk pembebasan lahan akan dilakukan pemda. Sistemnya tidak akan ada jual beli sebab masyarakat harus tetap memiliki di sana. Untuk itu, ia meminta kepada warga tidak menjual tanahnya saat ini. Sebab mereka akan tetap diakomodir di lokasi tersebut.

 

Rosiady menambahkan, yang membedakan KEK dan kawasan andalan nasional hanya pada sistem dan insentif-insetif dan pengurusan izin. Di kawasan ekonomi khusus multi sektor, semenatara di kawasan andalan hanya fokus pada pelabuhan, property dan kilang minyak. Sehingga tidak memerlukan intensif khusus seperti di Mandalika. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka