Ketik disini

Headline Praya

Menikmati Pesona Alam Desa Bilebante Lombok Tengah dengan Bersepeda

Bagikan

Menyusuri perkampungan Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata menggunakan sepeda ternyata memberi sensasi berbeda. Anda akan mendapat suguhan yang tak biasa dan dijamin berkesan. Apa yang membuatnya berbeda?

Baiq Faridaa��Praya

 

Wajah Desa Bilebante, tak lagi suram sejak beberapa tahun terakhir. Pemandangan jalan rusak dan berdebu akibat penambangan pasir liar kini seolah sirna. Desa yang berbatasan dengan Kecamatan Kediri, Lombok Barat ini sekarang makin dikenal dengan brand desa wisata hijau (DWH).

Adalah program pertumbuhan ekonomi daerah dan investasi berkelanjutan (SREGIP) yang mampu mengubah desa ini sejak 2015 silam. SREGIP adalah sebuah kerja sama antara Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Deutsche Gesselschaft fir Internationale Zusammernabeit (GIZ) sebagai perwakilan Kementerian Pemerintah A�Jerman untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan (BMZ).

Program ini langsung menyasar masyarakat sekitar untuk fokus mengembangkan model pariwisata berkelanjutan. Melalui Kelompok Sadar Wisata (KSW) Jari Solah, DWH Bilebante mengalami masa keemasannya. Dengan didampingi dan difasilitasi program SREGIP, tim yang mayoritas beranggotakan anak muda menjadi penggerak, pengelola dan pelaksana kegiatan pariwisata di desanya.

Nah kembali ke topik, Lombok Post berkesempatan menyicipi tour wisata sepeda yang menjadi salah satu andalan paket wisata di Bilebante, Selasa (9/5) kemarin. Kebetulan GIZ-SREGIP tengah melaksanakan Familiarization Trip. Paket yang dipilih Family Long Ride yang akan menempuh jalur sekitar 4 kilometer.

Sensasinya luar biasa. Hawa pedesaan yang masih sejuk dan asri sangat terasa. Padahal saat itu kegiatan bersepeda dilakukan saat matahari masih terik, sekitar pukul 15.00 Wita.

Dipimpin beberapa guide anak muda yang merupakan anggota KSW Jari Solah, petualangan wisata sepeda pun dimulai. Di awal perjalanan, Lombok Post bersama rombongan GIZ-SREGIP melewati tepian sungai, persawahan, kebun sayur dan buah milik masyarakat.

a�?Untuk paket jenis ini cocok untuk pemula. Kami ada juga paket adventure ride yang cocok untuk pesepeda intermediate atau menengah,a�? jelas Ketua KSW Pahrul Azim.

Suara derik sepeda yang dikayuh berpacu dengan gemericik air kali yang kami lalui. Sungguh besar anugerah Tuhan yang diberikan untuk desa ini. Panorama alam yang indah berpadu dengan kekayaan alam yang dimiliki.

Decak kagum para pesepeda kembali terbersit ketika kami berhenti di kampung Hindu. Disini lah implementasi toleransi antar umat beragama itu terlihat. Masyarakat Hindu dan muslim hidup berdampingan dengan harmonis.

Para pengunjung bisa melihat langsung cara pembuatan kerajinan anyaman ingke oleh kelompok perempuan. Atraksi kesenian juga dipertontonkan pemuda sekitar dan pengunjung bisa ikut langsung memainkan alat musik tradisional.

Jalur wisata sepeda yang terjal dan sangat menguras tenaga tak juga membuat kami bosan mengayuh pedal. Setelah mengunjungi Pura Lingsar Kelud yang bersejarah, rute sepeda diakhiri di sebuah taman yang disebut Taman Gardena. Pemandangannya sangat asri karena ditumbuhi banyak tanaman. Gazebo mini dan berugak makin menambah kenyamanan lokasi ini.

a�?Ini (Taman Gardena, Red) adalah bekas lokasi galian c yang berhasil disulap menjadi taman cantik. Setiap hari Minggu banyak dikunjungi masyarakat,a�? ujar Pahrul Azim.

Benar-benar sensasi wisata sepeda yang menarik untuk dicoba. Siapkan tenaga, waktu dan anggaran untuk itu. (R2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka