Ketik disini

Headline Praya

Tradisi Ngumbuk Desa Marong, Praya Timur : Mau Midang, Pemuda Wajib Bawa Ayam Jantan

Bagikan

Ngumbuk  merupakan, tradisi seorang pemuda yang ingin menemui sang pacar atau midang  di Desa Marong, Praya Timur Lombok Tengah (Loteng). Dalam prosesi itu setiap pemuda pun, wajib membawa ayam jantan.

 

Dedi Shopan Shopian – Praya

 

Jangan kaget, kalau gadis di Desa Marong bisa memiliki banyak pacar. Bisa lebih dari dua orang, bahkan 10 orang. Namun, dari sekian banyak orang tersebut, sang gadis pasti akan menjatuhkan pilihannya kepada satu pemuda saja. Itu yang dianggap benar-benar menunjukkan keseriusan menjalani hubungan rumah tangga kelak. Orang tua sang gadis pun, ikut memberikan penilian.

Zaman dulu, mereka bersaing secara sehat. Yang penting, satu tradisi yang tidak boleh dilupakan yaitu, ngumbuk. Setiap pemuda yang ingin midang alias bertandang ke rumah perempuan pujaan wajib membawa ayam jantan.

Ayam jantan bersih, bulu yang lebat, gagah dan kuat akan menjadi penilaian positif sang gadis dan orang tua. Begitu pula sebaliknya. Makna dari itu semua adalah, menggambarkan seorang pemuda perkasa, pemberani dan bertanggungjawab.

“Kalau pacarnya ada 10 orang misalnya, maka ada 10 ayam pejantan yang dibawa. Bahkan, ada pemuda yang membawa ayam lebih dari satu ekor,” ujar tokoh pemuda Desa Marong Lalu Dedi Purnawan, sembari tersenyum.

Sekretaris dewan kesenian daerah Gumi Tatas Tuhu Trasna tersebut menceritakan, tradisi semacam itu secara turun temurun dilestarikan, hingga sekarang. Agar masyarakat pada umumnya tahu, maka jelang beberapa minggu puasa Ramadan setiap tahunnya, para pemuda di Desa Marong menggelar pentas seni ngumbuk.

Alhamdulillah, kegiatan itu berjalan lancar dan sukses. Kami gelar dua malam berturut-turut, Senin-Selasa kemarin,” bebernya.

Lebih lanjut, Miq Dedi-panggilan akrabnya- mengatakan begitu ayam diterima sang gadis, biasanya secara bergiliran ayam-ayam tersebut dipotong. Lalu, dikonsumsi bersama sang pemuda. Begitu seterusnya. Pemberian ayam jantan juga, sebagai simbol harga diri seorang pemuda.

Demi ayam jantan, mereka biasanya mati-matian bekerja untuk mendapatkan uang. Ada yang sampai ke luar daerah. Begitu kembali, mereka bisa membawa ayam jantan banyak dan mahal. Sehingga, tidak heran sang gadis bisa-bisa jatuh hati kepada pemuda bersangkutan, walau pun jarang midang.

“Dalam pentas seni itu juga, kami menyuguhkan tradisi berulem yang artinya mengundang. Biasanya dilaksanakan olah satu orang pemuda, tapi diiringi dua perempuan,” sambung tokoh pemuda Desa Marong lainnya Lalu Chandra Yudistira.

Berulem dan ngumbuk, terangnya saling berkaitan. Makna kekinian yang bisa dipetik dari tradisi tersebut yaitu, bagaimana masyarakat menjaga solidaritas, kebersamaan dan kekompakan membangun desa. Yang tidak kalah pentingnya, melestarikan tradisi dan budaya leluhur.

Selain pentas seni ngumbuk dan berulem, tambahnya ada juga pentas seni sorong serah. Termasuk, pementasan seni sasak, cilokak, dayang cilik, wayang kulit, pameran seni rupa, tari-tarian dan drama tradisional Desa Marong. “Alhamdulillah, walau pun banyak hambatan. Pentas seni bisa kami suguhkan dihadapan masyarakat,” ujarnya.(r2)

 

Komentar

Komentar

Tags: